Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 262


__ADS_3

Sementara ayah bersama puteranya dari Pulau Hiu itu segera terdesak dan dua sinar pedang mereka terimpit oleh sinar suling yang menjadi semakin kuat.


Sejak tadi Kok Sian menonton dengan hatinya yang panas, ketika melihat muridnya San Bo yang tadi terlempar ke bawah panggung.


Walaupun tidak menderita luka parah, namun peristiwa itu tentu saja merupakan suatu tamparan yang memalukan bagi dia sebagai gurunya.


Koan Bok sudah maju menghadapi pemuda pengacau itu, dia merasa tidak enak kalau harus berdiam diri. Pertama, dia harus memperlihatkan setia kawan dan membantu aliran Bumi dan Langit, yang ke dua dia harus membalaskan penghinaan atas diri muridnya tadi.


Sekali meloncat Kok Sian sudah terjun ke medan perkelahian sambil menggerakkan sepasang goloknya. Dia seorang yang mengandalkan keahlian bersilat sepasang golok.


Hong Lan dengan cepat menangkis ketika ada sinar golok menyambar. Terdengar suara nyaring dan nampak bunga api berpijar dan Kok Sian terkejut sekali karena tangkisan suling itu hampir saja membuat golok kanannya terlepas dari tangannya.


"Tunggu dulu! Siapakah Paman yang ikut menentangku? Apakah seorang tokoh dari aliran Bumi dan Langit?" tanya Hong Lan.


"Aku Kok Sian dari Pegunungan Liong san, seorang tamu yang tidak saja melihat orang mengacau dalam pesta tuan rumah!" jawab Kok Sian sambil menyerang lagi.


Koan Bok dan Koan Tek juga sudah menerjang maju dengan marahnya.


"Ha....ha...ha...!!sekarang mulai keroyokan!" seru Hong Lan yang tertawa.


"Akan tetapi, aku pingin menarik Raja Pegunungan Liong, san sebagai sahabat, bukan menjadi musuh. Baik, aku melayani kalian bertiga main-main sebentar!" seru Hong Lan.


Setelah berkata demikian, Hong Lan kembali bergerak cepat dan tubuhnya lenyap menjadi bayangan yang dibungkus gulungan sinar sulingnya.


Tiga orang lawannya terkejut dan bingung, namun mereka menyerang membabi-buta ke arah bayangan itu. Hong Lan tidak mau main-main lagi. tiga orang pengeroyoknya ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan tiga orang pemuda yang pertama kali mengeroyoknya.

__ADS_1


 Apalagi sekarang mereka itu memegang senjata dan dia tidak ingin melukai mereka. Terpaksa dia harus mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk berkelebatan, menghindarkan diri dari sambaran senjata mereka dan membalas dengan totokan-totokan yang dapat merobohkan akan tetapi tidak sampai mematikan atau melukai dengan parah.


Wajah Lui Seng berubah agak pucat. Dia tahu bahwa tingkat kepandaian Koan Bok atau Kok Sian tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri.


Pemuda pengacau itu ternyata tidak membual saja. Dia sungguh lihai bukan main. Jelaslah baginya bahwa kalau dia seorang diri saja menghadapi pemuda itu, dia tentu akan kalah.


Demikian juga dengan Mo Li yang mengerutkan alisnya. Pemuda itu sungguh lihai sekali. Ia sendiri tentu akan kewalahan kalau menghadapi pengeroyokan tiga orang itu. Akan tetapi pemuda itu enak-enak saja, nampaknya bukan hanya dapat mendesak tiga orang pengeroyoknya, juga seperti mempermainkan mereka.


Lui Sengbmemberi isyarat kepa Mo Li untuk maju mengeroyok lawan yang berbahaya itu. Mo Li mengerutkan alisnya. Bagi iblis betina ini sungguh memalukan kalau sebagai seorang pangcu ia harus mengeroyok seorang pemuda.


 Apalagi, nama Mo Li sudah terkenal di seluruh dunia persilatan. la pun percaya akan kepandaiannya sendiri yang masih lebih tinggi dibandingkan Lui Seng.


