Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 241


__ADS_3

"Ahhh! Pemberontak!" seru Han Beng sangat terkejut karena hal ini dapat membuat urusan menjadi besar dan penting sekali.


"Nah, Pendekar bisa lihat sendiri betapa gawatnya keadaan di daerah ini. Oleh karena itulah, kami dengan sengaja mengundang pendekar, karena kami mengharapkan bantuanmu dalam hal ini." kata Liu Tai.


"Bantuan bagaimana yang dapat saya lakukan menghadapi usaha pemberontakan, tuan?" tanya Han Beng yang penasaran.


"Untuk melakukan penyelidikan, kami membutuhkan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti pendekar. Melihat betapa di antara mereka terdapat orang-orang lihai, maka tak mungkin kami mengutus para penyelidik biasa." jelas Liu Tai.


"Maaf, tuan. Saya mendengar bahkan di kota raja terdapat banyak sekali jagoan-jagoan istana, orang-orang dengan kepandaian tinggi. Tentu mereka itu dapat....." kata Han Beng yang belum selesai, namun segera dipotong oleh Liu Tai.


"Hal itu memang benar, pendekar. Akan tetapi terlalu lama kalau kami harus minta bantuan mereka yang jauh dari sini, padahal keadaan di sini amat mendesak. pendekar tentu tahu betapa parahnya keadaan kalau sampai terjadi pemberontakan. Rakyat dan pemerintah akan menderita hebat. Oleh karena itu, demi rakyat dan pemerintah, maukah pendekar membantu kami untuk melakukan penyelidikan terhadap mereka yang tadi menyerang kami?" bujuk Liu Tai.


"Baiklah, tuan. Tugas itu saya terima, akan tetapi saya tidak mau terikat sebagai seorang pekerja pemerintah, melainkan hanya membantu demi kepentingan rakyat jelata." kata Han Beng.


"Bagus, kami mengerti pendirian pendekar. Nah, kami akan melanjutkan perjalanan dan tak lama lagi setelah mendapatkan keterangan-keterangan darimu, baru kami akan turun tangan menindak mereka. Penindakan itu kami tangguhkan karena kami ingin mendengar dulu hasil penyelidikanmu tentang pemberontak itu, apakah dia terlibat ataukah tidak. Kalau hendak menghubungi kami, pendekar dapat berhubungan dengan pedagang obat Kin Siong yang membuka kedai obat di kota Siong-an. Dia adalah seorang petugas kami yang kami percaya." kata pembesar Liu


Han Beng mengangguk-angguk ketika pejabat itu hendak memberikan uang emas sebagai bekal dia melakukan tugas itu, Han Beng dengan halus menolak.


H Hal ini membuat Liu tuan menjadi semakin kagum dan mereka pun berpisah. Pejabat itu naik kereta dikawal oleh seratus orang perajurit meninggalkan tempat itu, sedangkan Han Beng juga cepat pergi kembali ke tempat dimana dia tadi menolong rombongan Liu Tai.


Sementara itu Hok Cu melakukan perjalanan perlahan-lahan meninggalkan sarang perkumpulan Serigala Emas itu. Banyak hal yang membuat ia termenung. Pertama ia teringat kepada Hong Lan. Seorang pemuda yang hebat, pikirnya. Ilmu silatnya lihai bukan main, juga amat cerdik seperti telah dilihatnya ketika melawan tokoh-tokoh Perguruan Serigala Emas itu.


"Sayang sekali pemuda seperti itu kini terlibat dalam kelompok yang agaknya hendak memberontak terhadap pemerintah." pikir Hok Cu yang merasa menyesal mengapa ia tidak dapat mencegah pemuda itu melibatkan diri.

__ADS_1


Tapi hal itu bukanlah urusannya, ada perasaan kecewa dan menyesal melihat pemuda itu kini bersekutu dengan para pemberontak. Padahal dia sudah mulai tertarik kepada pemuda yang tampan dan gagah perkasa itu.


