
"Kami sudah membawa surat perintah, membawa kekuasaan dari Kaisar! Biarpun kalian melarang, kami akan tetap masuk dan menangkapi para pemberontak!" seru panglima Ciong yang geram.
"Kalau begitu saya akan membakar diri untuk memprotes tindakan panglima Ciong, dan untuk menyatakan bahwa kami sungguh bukan pemberontak!" seru ketua Thian Cu dengan lantang.
"Hah, silakan!" seru panglima Ciong yang sudah marah karena dia merasa yakin bahwa orang-orang perguruan Elang Sakti itu adalah pemberontak dan menentang kebijaksanaan pemerintah, dalam membuat terusan yang merupakan pekerjaan besar dan penting itu
Kemudian mulut ketua Thian Cu berkemak-kemik membaca doa dan tongkatnya dia pukulkan dengan kerasnya ke atas lantai depan kakinya. Pukulan itu sedemikian kerasnya sehingga mengeluarkan bara api yang menyambar kakinya yang basah oleh minyak bakar. Seketika api bernyala dan dengan cepatnya lidah api menjilat ke atas dan berkobar-kobar.
"Ketua.... !"
Seru beberapa orang murid senior perguruan Elang Sakti itu yang terkejut dan berloncatan ke depan untuk menyelamatkan guru mereka, akan tetapi ketua Thian Cu yang masih berdiri tegak berseru dengan suara nyaring.
"Berhenti! Biarkan saya menjadi korban demi kebersihan nama perguruan Elang Sakti. Akan tetapi ingat pesan saya kalau para Murid perguruan Elang Sakti ini selamanya bukanlah pemberontak! melainkan para Pendekar yang selalu menentang kejahatan menjadi pelindung rakyat tertindas!"
Setelah berkata demikian ketua Thian Cu roboh dan tubuhnya terus terbakar sampai hangus.
Sementara itu, panglima Ciong sudah memberi aba-aba Kepada pasukannya untuk menyerbu ke dalam. Melihat ini, para murid perguruan Elang Sakti berloncatan menghadang.
"Ha, jadi kalian benar hendak melawan dan memberontak?" bentak Panglima Ciong dengan geram.
"Tidak, kami mempertahankan hak kami!" seru salah satu murid senior yang mewakili saudara seperguruannya.
Panglima Ciong memberi isyarat dan pasukannya lalu menyerang, disambut oleh para murid perguruan Elang Sakti sehingga terjadilah pertempuran yang hebat di ruangan depan perguruan Elang Sakti.
Dengan disaksikan api yang masih bernyala-nyala membakar tubuh ketua Thian Cu, para murid perguruan Elang Sakti mengamuk.
Demikian pula murid dari luar perguruan yang tadi bersembunyi di dalam gedung, ketika mendengar bahwa guru mereka membakar diri dan kini pasukan menyerbu dan bertempur melawan para saudara mereka yang ada diluar perguruan.
Mereka berlarian keluar perguruan dan terjun ke dalam medan pertempuran sehingga pertempuran menjadi semakin sengit.
Seorang di antara para murid yang menjadi ketua rombongan murid di luar perguruan Elang Sakti itu bernama Lie Koan, yang memiliki kepandaian tinggi karena sudah menguasai semua ilmu dari perguruan Elang sakti dan merupakan seorang di antara para pendekar yang membela rakyat yang di paksa untuk bekerja rodi di proyek penggalian terusan, yang dipercaya kepemimpinannya.
__ADS_1
Sejak tadi, Lie Koan yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun itu mengintai ke luar dan dia lihat semua yang telah terjadi.
Karena itu, begitu dia dan teman-temannya menyerbu keluar, dia lalu menerjang orang yang agaknya menjadi mata-mata pasukan pemerintah.
Dengan geramnya dia menyerang pendeta itu dengan senjatanya yang, tadinya melilit pinggangnya, yaitu sebatang rantai baja.
Pendeta kurus kering yang giginya ompongg di bagian depannya itu adalah bernama To Cun yaitu seorang pendeta yang memang memusuhi perguruan Elang Sakti dan menjadi mata-mata panglima Ciong.