Akan tetapi karena yang mengajaknya adalah rekannya, ia merasa tidak enak untuk menolak dan mereka berdua sudah bangkit berdiri lalu berloncatan ke tengah panggung.


Melihat betapa dua orang ketua itu sudah maju, diam-diam Hong San merasa ragu juga. Dia tidak takut kepada mereka, akan tetapi bagaimana kalau mereka nanti mengerahkan seluruh anak buah aliran Bumi dan untuk mengeroyoknya.


"Lui Seng dan Mo Li! Kalian berani menentangku? Lihat baik-baik, siapa aku ini!" seru Hong Lan yang tiba-tiba tubuh pemuda itu lenyap menjadi sesosok bayangan yang meloncat kebelakang meja sembahyang dan menghilang dibalik patung Raja iblis.


 Ketika lima orang pengeroyok itu hendak menjenguk ke balik meja, tiba-tiba terdengar ledakan dan nampak asap tebal menutupi patung dan meja sembahyang. Semua orang terkejut bukan main dan mereka terbelalak memandang ke arah asap tebal.


Perlahan-lahan asap itu membuyar, nampaklah betapa patung sebesar orang itu sudah berdiri di atas meja sembahyang! Atau lebih tepat, patung itu masih berada di tempatnya yang tadi akan tetapi ada kembarannya yang kini mendadak hidup dan berdiri di atas meja!


Wajah Lui Seng menjadi semak pucat. Hanya gurunyalah yang mampu mengubah diri menjadi Raja iblis. Maka, tanpa ragu lagi dia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas panggung menghadap ke arah "patung hidup" di atas meja sembahyang itu, sambil menangguk-anggukkan kepala ke atas lantai panggung.


"Hamba Lui Seng mengaku bersalah, mohon ampun ......!"

__ADS_1


Mo Li terkejut, demikian pula seluruh anggauta aliran Bumi dan Langit. Kalau ketua aliran sendiri sudah begitu menghormati mahluk itu mereka tidak ragu lagi bahwa tentu itulah penjelmaan Raja iblis


Mo Li dan para anggota juga segera menjatuhkan diri berlutut menghadap patung hidup itu. Para tamu juga terkejut dan mereka semua bangkit berdiri, tidak menjatuhkan diri berlutut namun berdiri dengan sikap hormat. Koan Bok, Koan Tek, dan Lui Siang juga cepat mundur dan berdiri dengan sikap hormat dan bingung.


Mereka juga heran sekali melihat betapa patung itu kini menjadi dua dan yang sebuah lagi hidup! Memang patung hidup itu mengenakan pakaian seperti yang dipakai pemuda pengacau tadi, akan tetapi wajahnya jelas berubah menjadi wajah Raja Iblis.


Tadinya mereka menduga bahwa tentu pemuda pengacau itu yang mengenakan kedok, akan tetapi setelah mengamati penuh ketelitian, mereka mau percaya bahwa itu bukan semacam topeng, melainkan wajah yang sesungguhnya karena wajah itu hidup, tidak mati seperti topeng atau kedok!


Kini patung hidup itu mengembangkan kedua lengannya ke depan dan terdengar suaranya, suara yang parau besar dan dalam, tidak seperti suara pemuda tadi. Suaranya aneh dan penuh wibawa.


"Para pemujaku, dengarlah baik-baik dan taati perintahku! Hong Cu telah kupanggil karena aku membutuhkannya dalam kerajaanku! Dan aku menunjuk puteranya, Hong Lan, kini menjadi penggantinya memimpin kalian semua!"


Tiba-tiba terdengar lagi ledakan dan nampak lagi asap hitam tebal. Ketika asap menbuyar, patung hidup itu sudah lenyap dan yang nampak adalah Hong Lan yang sudah berdiri di atas meja sembahyang.


Dengan gerakan indah pemuda itu melompat turun dari atas meja, menghadapi Lui Seng dan Mo Li


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2