
Bagaimanapun juga, mereka itu adalah bangsa kita sendiri, jadi jangan sembarangan membunuh mereka. Musuh utama kita adalah penjajah Mongol. Kalau kita sudah berhasil mengenyahkan penjajah, kuyakin kehidupan rakyat kita akan dapat membaik dan kejahatan pun pasti berkurang." ucap Liu Ceng.
"Adik Yauw, bagaimana kalau kita bertemu pasukan Kerajaan Mongol? Apa yang akan kaulakukan?" tanya Liu Hong yang menatap Yauw Lie.
"Tentu bodoh sekali kalau kita menyerang pasukan yang besar jumlahnya, sama dengan bunuh diri. Akan tetapi kalau ada pasukan kecil mengganggu kita, sudah sepatutnya kita basmi mereka." jawab Yauw Lie yang bukan hanya bicara saja untuk menyatakan permusuhannya dengan Pemerintah Mongol.
Dalam perjalanan mereka, setiap kali mereka berada di kota atau desa di mana terdengar ada pembesar Mongol yang sewenang-wenang, gadis itu pasti turun tangan memberi hajaran keras.
Tiga orang muda itu tiba di bagian Selatan perguruan Ular kobra. Hari telah menjelang senja ketika mereka memasuki sebuah dusun di dekat perguruan ular kobra. Dusun yang cukup ramai dan memiliki banyak penduduk.
Dusun-dusun yang mereka lewati selama ini terdiri dari dusun-dusun kecil dan sepi. Dan sekarang mereka memasuki dusun yang cukup besar dan ramai, dan terdapat rumah penginapan berikut rumah makannya.
Setibanya di depan rumah penginapan, Liu Hong melompat turun dari atas kudanya, diikuti Yauw Lie dan Liu Ceng.
Tiga orang pelayan rumah penginapan segera menyambut dan mengurus tiga ekor kuda itu yang mereka bawa ke kandang kuda di pekarangan belakang rumah penginapan. Rumah penginapan itu memang mempunyai banyak pelayan untuk melayani para pedagang yang bermalam di situ. Seorang pelayan setengah tua menyambut mereka dengan sikap hormat dan ramah.
"Selamat datang di rumah penginapan kami, tuan muda dan nona. Apakah Anda ertiga ingin menyewa kamar?" tanya pelayan itu.
"Ya, cepat siapkan sebuah kamar biasa dan sebuah yang agak besar untuk aku dan Enciku, akan tetapi pilih kamar yang paling bersih, ganti semua tilamnya dengan yang baru dan bersih!" kata Liu Hong dengan sikap lantang dan memerintah.
"Baik, tuan muda dan nona, akan kami siapkan sekarang," kata pelayan itu dengan sikap hormat.
Liu Hong lalu mengambil sekeping uang dari balik ikat pinggangnya dan memberikan kepada pelayan itu. Pelayan itu menerima dengan mata terbelalak karena hadiah ini amat banyak dan tidak seperti biasanya para tamu memberi hadiah setelah akan meninggalkan penginapan.
"Jangan lupa, sediakan air yang banyak untuk kami mandi, setelah itu siapkan makan malam dengan lauk-pauk komplit dari rumah makan," perintah Liu Hong.
__ADS_1
"Baik-baik, akan kami siapkan semua," kata pelayan itu yang lalu membawa mereka kedua buah kamar yang kosong. Dia memerintahkan pelayan lain untuk segera mengganti tilam-tilam di kedua kamar itu, bahkan menyuruh bersihkan lantai dan semua perabot dalam dua kamar itu.
Tiga orang muda itu lalu mandi dan bertukar pakaian, lalu mereka makan hidangan yang sudah disediakan.
"Wah, kau royal sekali adik Hong! dan engkau minum banyak sekali arak. Akan tetapi kulihat engkau sama sekali tidak mabok!" seru Liu Ceng.
"Ih, kakak Ceng, kalau putera Pulau Ular mabok oleh minuman arak, sungguh memalukan! Bukankah engkau juga sama sekali tidak tampak mabok setelah minum cukup banyak pula? Lihatlah adik Yauw itu! wajahnya merah seperti kepiting direbus, he...he...he....!" balas Liu Hong.
