
"Benar sekali! Sayang ia dikorbankan begitu saja, biarkan kami berdua menikmatinya kalau kalian berdua tidak mau!" seru Tek Su yang mukanya bopeng mendukung saudara seperguruannya.
Dua orang murid dari Kok Sian ini merasa penasaran sekal karena sejak tadi permintaan mereka ditolak oleh dua orang rekan itu. Padahal ketika menculik pemuda dan gadis dari dusun itu, mereka berdua telah membantu.
"Sudah kukatakan sejak tadi, yang ini sama sekali tidak boleh diganggu, pemuda yang dikorbankan harus perjaka tulen seperti juga gadisnya harus perawan tulen. Kalau Suhu mengetahui bahwa gadis itu tidak perawan lagi, tentu kami berdua yang akan menerima hukuman dan kemarahan guru," bantah Siok Boan dengan tegas.
"Bagaimana gurumu akan dapat mengetahuinya? Kita serahkan keduanya dalam keadaan mulus. Percayalah, kami berdua akan berlaku hati-hati sekali. Berikan ia sebentar kepada kami, dan tak lama kemudian akan kami kembalikan ia dalam keadaan utuh!" desak San Bo.
"Benar sekali kata saudaraku! Sayang gadis semanis itu dibiarkan lewat begitu saja tanpa dinikmati. Serahkan ia kepada kami, Saudara Siok Boan!" seru Tek Su yang juga mendesak.
"Kalian ini sungguh nekat! Apakah kalian belum pernah berdekatan dengan wanita maka demikian dekat seperti kelaparan? Masih banyak gadis lain yang dapat kalian tangkap bukan yang ini! Apa sih hebatnya perawan dusun ini? Dibandingkan denga Nona Hok Cu, tentu bukan apa-apanya!" seru Poa Kian, murid ke dua dari perguruan Lui Seng, melangkah maju dengan muka merah. Dia memanggul karung ke dua dan kini dengan sikap marah
"Sudahlah, kalian harus tahu bahwa kita membawa tugas penting dan sekarang kita tentu telah dinanti-nanti oleh para guru. Apakah kalian ingin tugas kita ini gagal hanya karena kalian haus akan gadis ini? adikku benar, masih banyak gadis lain di dunia ini, jangan kalian mengacaukan upacara suci malam ini." kata Siok Boan membujuk dua orang temannya itu.
San Bo dan adik seperguruannya, Tek Su saling pandang dan biarpun mereka merasa kecewa sekali, namun mereka tidak berani memaksa. Kalau mereka memaksa mereka bukan takut untuk bentrok dengan Siok Boan dan Poa Kian, akan tetapi semua tokoh yang menanti dirumah Mo Li tentu akan menyalahkan mereka berdua.
Bahkan para guru mereka pun akan marah kepada mereka. Akan tetapi, penolakan kedua orang murid Ban Sian yang bertindak sebagai pimpinan upacara pengorbanan kepada Raja Setan itu membuat mereka menjadi semakin bergairah kalau mengingat Hok Cu.
Memang, dibandingkan dengan Giok Cu, perawan desa itu tidak ada artinya! Mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan dan hari telah menjadi senja ketika mereka tiba di rumah besar dan mewah itu.
Ternyata para guru telah menanti mereka. Mereka semua telah berkumpul di ruangan berlatih silat yang berada di bagian belakang rumah itu, dengan semua jendela dibuka dan nampak mereka semua telah duduk bersila di atas lantai yang bertilamkan permadani.
__ADS_1
Sementara itu sebagai nyonya Mo Li rumah duduk bersanding dengan Lui Seng yang bertindak sebagai pimpinan upacara kian Sian.
"Raja" Pegunungan Liong-san yang bertubuh tinggi besar seperti seorang raksasa, duduk tak jauh dari nyonya rumah, di sebelah kirinya.
