Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 14


__ADS_3

"Diam kau bocah ingusan! Kau...cepat keluar dari sini!" teriak kepala desa itu dengan keras sedangkan wajahnya semakin pucat.


"Aku akan keluar, setelah kau mengubah kelakuanmu yang tiada bedanya dengan seorang perampok! kau juga pembunuh wargamu sendiri!" seru Hua Li dengan lantang.


"Dasar pembohong! Aku tak pernah membunuh orangku!" seru kepala desa itu, dan bibir Hua Li tersenyum sinis.


Kemudian dari balik pintu sebelah dalam keluarlah secara berloncatan lima orang, dan dua diantaranya adalah penjaga pintu depan tadi.


"Kepala desa, gadis ini kurang ajar dan memberontak, apakah harus ditawan?" tanya salah satu dari kelima orang itu yang sekarang ini mengepung Hua Li.


."Dimanakah para tahanan kita?" tanya Kepala desa itu secara tiba-tiba.


"Nanti saja kita bicarakan soal itu, sekarang kita bereskan dulu gadis hina ini!" jawab salah satu penjaga tadi.


"Tidak! kalian pembunuh kejam!" seru kepala desa itu yang tentu saja membuat kelima orang yang mengepung Hua Li itu membelalakkan kedua mata mereka dan secepat kilat tubuh mereka bergerak dan pedangnya berkilauan meluncur ke arah dada si kepala desa itu.


Hua Li yang telah waspada, maka ia berkelebat dan berhasil menyambar tangan kepala desa lalu menariknya sehingga terluput dari tusukan salah satu dari kelima orang itu.


Dengan segera kepala desa ituvbersembunyi di belakang tubuh gadis itu, karena kalau Hua Tian akan dapat menolongnya.


"Nona, berhati-hatilah! Mereka adalah perampok-perampok kejam dan ganas yang telah lama menguasai dan mengancamku!" kata Kepala desa itu.


Tanpa menoleh, Hua Li menganggukan kepalanya dan menatap lima orang yang berwajah ganas itu dengan tajam.


"Oh, Jadi kalianlah perampok-perampok hina yang selama ini membayangi kepala desa dengan melakukan semua pemerasan dan pemaksaan! Rasanya aku ingin memberi pelajaran pada kalian semua!" seru Hua Li dengan lantang.


"Bedebah! Tidak tahukah kau dengan siapa kau berhadapan?" teriak orang tinggi besar yang menjadi penjaga tadi.


"Oh, kalian adalah calon penghuni neraka!" seru Hua Li dengan tersenyum sinis.


"Gadis sialan! Ketahuilah, kami adalah Lima perampok dari kalajengking hitam, maka jangan harap kau akan dapat keluar dari gedung ini dengan selamat!" seru salah satu perampok itu yang agaknya menjadi pemimpin mereka.


"Kalajengking hitam? apa itu aku tak tahu, dan akulah yang akan mengirim kalian pulang ke neraka!" seru Hua Li dengan berang.

__ADS_1


"Bocah sombong!" seru laki-laki yang bertubuh tinggi besar itu meloncat maju dengan kedua tangan terulur dengan maksud hendak menubruk dan memeluk gadis jelita itu untuk membuatnya malu.


Mengetahui hal itu, Hua Li meloncat berputar ke kiri dan kaki kanannya cepat menendang ke arah lambung kanan lawan. Si Tinggi Besar terkejut sekali karena sama sekali tidak menduga bahwa gadis cilik itu dapat bergerak secepat itu sehingga hampir saja lambungnya berkenalan dengan ujung sepatu.


Dengan cepat tangan kanan laki-laki tinggi besar itu bergerak hendak menyaut dan menangkap kaki Hua Li, tapi ternyata tendangan itu hanya pancingan belaka.


Karena ketika tangan kanan Si Tinggi Besar itu bergerak hendak menangkap kakinya, ia cepat memutar ujung kakinya dan dengan dua jari tangan dikembangkan ia menusuk kedua mata lawan! Sekali lagi Si Tinggi Besar terkejut dan buru-buru meloncat mundur dengan keringat dingin membasahi dahinya.


