
Melihat hal itu, Yauw Lie mengerutkan alisnya. Berbahaya juga bagi dua orang pemuda itu kalau keadaannya terus begitu. .
"Kakak Ceng, kau bagian pertahanan dan kakak Hong di bagian penyerangan!" seru Yauw Lie yang menyarankan.
Kedua pemuda itu menganggukkan kepala dan dia paham apa yang dimaksudkan oleh Yauw Lie.
Gadis itu memang sudah memperhitungkan ketika dia mengamati perkelahian itu. Liu Hong amat ganas dengan penyerangannya, membahayakan lawan. Sedangkan Liu Ceng yang memiliki gerakan luar biasa cepatnya itu, lebih kuat dalam pertahanan.
Hal ini mungkin karena watak lembut dan hati penuh kedamaian itu membuat Liu Ceng tidak terlalu kejam dan bahkan tidak tega untuk membunuh lawan sehingga penyerangannya kurang ganas, tidak seperti Liu Hong yang mengamuk seperti seekor naga yang sedang marah.
Kemudian kedua pemuda itu mengubah cara tata berkelahi mereka. Liu Hong mengamuk dan membagi-bagi serangannya kepada dua orang lawan itu, sedangkan Liu Ceng dengan gerakannya yang cepat membentuk pertahanan dan rantingnya membentuk perisai yang kuat dan yang dapat menahan atau menangkis semua serangan golok dan pedang keduaborang yang memakai pakaian serba hitam itu.
Perkelahian itu semakin seru dan menegangkan. Akan tetapi juga indah ditonton. Menakjubkan sekali melihat bayangan putih Liu Ceng berkelebatan seolah menjadi banyak, berkelebatan di antara bayangan hitam dari laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak hitam itu.
Para anak buah kedua pihak menonton dengan penuh rasa kagum, tegang dan juga terkejut karena semula tidak ada yang mengira bahwa dua orang pemuda itu memiliki kepandaian setinggi itu.
Yang paling terkejut dan juga cemas adalah Laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak hitam itu. Tadi ketika mereka bergabung, mereka hampir yakin akan mampu mengalahkan dua orang pemuda itu.
Akan tetapi sekarang ternyata pertahanan yang dilakukan pemuda yang memakai baju putih yang memiliki gerakan amat ringan dan cepat itu kokoh sekali.
Maka, untuk mencari jalan agar dapat keluar dari desakan Liu Ceng dan Liu Hong, Laki-laki yang berambut putih berseru memberi isyarat kepada anak buahnya.
"Seraaaang....!"
Mendengar isyarat ini, sekitar lima puluh orang anak buah perguruan tengkorak merah bersorak dan mereka maju dengan senjata di tangan, hendak mengeroyok dua orang pemuda itu.
__ADS_1
Tentu saja ketua Kui segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyambut mereka. Dia sendiri juga mengamuk dengan tongkat merahnya.
Anak buah perguruan tongkat merah itu pun maju dua-dua seperti pimpinan mereka melawan anggota tengkorak hitam yang juga maju dua-dua orang.
Terjadilah pertempuran yang seru di antara anak buah kedua pihak. Yauw Lie sendiri hanya menonton karena dia merasa kurang adil kalau dia ikut melawan para anak buah tengkorak Hitam yang tentu saja tidak akan mampu menandinginya.
Kedua orang yang berpakaian hitam tadi yang melawan Liu Hong dan Liu Ceng, rupanya sudah memperhitungkan keadaan.
Ketika beberapa orang anak buah mereka datang membantu, mereka menggunakan kesempatan selagi terjadi kekacauan itu, mereka melompat jauh ke belakang dan melarikan diri.
"Bedebah! kalian hendak lari ke mana!" seru Liu Hong melompat dan melakukan pengejaran memasuki hutan.
"Adik Hong......!" panggil Liu Ceng yang hendak mengejar, akan tetapi Yauw Lie sudah berada di dekatnya.
"Kakak Ceng, biarkan aku yang mengejar kakak Hong!" seru gadis itu yang kemudian memandang ke sekeliling di mana terjadi pertempuran itu.
Pertempuran itu masih berlangsung seru. Ketika para anak buah tengkorak hitam melihat dua orang pemimpin mereka melarikan diri, hati mereka merasa gentar.
