Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 114


__ADS_3

Gadis itu sama sekali tidak berkedip memandang ke arah Hua Li dengan mata yang tajam. Tangannya tertahan dan dia menggeleng kepala keras-keras, lalu menoleh ke arah Coa Siang yang sudah siuman akan tetapi tidak mampu bergerak. Dia mendapatkan gagasan yang luar biasa untuk melampiaskan hatinya.


"Tidak, aku tidak akan membunuhmu! Bahkan aku tidak akan membunuh dia. Biar kalian akan merasakan apa yang pernah kurasakan." kata Hua Li yang menatap kedua orang anak muda itu secara bergantian.


Setelah berkata demikian, dua kali tangannya bergerak dan dia sudah menepuk leher kedua orang muda itu yang seketika menjadi pingsan kembali.


Hua Li memasukkan satu persatu kedua anak muda itu ke dalam pondoknya. Setelah selesai dia mengambil bekalnya dan kemudian Hua Li melesat meninggalkan tempat itu.


Beberapa jam kemudian Coa Siang siuman dari pingsannya dan merasa betapa tubuhnya panas, bukan panas yang menganggu, melainkan panas yang hangat dan nyaman. Kepalanya agak pening, akan tetapi bukan kepeningan yang tidak enak, seperti peningnya orang mabuk.


Telinganya seperti mendengar suara merdu. Dia membuka mata dan silau ketika matanya bertemu dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela yang terbuka.


Ada yang membuat jantungnya berdenyut dan gairahnya memuncak. Ketika dia mendengar suara disebelahnya, napas orang.


Dia cepat menengok kekanan dan disitu, dekat sekali dengan dia, dia melihat seorang gadis yang amat cantik jelita, tubuhnya mulus karena tubuh itu tidak tertutup apa-apa.


Gadis itu juga seperti orang bangun tidur, memandang kepadanya dengan heran, akan tetapi sepasang mata itu meredup dan sayu seperti mata orang mengantuk, dan mulut yang setengah terbuka itu membentuk senyum menantang, Coa Siang mendapat kenyataan bahwa bukan hanya wanita muda itu yang telanjang bulat, juga dia sendiri tidak berpakaian.


Dan mereka berdua dalam keadaan tanpa pakaian, berada di dalam pondok yang jendelanya terbuka, dari mana sinar matahari masuk dengan indah dan hangatnya, dan mereka berdua rebah diatas sebuah pembaringan kayu yang kokoh kuat.


Keduanya saling pandang dan gairah berahi mereka memuncak, tak mungkin dapat ditahan lagi, dan tanpa bicara keduanya lalu saling rangkul, saling dekap dengan mesra dan panas. Tak ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu mencegah apa yang terjadi diantara mereka.


Coa Siang dan Cu Ming seperti dikuasai nfsu berahi yang berkobar, tak mampu mempergunakan akal budi lagi, ingatan mereka seperti terapung di atas samudera luas yang indah menghanyutkan, seperti terbang melayang diantara awan-awan dia nagkasa dan mereka pun hanyut, tidak dapat mempertahankan diri karena tidak ada lagi yang dapat diingatnya kecuali melaksanakan hasrat yang berkobar.

__ADS_1


Mereka seperti dua orang kehausan di padang pasir, yang sudah hampir mati kehausan, lalu tiba-tiba mendapatkan air yang jernih dan sejuk. Mereka minum dan meneguk air sejuk itu tanpa mengenal puas, sampai akhirnya keduanya terhempas dan terengah-engah diatas pembaringan itu, lalu tertidur pulas seperti pingsan, tubuh penuh keringat.


Tak kurang dari tiga jam Coa Siang dan Cu Ming tidur tertelentang, sebelah menyebelah, tanpa pakaian sama sekali, tidur nyenyak seperti pingsan. Mereka sama sekali tidak tahu betapa ada byangan orang masuk dan melemparkan pakaian mereka keatas pembaringan dekat tubuh mereka, lalu bayangan itu menghilang lagi.


Mereka terbangun hampir berbarengan. Coa Siang yang lebih dulu bangun dan mengeluh karena kini dia merasa kepalanya pening, kepeningan yang menyakitkan, dan tubuhnya terasa lelah sekali.


Keluhannya ini seperti menggugah Cu Ming gadis ini pun terbangun. Seperti Coa Siang, ia pun merasa pening dan matanya berkunang. Akan tetapi, mereka dapat mengetahui kehadiran masing-masing, dan ketika membuka mata melihat betapa mereka telanjang bulat, bersama berada di dalam pondok diatas senbuah pembaringan, keduanya terkejut bukan main.


