Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 199


__ADS_3

Sang Ciok sudah mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaian ayahnya dan di kota Pei-shen dia terkenal sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan sukat dicari tandingnya.


Sekali melompat, Sang Ciok yang usianya sudah dua puluh lima tahun itu telah berada di depan Gan Lok. Sikapnya angkuh dan memandang rendah lawan, pandang matanya penuh wibawa ketika pemuda perkasa ini menghadapi orang tinggi kurus itu.


"Apakah kau yang ku bernama Gan Lok? Kudengar tadi mengancam dan memeras Ayah! Sungguh kau seperti orang yang buta tuli, tidak mendengar siapa Ayahku dan tidak melihat bahwa kami adalah orang baik-baik dan kami bukanla anak kecil yang mudah kau gertak! Hayo kau cepat pergi dari sini!" seru Sang Ciok,


 Melihat munculnya pemuda itu, berdebar rasa jantung dalam dada Yi Hui. Ia pernah satu kali melihat Ciok tunangannya dan ia tidak lupa. Kalau pemuda itu tunangannya.


Sekarang dia telah menjadi seorang pemuda dewasa yang matang, yang gagah perkasa dan ganteng! Tidak kalah ganteng dan gagahnya dibandingkan Han Beng! Bahkan pakaiannya jauh lebih mewah dan rapi.


Sementara itu, Han Beng juga sudah dapat menduga bahwa tentu pemuda itulah tunangan Yi Hui. Diam-diam dia merasa kagum dan bersukur. Yi Hui mempunyai seorang tunangan yang demikian tampan dan gagah perkasa. Dibandingkan dengan dirinya sendiri, kalau pemuda itu dapat diumpamakan seekor merak, dia sendiri hanyalah seekor burung gagak.


"Dia meninggalkan guci kosong di dalam toko!" kata Sang Gu sambil memandang kepada puteranya dengan bangga.


"Ah, begitukah? Biar kuambil barangnya itu!" kata Sang Ciok, melangkah ke


dalam toko. Semua orang memandangnya, apalagi para pegawai toko yang tadi sudah merasakan sendiri betapa beratnya guci kosong itu.


Melihat bentuk guci, Sang Ciok dapat menduga bahwa guci itu tentu berat sekali. Maka dia pun sudah siap sedia, Mengerahkan tenaga di dalam kedua tangannya, lalu sekali tarik, dia berhasil mengangkat guci itu.


Memang terasa berat sekali olehnya, namun dia mengerahkan tenaga, menahan napas dan mengangkat guci itu tinggi-tinggi, membawanya keluar. Para pegawai toko bersorak dan bertepuk tangan memujinya,


 "Nih barangmu, ambillah!" bentak Sang Ciok sambil melemparkan guci yang berat itu kepada pemiliknya.


Gan Lok menerima guci kosong itu yang dilontarkan oleh Sang Ciok. Melihat cara dia menyambut guci berat itu, diam-diam Han Beng mengkhawatirkan keselamatan tunangan Yi Hui itu, karena dia dapat mengukur dan menduga bahwa orang tinggi kurus itu memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan tunanga Yi Hui.


Biarpun hatinya agak gentar melihat betapa pihak tuan rumah ayah dan anak tidak merasa takut akan ancaman dari usahanya melakukan pemerasan, namun Gan Lok tidak mau mundur begitu saja.


Dia sudah terlanjur menjual lagak, kini banyak orang menyaksikan di depan toko, walaupun dalam jarak yang aman dan cukup jauh. Setidaknya, dia harus mampu mengalahkan pemuda sombong ini, pikirnya.


"Hmm, agaknya keluarga Sang sudah nekat!" kata Gan Lok dengan lantang.

__ADS_1


"Tunggu saja kalau pasukan pemerintah datang dan membasmi kalian sebagai keluarga pemberontak!"sambung Gan Lok


"Manusia busuk!" bentak Sang Ciok arah sambil melangkah maju.


"Tidak perlu banyak cerewet. Kalau memang kau berani, tidak perlu mengancam kami dengan fitnah dan pemerasan! Hayo hadapi aku sebagai laki-laki!" sambung Sang Ciok.


Ucapan Sang Ciok ini memancing gelak tawa orang-orang yang mendengarnya. Diam-diam Han Beng mengerutkan alisnya. Hm, pemuda ini agak terlalu mengangkat diri sendiri dan merendahkan orang lain. Sikap angkuh itu sungguh tidak akan menguntungkan dirinya.