Yauw Lie yang memang merah mukanya karena melayani dua orang pemuda yang amat kuat minum arak itu.
"Ha ..ha...! tentu saja aku tidak dapat menandingi kalian, ketika kecil dan menjadi gadis remaja, aku hidup di antara pertapa dan pendeta, sama sekali tidak diperbolehkan minum arak. Kalian berdua tentu saja kuat minum. Kakak Ceng seorang ahli pengobatan, tentu sebelumnya sudah menelan obat penjaga mabok, demikian pula engkau, kakak Hong. Pulau Ular terkenal dengan racun-racunnya yang berbahaya, tentu saja engkau dapat mengatasi pengaruh racun arak yang bagimu kecil tidak ada artinya itu!" kata Yauw Lie dan dari suaranya yang ringan, dua orang pemuda itu dapat mengetahui bahwa gadis itu sudah mabuk.
Mereka berdua tertawa walaupun tawa Liu Ceng tidak selebar dan selantang Liu Hong.
"Maaf, adik Yauw, kami hanya berkelakar, bukan mentertawakanmu!" kata Liu Hong.
Pada keesokan harinya mereka mendapat keterangan bahwa di atas bukit di depan, yaitu Bukit Tengkorak, terdapat pusat Perkumpulan Pengemis Tongkat Merah.
Kemudian mereka bertiga berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Karena Pengemis Tongkat Merah bisa satu di antara golongan yang kuat dan mungkin menjadi pencuri harta karun, maka mereka sudah mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan kepada perkumpulan pengemis yang terkenal memiliki cabang di mana-mana itu.
Pagi-pagi sekali tiga orang muda itu sudah keluar dari rumah penginapan dan berada di jalan umum depan rumah penginapan merangkap rumah makan itu. Tadi, mereka sudah sarapan bubur yang disiapkan oleh pelayan.
Sepagi itu, jalan umum di depan rumah penginapan itu sudah ramai dengan orang-orang yang lalu-lalang. Mereka adalah orang-orang yang memikul barang dagangan berupa hasil bumi daerah itu.
Selagi mereka berdiri di tepi jalan, memandang ke arah Bukit tengkorak yang menurut keterangan menjadi markas para pengemis, mereka melihat serombongan orang berpakaian tambal-tambalan, pakaian pengemis, berbondong pergi ke arah timur.
__ADS_1
Mereka terdiri dari lima orang berpakaian tambal-tambalan dan masing-masing memegang sebatang tongkat yang berwarna merah. Mudah saja bagi Yauw Lie untuk menduga bahwa mereka berlima itu tentulah para anggauta perkumpulan pengemis tongkat merah.
Karena mereka memang berniat mengunjungi dan menyelidiki keadaan perkumpulan pengemis itu, maka lima orang itu menarik perhatian mereka. Dengan saling pandang saja, ketiganya bersepakat untuk membayangi lima orang pengemis itu.
Usia lima orang itu antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun. Biarpun di antara mereka, yang tiga orang bertubuh kurus seperti kebanyakan pengemis, sedangkan yang dua orang sedang-sedang saja, namun mereka itu sungguh jauh berbeda dari pengemis biasa.
Pakaian mereka memang tambal-tambalan, namun bersih dan mudah diduga bahwa mereka tentu sering bertukar pakaian. Sepatu mereka yang berwarna hitam juga tidak butut seperti pengemis biasa.
Gerak-gerik mereka ketika mereka berjalan tergesa-gesa itu pun membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak lemah. Terutama sekali tongkat mereka yang berwarna merah itu mencolok dan membuat mereka tampak lebih mirip regu yang berpakaian seragam daripada serombongan pengemis.
Juga keberadaan mereka di dusun yang ramai itu agaknya sama sekali tidak menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di jalan umum, hal ini menandakan bahwa kehadiran para pengemis di dusun itu merupakan hal yang biasa.
Sikap penduduk yang tenang saja melihat mereka membuktikan bahwa golongan pengemis itu tidak ditakuti.
Hal ini membuat Yauw Lie dan dua orang pemuda itu mengambil kesimpulan bahwa para pengemis tongkat merah itu bukan golongan yang suka bertindak mengandalkan kekuatan mereka seperti yang dilakukan banyak anggauta perkumpulan yang lainnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...