Cu Ming mengeluarkan jeritan tertahan, seperti kilat cepatnya menyambar pakaiannya yang ada didekatnya dan menutupi dada dan pahanya, matanya mengeluarkan kilat yang menyambar kearah Coa Siang yang juga berusaha menutupi perutnya dengan pakaiannya.


Keduanya saling pandang, terbelalak dan ketika Cu Ming melihat noda-noda merah diatas pembaringan, tahulah ia pa yang terjadi dengan dirinya. Ia mengeluarkan jerit tertahan, dan tangannya menyambar kedepan, kearah kepala Coa Siang yang juga terkejut dan terheran setengah mati, sudah dapat melempar tubuh ke bawah pembaringan sambil membawa pakaiannya dan dengan beberapa loncatan dia sudah keluar dari pondok itu.


Dengan tergesa-gesa dia mengenakan pakaiannya, memeras otak untuk mengingat apa yang telah terjadi dengannya dan dengan gadis itu.


Bagaimana mereka tahu-tahu berada di dalam pondok, diatas pembaringan dalam keadaan bugil dan telah terjadi hubungan diluar kesadaran mereka.


"Wuuuuuutttttt...!"


Kini Cu Ming meloncat keluar, dalam keadaan sudah berpakaian. Kedua pipinya basah air mata dan mukanya pucat, matanya mencorong ketika ia memandang kepada Coa Siang.


Lalu ia menuding pemuda itu dengan telunjuknya dan membentak.


"Jahanam, keparat kau. Kau.....! kau harus menebus dengan nyawamu!" bentak Cu Ming.

__ADS_1


Akan tetapi Coa Siang sudah merenungkan peristiwa itu. dia memang terkejut dan batinnya terguncang namun tidaklah sehebat guncangan batin yang diderita oleh Cu Ming maka pemuda ini dapat lebih dahulu menenangkan batinya dan dapat merenungkan dan mengingat-ingat peristiwa yang telah terjadi itu.


"Nanti dulu, nona. Harap nona suka bersabar dulu sebelum menyerang aku, dan marilah kita bicara dengan kepala dingin. Percayalah, aku bersumpah bahwa aku tidak melakukan seperti apa yang kau sangka. Kita sama-sama berada dalam keadaan tidak sadar dan seperti dalam mimpi kita bersama melakukan hal itu, kita telah masuk perangkap musuh, Nona."kata Coa Siang.


Cu Ming mengerutkan alisnya dan menghapus air mata dengan punggung tangan kirinya.


 "Apa...! apa maksudmu?" tanyanya, heran dan samara-samar ia teringat akan "mimpi" itu, betapa pemuda itu sama sekali tidak memperkosanya, melainkan betapa keduanya melakukan hubungan dengan mesra, dengan suka rela.


"Harap kau suka bersikap tenang, Nona. Sekali lagi, percayalah bahwa aku tidak melakukan hal keji seperti yang kau sangka. Nah, mari kita ingat-ingat, kita berdua telah roboh tertotok oleh musuh besar kita, Hua Li? Kita tidak berdaya dan aku sudah menduga bahwa kita tentu akan dibunuh, setidaknya aku aku akan dibunuh, seperti yang terjadi pada tiga belas orang saudara seperguruanku. Kemudian, ketika jahanam itu mengetuk leherku aku tidak ingat apa-apa lagi. Dan tahu-tahu aku terbangun, aku merasa seperti dalam mimpi, di dalam pondok diatas pembaringan itu, dalam keadaan tanpa pakaian! Dan kau pun disana dalam keadaan yang sama lalu kita. Kita.. ah, seperti dalam mimpi saja, nona. Kemudian, tadi aku terbangun, sadar dan kepalaku pening dan kudapati engaku lalu kau menyerangku! Nah, aku berani bersumpah bahwa seperti itulah kejadiannya." jelas Coa siang.


Cu Ming, yang mukanya berubah merah sekali karena teringat betapa ia telah menyerahkan diri bulat-bulat dan dengan suka rela kepada pemuda ini, betapa ia dirangsang oleh gairah yang memuncak, kini juga mengingat-ingat dan ternyata bahwa apa yang dialaminya persis seperti yang diceritakan pemuda itu kepadanya.


Sampai lama ia termenung, kemudian ia menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2