Melihat seorang pria gagah perkasa menyerangnya dengan rantai baja, Pendeta To Cun yang juga memiliki kepandaian tinggi itu menyambut dengan pedangnya.
"Trang.....!"
Bunga api berpijar ketika rantai bertemu pedang dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka tergetar hebat. Namun Lie Koan menyerang terus dengan semakin dahsyat sehingga terpaksa tosu itu pun memutar pedang melindungi diri dan balas menyerang.
Terjadilah perkelahian yang sangat sengit antara kedua orang ini.
Panglima Ciong sendiri sudah memimpin para perwira yang pembantunya itu yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, untuk menyerang para murid perguruan Elang Sakti itu dibantu oleh pasukan mereka. Sehingga tempat itu menjadi hiruk pikuk oleh pertempuran, sementara api masih bernyala membakar tubuh ketua Thian Cu.
Apalagi karena mereka tidak mungkin dapat mengerahkan seluruh pasukan mereka yang masih berada di luar. Tempat di serambi depan itu terlalu sempit untuk suatu pertempuran terbuka di mana tiga ratus orang pasukan itu dapat terjun semua.
Pada saat ini yang terjun dalam pertempuran itu tidak lebih dari seratus lima puluh orang pasukan saja, dan menghadapi kurang lebih enam puluh orang murid perguruan Elang Sakti.
Murid-murid perguruan Elang sakti ini, sangat lihai apalagi barisan depan dengan toya ditangan mereka merupakan barisan silat yang amat tangguh.
Mulailah anggota pasukan berjatuhan terluka atau tewas oleh senjata di tangan para murid perguruan Elang Sakti..
Perkelahian antara Lie Koan yang melawan pendeta To Cun berjalan amat seru. Tidak ada anggota pasukan yang membantu pendeta itu.
Hal ini tidaklah aneh karena para anggota pasukan tentu saja hanya membantu para perwira, dan pendeta itu tidak mereka kenal.
Karena itu mereka tidak mau membantunya. Maka, perkelahian antara Lie Koan dan pendeta To Cun berjalan sangat seru tanpa pengeroyokan, satu lawan satu.
__ADS_1
Pendeta To Cun terdesak hebat dan biarpun dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya, tetap saja gulungan sinar rantai baja di tangan Lie Koan mendesak dan menghimpitnya sehingga tosu itu terpaksa main mundur dan hanya dapat memutar pedang untuk menangkis dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran kedua ujung rantai baja di tangan lawannya.
"Singgg....!"
Pendeta itu mencoba untuk membalas ketika mendapatkan kesempatan. Pedangnya meluncur dan menyambar ke arah tenggorokan lawan dengan tusukan kilat yang kuat dan cepat Lie Koan miringkan tubuh menggeser kaki menjauh, rantai bajanya menyambar seperti ular ke arah pedang dan berhasil melibat pedang itu dengan ujung rantai.
To Cun sangat terkejut dan barusaha menarik kembali pedangnya. Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Lie Koan untuk menendang kakinya ke arah lutut kaki kiri lawan.
"Dugh....!"
Tubuh pendeta itu terjungkal. Dia terpaksa melepaskan pedangnya yang masih dililitt ujung rantai, lalu bergulingan menjauh.
Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan, rantai itu melepaskan pedang dari libatannya dan pedang meluncur ke arah tubuh yang bergulingan.
"Jlebb...!"
Pedang menancap, memasuki lambung sampai hampir tembus, tewaslah To Cun.
Melihat kalau pasukannya tidak mampu mendesak lawan, dan banyak anggota pasukan yang roboh, sedangkan para pembantunya juga terdesak dan ada yang menderita luka-luka, terpaksa Panglima Ciong memberi aba-aba agar pasukannya mundur.
Dia sendiri mengajak para pembantunya untuk melarikan diri ke luar dari pekarangan perguruan Elang Sakti itu, masuk ke dalam pasukan yang masih berada di luar.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...