Adapun di sebelah kanan Lui Seng, duduk Siang Lan, majikan Pulau Hiu, disamping puteranya, Siang Koan. Selain tiga orang tokoh sesat yan merupakan tamu kehormatan dari Mo Li, masih ada belasan tokoh s sat lainnya yang sengaja diundang u tuk meramaikan upacara itu dan mereka semua duduk bersila di ruangan silat yang luas itu, membentuk lingkaran punggung mereka dekat dengan dinding.
Di tengah ruangan itu terdapat meja sembahyang yang sudahdipasangi lilin dan bermacam masakan, juga buah-buahan dan bunga-bunga, dandi belakang meja sembahyang itu terdapat sebuah meja lain yang panjangnya dua meter lebarnya satu setengah meter.
Meja itu ditilami kain putih dan di kepala meja itu terdapat dua buah bantal putih! Meja itu agaknya menjadi semacam pembaringan! Hiasan bunga-bunga dan mengepulnya dupa harum, ditambah penerangan yang suram karena hanya penerangan lilin saja sedangkan di luar sudah mulai gelap membuat suasana menjadi menyeramkan.
Apalagi ketika Lui Seng bangkit dari tempat dudukbggvnya. Orang tinggi tegap ini mengenakan pakaian serba hitam dengan kat pinggang putih dan ikat kepala putih pula, tidak bersepatu dan rambutnya ibiarkan riap-riapan sehingga dia kelihatan menyeramkan seperti setan.
Lui Seng Cu yang bertugas sebagai pimpinan upacara itu menambah dupa harum ehingga asap harum mengepul semakin tebal. Di antara para tokoh sesat itu ada yang diikuti oleh para murid atau anak buah yang jumlahnya semua ada dua puluh orang lebih, dan mereka ini duduk bersila pula di belakang guru atau pimpinan mereka.
Pemuda yang tadi pagi hampir mati ia seret ke dalam air lautan itu kini nampak tersenyum-senyum kalau memandang kedadanya, sama sekali tidak kelihatan marah atau mendongkol.
...Juga ayah pemuda itu kelihatan tenang saja saat hati by merasa lega. Jelas bahwa pemuda itu tentu tidak menceritakan peristiwa pagi tadi kepada siapapun juga seperti telah diduganya...
Bahkan ketika pandang mata mereka saling bertemu, Siang koan yang menjadi menjuri dengan tubuh agak dibongkokkan lali tersenyum dan tangannya mengelus perutnya, seolah-olah hendak menceritakai betapa perutnya menjadi tidak enak ka rena menelan banyak air laut!l Giok Cl yang berwatak lincah jcnaka itu tidak dapat menahan geli hatinya dan ia pun menutupi mulut untuk menyembunyikai tawanya, akan tetapi justeru penutupi mulut dengan tangan itu menunjukka bahwa ia merasa geli dan tersenyum
Bagaimana juga, pemuda yang genit mata keranjang dan kurang ajar itu, mempunyai watak yang tidak terlalu buruk dan agaknya tidak pendendam.
__ADS_1
Ataukah karena sedang tergila-gila kepadanya? Atau memang pemuda itu amat mencintanya Wajah Hok Cu terasa panas dan ia tahu bahwa wajahnya tentu menjadi merah maka ia menundukkan muka.
Sebenarnya, apakah yang sedang di lakukan oleh para tokoh sesat di dalam pendekar golongan hitam dari rumah Mo Li, menjawab singkat bahwa akan diadakan suatu upacara penting yang akan dipimpin oleh perguruan cocok Lui Seng, dan bahwa ia tidak perlu banyak bertanya, hanya boleh nonton saja.
"Dan ingat engkau, Hok Cu, apa pun yang terjadi di sini, kau hanya boleh nonton dan sama sekali tidak boleh mencampuri!"seru siang Koan yang .membuat Hok Cu sudah menjadi kecut mendengar pesan ini.
Biasanya, kalau gurunya berpesan seperti itu, tentu akan terjadi hal-hal yang mengerikan. Dulu pernah gurunya itu membunuhi belasan orang yang dianggap musuh dan ia pun sebelumnya sudah dipesan agar jangan mencampuri.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1