
Yui Lan menyeka keringatnya, kemudian merebahkan diri di atas batu besar untuk melepaskan lelah. Usapan udara pagi yang disertai kabut dingin dari atas bukit itu akhirnya membawa gadis itu terlelap ke dalam impian. Dan mataharipun merangkak semakin tinggi ke angkasa seolah-olah ingin segera dapat menghangati tubuh si gadis yang lembut hati itu.
Perempuan itu baru terbangun ketika dirasakannya ada seseorang di dekatnya, dan gadis itu bangkit dengan cepat, ketika di dekat kakinya benar benar ada seorang kakek yang sedang berdiri mengawasinya.
"Kau... kau siapa?" YuiLan berseru tertahan. Kakek itu tersenyum, sehingga wajahnya yang masih tampak muda itu kelihatan segar dan tampan sekali. Alis dan kumisnya yang panjang berjuntai kebawah berwarna putih bersih dan diatur rapi sekali.
Sementara rambut di kepalanya, biarpun tidak lebat lagi, tapi masih berwarna hitam legam dan digelung ke atas seperti anak muda. Matanya sangat tajam dan kocak, sedang punggungnya sudah sedikit bongkok karena umurnya. Namun demikian, pakaiannya sungguh amat bagus dan rapi bukan main.
"Jangan takut, anak manis! Aku bukan orang jahat. Tadi aku sempat melihat lkamu tidur disini. Aku kesini untuk menjumpai seseorang, hi....hi...hi...!" kata Kakek tampan itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang mendirikan bulu-roma.
"Menjumpai seseorang? Si-siapa yang hendak anda jumpai?" tanya Yui Lan yang penasaran dan memberanikan dirinya.
"Manusia Dari lembah Lampu Merah, apakah Kau melihat dia?" jawab sekaligus tanya orang tua itu.
"Manusia dari lembah Merah? Apakah yang anda maksudkan itu guru para iblis dari Ban-kwi-to itu? Orangnya sudah tua, pucat dan kurus seperti mayat?" jawab Yuki Lan yang menebak.
"Betul! Dan biasanya kemana-mana dia selalu diiringkan oleh ular-ularnya. Eh" jadi kau melihat dia?" kakek tampan itu mendesak.
"Ular...?" tanya Yui Lan yang penasaran.
"Ya! Ular merah...!" jawab kakek itu dengan berseru.
"Tapi aku tidak melihat dia membawa ular. Tapi di atas bukit ini memang banyak ular merah yang berkeliaran!" seru Yui Lan yang penasaran.
"Hei! Lekas katakan! Dimana orang itu?" tanya kakek tampan itu yang tak sabar.
__ADS_1
"Kalau orang tua kurus dan pucat itu yang anda maksudkan itu, dia sudah meninggal. Dan tadi sudah saya makamkan di dekat tebing itu!" jawab Yui Lan seraya mengarahkan jarinya ke arah makam yang telah dibuatnya tadi.
Tapi gadis itu membelalakkan matanya serentak melihat belasan ekor ular merah yang tampak berkumpul mengitari gundukan makam itu. Kakek tampan itu juga tidak kalah pula rasa terkejutnya.
"Hei,...! bocah itu sudah mati? Apakah dia tidak memperoleh darah yang cocok untuk menyambung hidupnya?" serunya tak percaya.
Lalu tanpa dapat diketahui bagaimana cara bergeraknya, tahu-tahu kakek itu telah berada di depan makam kakek itu. Dan kedatangannya kesana segera disambut dengan kemarahan oleh pasukan kakek itu. Tapi dengan bengis kakek tampan itu membunuh mereka. Ular-ular yang kebal terhadap senjata tajam itu segera berkelojotan begitu terkena taburan serbuk putih dari tangan si kakek.
"Anda...!" seru Yui Lan yang menjerit melihat kekejaman kakek tampan itu. Kakek itu seolah tak mendengar jeritan Yui Lan. Begitu melihat ular-ular itu sudah mati, kakek tampan itu langsung saja membongkar kuburan itu. Kalau tadi menggunakan pedang saja Yui Lan mengalami kesukaran dalam menggalinya, kini ternyata kakek itu enak saja mempergunakan tangannya.
