Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 9


__ADS_3

Kemudian dari kedua tebing tinggi, mereka menjatuhkan batu-batu yang berhamburan menimpa biduk kecil itu. Hal ini adalah akal keji dari Tek San yang hendak menghancurkan utusan musuhnya dengan sekali serang.


Saat ini keadaan mereka bertiga dalam biduk itu sangat berbahaya. Datangnya batu-batu yang dilemparkan ke bawah bagaikan hujan. Jika saja biduknya sampai terbalik, sukarlah menolong jiwa penumpangnya di tempat bahaya itu.


Tapi walaupun demikian berbahayanya, Hua Tian masih saja berpeluk tangan dan memejamkan mata, sedangkan Hua Li dan Chen Bun dengan tenang memperlihatkan kepandaiannya.


Hua Li melepaskan ikat pinggangnya yang panjang dan lebar, lalu menggunakan sutera ini untuk diputar sedemikian rupa di atas kepala mereka bertiga, sehingga dari atas putaran sabuk itu merupakan perisai putih berbentuk bundar yang kuat sekali, karena setiap batu yang jatuh menimpa putaran itu akan terpental jauh.


Dengan tenaga dalam yang dialirkan pada sabuk sutera itu, membuat sabuk sutra itu menjadi senjata penangkis yang sangat kuat dapat menangkis setiap batu yang datang menimpa mereka.


Dan Chen Bun dapat bekerja dengan tenang. Dia dayung terus biduk kecil itu lewat di antara batu-batu karang yang menonjol.


Pada akhirnya anak buah Tek San yang menghujani batu itu menghentikan serangan mereka dan kini tiba-tiba di depan biduk kecil itu dihadang puluhan perahu cat warna hitam.


Mereka muncul dari belakang rumput sungai yang tumbuh di kanan kiri sungai. Di tiap perahu duduk empat orang yang semuanya berikat kepala hitam dan berbekal senjata tajam.


"Ayah, tetaplah disini. Kami akan menyambut mereka!" seru Hua Li dengan memandang ke arah Chen Bun.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya, seolah setuju dengan maksud gadis dihadapannya itu.


Hua Tian membuka kedua matanya dan memandang sambil tersenyum.


Putri angkat Hua Tian itu mengambil tombak pendek dan diikatnya dengan tali yang kuat yang sudah tersedia di dalam biduk. Kemudian dengan menjepit tombak itu di antara dua jarinya, dia luncurkan tombak ke bawah. Tombak itu meluncur cepat ke dalam air dan menancap di dasar sungai.


Inilah cara yang diajarkan Hua Tian pada Hua Li untuk melepas jangkar perahu untuk menahan perahu itu hanyut terbawa air.


Sementara itu Hua Tian hanya duduk saja di posisinya dengan seenaknya, sambil memandang sepak terjang kedua muridnya.


Chen Bun dan Hua Li lalu mengeluarkan papan terompah air mereka dan tak berapa lama semua anggota bajak sungai itu bersorak terkejut, pada saat melihat pemuda dan gadis yang di dalam perahu itu kini berlari-lari dengan cepat di atas air menuju ke tempat mereka.


"Wuaahhh....!"

__ADS_1


Memang dari jauh papan di bawah kaki kedua anak muda itu tidak tampak dan mereka seolah-olah berlari atau melayang di permukaan air. Ketika sudah datang dekat, tahulah mereka bahwa kedua anak muda itu menggunakan papan sehingga mereka menjadi takjub sekali.


Sementara dari dalam perahu bajak sungai yang terbesar, berdirilah dua orang yang bertubuh tinggi besar. Seorang di antaranya adalah Tek San yang berpakaian serba hitam dengan golok besar di tangannya, sedang di sebelahnya berdiri seorang laki-laki yang memakai pakaian yang berwarna merah yang menebarkan pandangannya ke permukaan sungai dengan mulutnya tersenyum menyeringai.


Kedua orang ini biarpun kagum juga melihat pertunjukan jurus meringankan tubuh yang luar biasa ini, namun mereka tetap tidak mau memperlihatkan kekagumannya di saat berada diantara anak buahnya.