"Hm....!" la mengeluarkan suara tak puas.


 "Apa, kakak? Ada apakah?" tanya Yi Hui yang menyadarkan Han Beng dan mukanya berubah merah.


"Ih, kenapa aku merasa tidak senang dan mencela pemuda yang menjadi tunangan Yi Hui itu? Apakah aku Cemburu?" gumam dalam hati.


"Uhhh, tidak apa-apa adik Hui, aku hanya melihat tunanganmu itu tentu dia sungguh gagah perkasa!" balas Han Beng yang menutupi perasaannya.


Yi Hui diam saja, hanya menundukkan mukanya yang berubah merah. Ia sendiri tidak tahu apakah ia harus gembira ataukah berduka mendengar pujian pemuda itu kepada tunangannya.


Dicabutnya cambuk berekor sembilan dari punggungnya dan begitu pecut itu dia gerak-gerakkan ke udara, terdengar suara meledak-ledak nyaring.


"Tar...tar...tar.....!"


Sembilan ujung cambuk itu bagaikan ular-ular hidup menyambar-nyambar. Melihat ini, semakin besar rasa khawatir di hati Han Beng. Orang ini memang lihai, pikirnya, dan memiliki pandang mata kejam.


Orang seperti ini amat berbahaya, tidak akan pantang untuk membunuh tanpa sebab. Diam-diam ia memungut beberapa butir kerikil dan menggenggamnya dalam persiapannya untuk melindungi tunangan Yi Hui.


Biarpun dia tidak mempunyai hubungan apa pun dengan keluarga Sang, akan tetapi mendengarkan percakapan mereka tadi, dia pun tahu bahwa orang kurus tinggi pemegang cambuk berekor sembilan itu adalah seorang pemeras.


Hal ini saja sudah membuat hatinya condong berpihak kepada keluarga Sang, apalagi mengingat bahwa pemuda itu adalah tunangan Yi Hui. Kini dia pun tahu bahwa berita tentang dibasminya keluarga Yi di kota raja dengan tuduhan pemberontak telah tersiar dan agaknya dipergunakan oleh Gan Lok itu untuk memeras keluarga Sang.


Melihat betapa lawannya sudah mengeluarkan senjata cambuknya, Sang Ciok lalu mencabut pula pedang yang tadi tergantung di pinggangnya. Dia pun bukan seorang bodoh walaupun wataknya agak tinggi hati.

__ADS_1


Pemuda ini sejak kecil digembleng oleh ayahnya dan dia pun cukup awas untuk melihat bahwa lawannya adalah seorang yang lihai dan berbahaya maka melihat lawan memegang senjata aneh, dia pun mengeluarkan senjatanya.


"Bocah sombong, majulah kalau kau ingin dihajar oleh cambukku!" bentak Gan Lok.


"Kau yang datang mencari perkara, maka kaulah yang lebih dulu maju menyerang," kata pemuda itu dan sikap ini diam-diam dipuji Han Beng.


"Cerdik juga pemuda itu, walaupun berwatak tinggi hati. Namun sudah sepatutnya kalau tinggi hati. Bukankah dia seorang pemuda yang tampan, kaya raya, gagah perkasa dan berkedudukan baik dan terpandang di kota itu?" gumam dalam hati Han Beng.


"Bocah sombong, sambutlah cambukku!" Bentak Gan Lok dan dia sudah menyerang dengan sambaran cambuknya dari atas.


Sedikitnya empat dari sembilan ekor ujung cambuk itu menyambar dan menyerang dan atas, datang dari berbagai penjuru ke arah kepala, leher dan pundak pemuda itu. Berbahaya sekali serangan itu, akan tetapi Sang Ciok masih dapat mengelak dengan loncatan ke belakang sambil memutar pedangnya sehingga empat ekor cambuk yang menyambar itu tidak mengenai sasaran.


Secepat kilat, Sang Ciok sudah membalas dengan terjangan ke depan sambil menusukkan pedangnya ke arah perut lawan.


Namun pada serangan ini dapat pula digagalkan oleh Gan Lok yang meloncat ke samping dan kini cambuknya yang tadi sudah diputarnya ke belakang, sudah menyambar lagi ke depan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


... ...


... ...

__ADS_1


__ADS_2