
Ketika keduanya turun, semua orang melihat betapa pundak Hong Lan berdarah, bajunya robek. Dia telah terluka karena pundak kirinya diserempet pedang yang nyaris membabat lehernya.
Dengan wajah pucat Hong Lan memandang Hok Cu, keringat membasahi dahinya. Hampir dia tidak dapat menerima kenyataan ini. Dia telah dikalahkan oleh seorang gadis muda.
Hampir tak masuk akal, tetapi dia tahu kalau dilanjutkan pasti dia akan kalah. Bisa dipastikan kalau dia akan roboh dan tewas di tangan gadis cantik jelita yang amat lihai itu.
Tanpa malu-malu lagi dia menoleh kepada para pimpinan perguruan Serigala emas dan sekutunya.
"Kawan-kawan, mari kita bunuh mata-mata pemerintah ini!" seru Hong Lan
Seketika itu juga Gan Lok memberi isyarat kepada kawan-kawannya, lalu dia sendiri sudah mengeluarkan senjatanya yang dahsyat, yaitu sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya, dan pada gagang golok itu terpasang rantai.
Begitu tangan kanannya memegang golok, tangan kirinya tiba-tiba bergerak ke arah pinggangnya dan begitu tangan itu membuat sentakan tiba-tiba tiga batang pisau terbang menyambar ke arah leher, dada dan perut Hok Cu.
Pisau-pisau terbang itu menjadi tiga sinar emas yang meluncur cepat dan mengeluarkan bunyi berdesing. Bukan main berbahayanya serangan itu dan nama besar ketua ini pun karena pisau-pisau terbangnya.
Biarpun ia bersikap tenang dan waspada, tak urung Hok Cu terkejut juga, ketika ada tiga sinar meluncur cepat menyambar tubuhnya di tiga bagian itu.
Dengan cepat gadis itu memutar pedang tumpulnya menjadi gulungan sinar seperti perisai lebar menutupi tubuhnya. Terdengar suara berdentingan dan tiga buah pisau terbang, dan itu pun terpental ke kanan kiri.
"Trang.....Trang.... Traangg....!"
Tiba-tiba ada sinar putih yang terang menyilaukan telah menyambar dari depan. Kembali Hok Cu harus memutar pedangnya menangkisnya kembali, dia belum pernah berhadapan dengan senjata golok seperti itu.
Pedang tumpulnya dapat disambitkan seperti golok terbang dan kalau ditangkis lawan atau dielakkan, golok itu dapat ditarik kembali dengan rantai yang diikatkan pada gagangnya. Sungguh merupakan senjata yang berbahaya sekali.
Kemudian para anggota perguruan Serigala emas juga sudah maju menyerang, dan berturut-turut ketiga orang yang berpakaian serba kuning dan para pembantu lainnya juga ikut mengeroyok.
Beruntungnya Hok Cu yang tadi mempergunakan perhitungan yang tepat, karena sudah khawatir akan terjadinya pengeroyokan sehingga ia memilih tempat yang penuh pohon itu, bukan di tempat terbuka.
Kalau ia harus menghadapi pengeroyokan seperti itu di tempat terbuka, tentu tidak akan mampu bertahan terlalu lama. Akan tetapi, dengan adanya pohon-pohon itu, ia dapat menyelinap di antara pohon-pohon dan pengeroyokan itu tidak dapat terlalu ketat karena tubuhnya terlindung dari serangan yang datang dari belakang pohon.
__ADS_1
Jurus meringankan tubuhnya yang baik sekali membuat tubuhnya bagaikan seekor tupai yang berloncatan dan menyelinap di antara pohon-pohon dan berputaran di situ.
Dengan akal seperti itu, untuk sementara ia mampu mempertahankan diri, bahkan mampu kadang-kadang membalas serangan para pengeroyok.
Akan tetapi agaknya tidak ada kemungkinan sama sekali baginya untuk meloloskan diri dari kepungan.
"Nona manis, lebih baik kau menyerah dengan tubuh yang mulus dan utuh dari pada harus menyerah dengan tubuhmu hancur dan nantinya akan jadi makanan burung gagak!" seru Hong Lan yang mulai tertawa-tawa lagi dengan senangnya.