Tapi perbuatan kakek itu tentu saja sangat mengejutkan Yui Lan.
"Kenapa anda tega membongkar makam orang?" tanya Yui Lan yang penasaran.
"Hei! Siapakah yang membongkar makam orang? Katamu orang yang tertanam di dalam ini adalah kakek yang memelihara ular merah! Lalu apa salahnya aku membongkar makam muridku sendiri?" tanya kakek itu yang menyahut tanpa menghentikan pekerjaannya.
Sekejappun kakek itu tak berani terlalu dekat, apalagi sampai menyentuh mayat tersebut. Baru beberapa waktu kemudian kakek itu dengan sebatang ranting pendek berani menyingkap dan membalikkan tubuh mayat itu. Namun tiba-tiba...
"Dhooooor.........!"
Mayat itu meledak dengan dahsyatnya dan hancur bertaburan ke segala penjuru. Kakek tampan yang hanya selangkah dari mayat itu ikut terpental tinggi ke udara, kemudian jatuh berdebam kembali ke atas tanah.
Namun anehnya, sekejap kemudian kakek itu telah bangkit pula kembali seperti tak pernah terjadi apa-apa. Padahal bagian depan bajunya tampak hancur tercabik-cabik akibat ledakan itu. Dan begitu bangun kakek itu segera berkeliling mencari sesuatu diantara sisa-sisa tubuh kakek yang tubuhnya meledak dan bertebaran.
Sementara itu Yui Lan yang ikut pula terhempas ke tanah, meskipun dia berdiri jauh dari ledakan tersebut, masih duduk juga termangu-mangu di tempatnya. Gadis itu masih tampak bingung dan tak habis mengerti, kenapa mayat yang sudah ia kuburkan itu bisa meledak begitu dahsyatnya.
__ADS_1
"Bagaimana pula kakek itu bisa menyelamatkan dirinya dari ledakan itu. Padahal dia yang berdiri sejauh lima tombak saja masih merasa seperti rontok seluruh isi dadanya." kata dalam hati YuiLan yang tak habis mengerti dan tergagap kaget ketika Kakek tampan itu datang dan menegurnya.
"Anak manis, kau tak apa-apa, bukan? Huh! Bangsat benar bocah itu! Sudah matipun dia masih juga memasang perangkap! Untunglah sejak dulu aku sudah mengenal sifat-sifatnya. Coba kalau tidak...! Badanku bisa tercerai-berai pula tadi! Hmmmh!" gerutu kakek tampan itu.
"Memasang perangkap? apakah mungkin murid anda berani memasang perangkap untuk mencelakakan gurunya?" tanya Yui Lan yang penasaran dan semakin bingung menghadapi persoalan itu.
"Kenapa tak berani? Sejak kecilpun dia sudah berani melawan aku. Malahan semenjak kematian isterinya, dia selalu menentang aku di tempat ini. Kedatanganku kemari sebenarnya juga untuk mengadu ilmu dengannya," kakek tampan itu memberi keterangan.
"Mengadu ilmu...? Kalian guru dan murid... berkelahi sendiri. Lalu... lalu apa penyebabnya?" tanya Yui Lan yang penasaran karena sejak kecil selalu terdidik dengan baik itu semakin pusing mendengar kata-kata kakek tampan itu.
"Ha...ha...ha...! Tentu saja banyak penyebabnya, Anak manis. Dan salah satu diantaranya adalah masalah perempuan, hi....hi....hi...hi...!" kakek itu menjawab tanpa malu-malu.
Matanya semakin kocak dan nakal memandang Yui Lan yang seakan-akan masalah perempuan antara ia dan muridnya itu bukan suatu hal yang memalukan baginya. Justru Yui Lan yang menjadi malu mendengarnya.
Gadis itu menjadi merah-padam mukanya, sementara di dalam hatinya gadis itu tak habis pikir, bagaimana di dunia ini ada seorang yang bejat moralnya seperti kakek itu padahal kalau dilihat keadaan tubuhnya, meskipun pintar bersolek, kakek itu tentu lebih dari delapan puluh tahun umurnya.
Tapi gaya dan sikapnya sungguh amat genit seperti bujang sedang birahi. Oleh sebab itu terasa berkurang juga rasa hormat Yui Lan kepada kakek tampan itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...