Melihat teman mereka yang kewalahan, kelima perampok kalajengking hitam itu mencabut senjata mereka dan maju untuk menyerang.


Kini mereka hanya ingin membunuh Hua Li secepat mungkin karena gadis ini merupakan bahaya dan halangan besar bagi usaha mereka.


Hua Li tak takut sama sekali, bahkan ia merasa gembira sekali melihat berkeredepannya senjata-senjata musuh. Ia cepat mencabut pedangnya sendiri dan sebentar saja sinar pedangnya menari-nari dan bergulung-gulung mengurung kelima perampok itu.


Namun ternyata Hua Li terdesak dengan kalah jumlah, kemudian Hua Li mengeluarkan kecapinya dan mainkan kecapi dengan gubahannya sendiri.


Jurus kecapi ini tampaknya tenang-tenang saja tapi mendatangkan tenaga yang luar biasa kuatnya, sehingga sama dengan sifat dan pergerakan aliran air sungai kuning, tapi yang di dalamnya mengandung gerak jurus yang mematikan.


"Teng...Teng....teng...¡


Sementara itu, kepala desa yang melihat bertaruh gan itu segera menjauh, dan apalagi dia tak tahan juga dengan alunan yang dikeluarkan oleh kecapi yang di mainkan oleh Hua Li itu, kepala desa itu menutup telinganya rapat-rapat.


Suara alunan kecapi itu, menarik warga sekitarnya. Dan mereka pun berduyun-duyun melangkahkan kaki mendekati gedung kepala desa itu.


Dan pada saat sudah sampai diluar gedung, mereka melihat kepala desa sedang meringkuk menutup telinganya.


"Kepala desa, kenapa anda ada disini?" tanya salah satu warga itu yang merasa heran dengan apa yang dilihatnya.


"Ada pendekar sakti yang melawan perampok yang selama ini mengancam ku!" jawab kepala desa itu yang kemudian bangkit dari posisinya.


"Pendekar sakti?" tanya warga itu yang hampir bersamaan.


"Iya, dia memainkan kecapinya untuk melawan para perampok itu!" jawab si kepala desa itu.

__ADS_1


"Tampaknya pendekar itu telah selesai bermain kecapinya, sebaiknya kita masuk dan lihat apa yang telah terjadi!" seru salah satu warga, dan mereka semua menyetujuinya.


Semuanya pun masuk dengan cara mengendap-endap dan akhirnya melihat lima mayat yang bergelimpangan dengan darah segar yang keluar dari telinga mereka.


Mereka pun terkejut dan tak menyangka kelima perampok itu dikalahkan oleh gadis yang selalu membawa kecapi, diman mereka lihat beberapa jam yang lalu.


"Nona yang tadi!" seru beberapa warga yang merasa telah bertemu Hua Li.


"Tuan-tuan sekalian, tolong urus mayat-mayat ini!" seru Hua Li yang mengetahui kedatangan para warga sekitar yang berdatangan.


"Baik nona pendekar!" jawab beberapa warga yang dengan sigapnya membawa mayat-mayat itu keluar dari gedung untuk di makamkan.


Sementara itu Hua Li melangkahkan kakinya menghampiri kepala desa yang sedang mengatur para warganya dalam membawa mayat-mayat para perampok itu.


"Kepala desa!" panggil Hua Li dan kepala desa itu membalikkan badannya dan menatap Hua Li.


"Oh, nona pendekar. Ada apa nona?" balas kepala desa itu yang kemudian bertanya pada Hua Li.


"Bisakan anda ceritakan, kenapa ada perampok yang memasuki gedung dan menguasai anda?" tanya Hua Li dengan menatap kepala desa itu.


"Beberapa pekan yang lalu, pada suatu malam, lima orang penjahat itu tiba-tiba masuk dan mengancam saya dengan pedang mereka, setelah para pengawalku mereka habisi. Lalu mereka itu mengancam saya untuk memeras rakyat dan menyerahkan semua hasil pemerasan kepada mereka. Mereka menyamar sebagai pengawal-pengawalku yang menggantikan para pengawalku yang tewas mereka bunuh." cerita kepala desa itu yang apa adanya.


Hua Li menghela napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2