Hok Cu tak menggubrisnya, tapi menjawab ejekan ini dengan tusukan kilat dari balik pohon yang membuat Hong Lan harus cepat meloncat ke belakang. Hok Cu tidak mampu mengejar karena begitu ia muncul dari balik pohon itu, empat batang senjata yang sudah siap telah menyambarnya dari berbagai penjuru.
Gadis itu meloncat dan cepat menyelinap kembali ke balik sebatang pohon besar, menghadapi serangan tiga orang pengeroyok lain dan bagian belakangnya terlindung sebatang pohon yang besar.
Walaupun keadaan tempat perkelahian yang penuh pohon-pohon besar itu membantunya, tetap saja Hok Cu terdesak terus dan tidak mungkin dapat melepaskan diri dari kepungan yang ketat.
Keadaannya berbahaya sekali karena dianggap sebagai mata-mata pemerintah yang harus dibunuh, karena kalau tidak akan merupakan bahaya besar bagi persekutuan pemberontak itu.
"Tring.... tring... tranggg......!"
Kembali Hok Cu berhasil menangkis dan memukul runtuh tiga batang pisau terbang yang dilontarkan Gan Lok, ketua perguruan Serigala emas.
"Trang... Trang.... Tranggg....!"
Kembali terdengar suara dentingan nyaring dan nampak bunga berpijar ketika pedangnya berhasil menangkis tiga serangan itu sekaligus. Tapi ketika dia menyelinap ke belakang pohon, ia agak terhuyung karena kakinya tersandung akar pohon.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Hong Lan untuk menyerangnya dengan capingnya yang lebar. Caping itu dilontarkannya, berputar dan menuju ke arah Hok Cu.
"Wuuutt....wuuutt.....wuuutt....!"
Ketika gadis itu menggerakkan pedangnya untuk menangkis, caping itu terpental akan tetapi pada saat itu, pedang di tangan Hong Lan sudah menusuk ke arah tenggorokan Hok Cu.
Gadis itu sangat terkejut akan tetapi masih sempat merendahkan tubuh dan miring.
__ADS_1
"Srttttt!"
Bajunya di pundak kiri robek dan pundaknya terluka sedikit, lecet dan berdarah. Sementara itu pedang di tangan Hong Lan yang menyerempet pundak itu menancap pada batang pohon.
Kesempatan ini digunakan oleh Hok Cu untuk menyerang, dari kanan kiri sudah datang dengan bertubi lagi. Terpaksa Hok Cu mengurungkan niatnya menyerang Hong Lan dan sebaliknya ia meloncat lagi ke pohon lain di mana kembali ia telah diserbu. Hok Cu mulai kelelahan, tenaganya sudah terkuras banyak.
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan muncul seorang pemuda tinggi besar yang berpakaian sederhana. Tangannya memegang sebatang ranting kayu, akan tetapi begitu dia memutar ranting kayu itu menyerang tiga orang yang sedang mendesak Hok Cu.
Tiga orang itu terhuyung ke belakang karena dari ranting kayu itu menyambar hawa pukulan dahsyat sedangkan ujung ranting nampak berubah menjadi belasan batang menyambar-nyambar dengan totokan maut ke arah jalan darah di tubuh mereka.
"Nona, cepat lari dan naik ke atas pohon!" seru Pemuda Tinggi Besar itu sambil memutar tongkatnya untuk melindungi.
Begitu tongkat diputar, timbul angin yang dahsyat dan terdengar suara bersiutan mengejutkan.
"Suuuiiiit.....!"
Hok Cu baru sadar bahwa jalan satu-satunya memang melarikan diri lewat pohon-pohon itu.
"Oh, kenapa tadi aku tidak memikirkan hal ini?" gumam dalam hati Hok Cu.
Pohon-pohon di situ besar dan bagian atasnya seperti sambung-menyambung, maka dengan jalan berloncatan dari pohon ke pohon, lebih besar harapan untuk melarikan diri.
Karena ia sudah merasa kewalahan menghadapi pengeroyokan orang sedemikian banyaknya dan kesemuanya lihai, tanpa berpikir panjang lagi Hok Cu segera mengerahkan jurus meringankan tubuhnya untuk melayang ke atas pohon.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...