"Hai, kalian anak-anak muda yang berada di depan! apakah utusan dari Chen Kun?"


Terdengar Tek San membentak dengan angkuhnya dan berkacak pinggang.


"Kami memang utusan beliau." jawab Chen Bun dengan tegas.


"Kedatangan kami ini untuk menyeret sampah buaya yang mengotori perairan sungai kuning!" seru Hua Li yang menatap Tek San dengan tajam.


Kata-kata ini disambut oleh luncuran enam batang tombak ke arah kedua anak muda itu dari kanan kiri.


"Ohw lumayan juga!" seru Hua Li dan Chen Bun yang bersamaan.


Kemudian Hua Li menggunakan kedua tangan menangkap dua batang tombak dan tombak ke tiga yang menyerang perutnya ia tendang hingga terpental ke atas dan ketika tombak itu meluncur turun, ia sabet dengan tombak yang terpegang olehnya hingga meluncur cepat kembali ke tempat ia dilepas dan menancap ke sebuah perahu dengan kencangnya.


Tentu saja ketangkasan kedua anak muda itu sungguh tak disangka oleh mereka semuanya.


"Wuaaaah.....!"


Dan kembali dari mulut para anak buah bajak itu terdengar seruan kagum.


"Siapakah diantara kalian berdua yang bernama Tek San?" tanya Hua Li yang menatap ke arah kedua lawannya.


"Aku adalah Tek San dan ini adalah kakak seperguruan ku Lauw Seng!" jawab Tek San dengan menyengir kuda.


Dan tak lama disambut oleh Chen Bun dan Hua Li dengan lontaran tombak di tangan mereka. Hua Li melontarkan tombaknya ke arah perahu yang memuat pelontar tombak yang menyerangnya tadi, sedangkan Chen Bun pun menggunakan sebatang tombak untuk mengirim kembali kepada penyerangnya tadi.

__ADS_1


Lemparan mereka jauh lebih cepat dan hebat daripada tadi, juga gerakan mereka sangat cepat hingga tidak terduga, maka segera terdengar teriakan-teriakan ngeri dari kedua perahu itu yang menyatakan bahwa serangan itu mendatangkan korban.


Kemarahan Tek San melihat hal ini pun tak terbendung lagi, Kemudian dia perintahkan anak buahnya untuk mendayung maju biduk mereka.


"Bangsat kecil tak tahu diri! Kalau belum mampus kalian kena golok ini aku belum akan puas!" seru Tek San sambil menggunakan golok untuk menuding ke arah Hua Li dan Chen Bun.


"Kau yang bangsat besar dan bermulut besar pula! Terimalah tombak ini!" seru Chen Kun seraya melempar tombaknya ke arah Tek San dengan keras.


Tetapi laki-laki yang memakai pakaian hitam itu sangat tangkas dan kuat, karena dengan goloknya yang berat dan besar dia tangkis tombak itu hingga meleset ke pinggir dan masuk ke dalam air.


Melihat kepala mereka mulai beraksi, semua perahu bajak bergerak cepat dan mengurung kedua anak muda itu.


"Bangsat-bangsat kecil, sebelum darahmu mengalir dengan air Sungai kuning, beritahukan dulu apa nama kalian!" teriak Tek San.


"Baiklah akan aku sebutkan namaku, biar kau tak mati secara penasaran!" seru Chen Bun dengan mengulas senyumnya.


"Dasar bangsat kecil! sombong sekali kau!" seru Lauw Seng dengan geramnya.


"Ha...ha...ha...! Dengarkanlah baik-baik, aku adalah Chen Bun, putera dari Chen Kun si ketua perguruan Bambu Kuning, dan aku datang mewakili Ayahku!" seru Chen Bun memperkenalkan dirinya seraya tertawa terbahak-bahak.


"Dan aku adalah Hua Li putri dari Hua Tian yang juga ketua sebelum paman Chen Kun. Kami datang hendak menangkap kalian dasar buaya sungai berkepala busuk!" seru Hua Li dengan geramnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2