Sudah ada belasan orang rekan mereka yang roboh. Maka setelah tidak ada lagi yang memimpin, mereka lalu melarikan diri sambil membawa teman-teman yang terluka dan meninggalkan beberapa orang rekan mereka yang sudah tewas.
Ketua Kui melarang anak buahnya untuk melakukan pengejaran terhadap lawan yang melarikan diri. Sementara Liu Ceng sibuk memeriksa dan mengobati beberapa orang anak buah perkumpulan pengemis yang terluka. Tidak ada yang tewas di antara mereka.
Sebelum kembali ke perkampungan mereka, ketua Kui memerintahkan anak buahnya untuk mengubur mayat lima orang anggota tengkorak hitam.
Liu Ceng semakin kagum kepada Ketua Kui itu. Sebaliknya ketua Kui juga kagum bukan main melihat betapa cekatan dan pandainya Liu Ceng mengobati mereka yang terluka.
__ADS_1
Setelah semua selesai dan para anggota perkumpulan pengemis disuruh pulang.
"Saudara Ceng, bagaimana dengan saudara Hong dan saudari Yauw yang mengejar musuh tadi?" tanya Ketua Kui yang khawatir.
"Ketua, tadi ketika terjadi serbuan dari anak buah tengkorak hitam, dalam kekacauan itu kedua laki-laki yang menantang ketua itu telahs melarikan diri. Adik Hong yang berhati keras dan membenci mereka karena mereka telah menghina adik Hong itu, maka adik Hong terus mengejar mereka. Aku hendak mengejar untuk mencegah, tetapi adik Yauw melarangku dan menyuruh aku tinggal dan dialah yang melakukan pengejaran." jelas Liu Ceng.
"Hemm, berbahaya sekali." ucap Ketua Kui itu mengelus jenggotnya yang panjang.
"Sekarang para anggota tengkorak hitam itu pastinya berada di bagian Utara pegunungan ini, di Bukit tengkorak yang terletak jauh dari sini yang berada di bagian Selatan. Dua orang itu licik dan berbahaya, aku khawatir kalau-kalau mereka akan terjebak oleh para anggota tengkorak hitam itu!" seru ketua Kui yang khawatir.
"Tidak perlu ada yang dikhawatir, ketua. Adik Hong dan adik Yauw itu memiliki jurus silat yang amat tangguh, cukup kuat untuk menjaga diri." ucap Liu Ceng yang menatap ketua Kui untuk meyakinkan hatinya.
"Syukurlah kalau begitu, hatiku tidak gelisah lagi. Sekarang terbuktilah bahwa urusan harta karun Kerajaan Han yang kabarnya dicuri orang yang berasal dari perguruan ular kobra sudah diketahui banyak orang dan pasti akan menggegerkan dunia persilatan. Perguruan tengkorak Hitam telah menuduh perkumpulan pengemis tongkat merah sebagai pencurinya. Bagaimana menurut pendapatmu? Benarkah pendapat saudara Hong tadi yang mengatakan orang-orang perguruan tengkorak hitam sendiri-lah yang mencurinya dan hendak mengalihkan perhatian agar orang-orang mengira kami yang mencurinya?" jelas sekaligus tanya ketua Kui.
"Biarpun perkiraan adik Hong itu mungkin dilakukan oleh pencuri harta karun untuk mengalihkan perhatian sehingga si pencuri sendiri tidak dicurigai, akan tetapi menurut pendapatku, agaknya para anggota tengkorak hitam tidak mencuri harta itu. Mereka memang mengira bahwa harta itu ada pada perkumpulan pengemis tongkat merah, maka mereka sengaja mencari permusuhan. Tentu saja dengan harapan kalau mereka dapat mengalahkan dan menguasai perkumpulan pengemis tongkat merah, harta karun itu akan dapat mereka miliki. Tidak, ketua. Saya kira pencurinya adalah orang yang jauh lebih lihai dan berbahaya dibandingkan para anggota perguruan tengkorak hitam itu. Orang yang berani menantang seperti pencuri itu dengan mengaku bahwa dia datang dari perguruan ular Kobra, pasti bukan orang sembarangan dan dia sudah yakin bahwa dia mampu menandingi siapa saja yang hendak mengganggunya." jelas Liu Ceng.
Ketua Kui mengerti maksud dari Liu Ceng, kemudian mereka melangkahkan kaki untuk pulang dan menanti kembalinya Liu Hong dan Yauw Lie di perkampungan perkumpulan pengemis tongkat merah.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...