Kemudian Hok Cu teringat akan peristiwa pertempuran dalam hutan itu terbayang kembali dan teringatlah ia kepada lawan yang tangguh itu. Dimana ada seorang pemuda tinggi besar yang amat gagah perkasa.


"Betapa lihainya pemuda itu, yang mampu menahan pengeroyokan ia dan Hong Lan!" gumam Hok Cu.


"Pemuda tinggi besar itu memang seorang yang benar-benar sakti! Bahkan Hong Lan sendiri kewalahan menghadapinya. Padahal, pemuda tinggi besar itu hanya mempergunakan senjata sabuk saja, bahkan kemudian diganti sebatang ranting kayu sebagai tongkat. Ilmu tongkat yang amat aneh akan tetapi juga lihai bukan main. Sayang bahwa pemuda segagah itu hanya menjadi antek seorang pembesar korup yang makan sogok; seperti Liu Tai." kata dalam hati Hok Cu.


Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara pelan-pelan. Kemudian dia mengingat akan dua orang gadis yang oleh Cang Jin diberikan sebagai suapan kepada Liu Tai dan hati Hok Cu menjadi panas sekali.


"Kalau saja tidak ada pemuda tinggi besar itu, tentu aku sudah berhasil membebaskan dua orang gadis itu. Sekarang entah bagaimana nasib dua orang gadis remaja yang bernasib malang itu!" gerutu Hok Cu seraya mengepalkan ktelapak tangannya.


"Hmm, kalau saja aku dapat bertemu lagi dengan pemuda tinggi besar yang menggagalkan pertolongan aku kepada dua orang gadis itu, tentu akan aku tantang dia berkelahi sampai aku berhasil merobohkannya!" kembali Hok Cu yang menggerutu dengan kesalnya.


Tanpa disangkanya sebagai seorang gadis ahli silat yang berkelana di dunia kang-ouw seorang diri, ia harus selalu berhati-hati, dan saat ini dia melihat kalau dirinya sedang berada di tempat terbuka.


Tempat yang berbahaya bagi seseorang kalau menghadapi pengeroyokan, dan melihat betapa tak jauh di depan ada sebuah hutan kecil yang penuh dengan pohon besar, ia pun lalu berloncatan lari ke depan, memasuki hutan kecil lalu menanti di situ karena bukan maksudnya untuk melarikan diri.


Ia hanya ingin berhati-hati. Kalau sampai bahaya dan ia dikeroyok banyak orang jauh lebih baik kalau ia berada di antara pohon-pohon daripada kalau ia berada tempat terbuka, di mana para pengeroyok akan lebih leluasa.


Tak lama kemudian nampaklah serombongan orang, belasan orang yang berlari cepat melalui tempat terbuka tadi. memandang heran ketika melihat bahwa mereka itu bukan lain adalah Hong Lan yang diikuti oleh para pimpinan perguruan Serigala Emas dan sekutu mereka.


Semua berjumlah tiga belas orang. Hong Lan, Gan Lok ketua perkumpulan itu, Kim Kauw wakilnya, dua orang berpakaian Kuning, dan delapan orang lainnya.

__ADS_1


Melihat cara mereka berlari, jelas bahwa mereka semua memiliki tingkat kepandaian silat yang tinggi. Karena melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang baru saja ditinggalkann dalam suasana yang bersahabat, tidak ada kecurigaan dalam hati Hok Cu dan ia pun cepat bangkit dan berdiri memandang mereka.


"Nona, tunggu dulu...!"


Terdengar Hong Lan berseru dan tiga belas orang itu segera berlarian menghampirinya.


Mendengar ucapan itu dan melihat sikap mereka, diam-diam Hok Cu merasa heran. Kiranya mereka itu agaknya memang sengaja mengejarnya.


"Ada keperluan apakah kalian menyusulku?" tanya Hok Cu dengan sikap tenang, namun penuh waspada karena ia mulai merasa curiga.


Tatapannya tajam menatap satu persatu dari tiga belas orang yang ada dihadapannya itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2