
Gembel tua itu terkejut dan menghentikan gerakan tongkatnya dan menoleh.
Kesempatan ini dipergunakan oleh dua orang perajurit untuk membacokkan golok mereka, yang seorang membacok kepala yang kedua membacok pinggang. Kakek itu agaknya tidak melihat datangnya dua serangan ini.
Setelah golok itu menyambar dekat sekali, baru dia menggerakkan tangan kirinya menyambut golok yang membacok pinggang, menerima golok itu dengan tangan kosong, sedangkan yang menyambar kepalanya dibiarkannya saja.
"Takkk!"
Golok itu tepat mengenai kepala, akan tetapi terpental dan bakkan terlepas dan tangan Si pemegang; sedangkan kakek itu hanya mengusap kepalanya seperti yang kegatalan.
Adapun golok yang disambut tangan kirinya, seperti terjepit baja dan pemilik golok mencoba untuk membetot dan menariknya, namun sia-sia.
Ketika kakek tiba-tiba melepaskan golok itu sambil mendorongnya, tentu saja pemilik golok itu terjengkang dan kepalanya terbentur batu seketika itu juga dia takbsadarkan diri.
"Hei, jangan ngawur! Aku tidak mempunyai murid seperti engkau! Muridku berada bersama pendekar kecapi, di puncak Kim-hong-san!" seru laki-laki gembel itu.
"Murid adalah Han Beng guru, murid pendekar kecapi dimana saya yang sedang mencari guru untuk memenuhi janji antara Guru berdua!" balas Han Beng dengan memberi hormat.
"Benarkah? Aku pun sedang mencarimu! Dan kita bertemu di sini, ha....ha...ha....! Mari kita hajar anjing-anjing ini!" seru gembel tua itu yang tak lain adalah ketua para pengemis, Kwe Ong
Han Beng semakin gembira dan bersama gurunya yang baru itu dia mengamuk, dan makin banyak pula perajurit yang roboh. Belasan orang sisa perajurit yang melihat ini, menjadi gentar dan mereka pun melarikan diri, meninggalkan teman-teman yang terluka dan pingsan.
Hati Kwe Ong senang bukan main melihat calon muridnya yang kini telah menjadi seorang pendekar muda remaja yang hebat.
.......
Sementara itu kelima orang pendekar senior perguruan Elang Sakti segera memberi hormat kepada Kwe Ong dan Han Beng, dan memperkenalkan diri mereka sebagai murid-murid perguruan Elang Sakti.
__ADS_1
"Aku sudah mendengar tentang dibakarnya perguruan Elang Sakti oleh pasukan pemerintah. Sungguh pemerintah seperti dipimpin orang-orang buta, tidak tahu bahwa perguruan Elang Sakti adalah perguruan aliran putih dan besar dan dapat bermanfaat sekali bagi kemajuan pemerintah." kata Kwe Ong seraya menatap satu persatu dari kelima pendekar senior Elang Sakti itu.
Setelah berunding, lima orang pendekar senior perguruan Elang Sakti itu lalu mengatur agar seluruh penghuni Ki-nyan-tung itu mengungsi dan berpencaran, pindah ke lain dusun-dusun agar terhindar dari balas dendam pasukan pemerintah kelak.
Sedangkan Kwe Ong mengajak Han Beng meninggalkan tempat itu Dan mulai hari itu, ketua pengemis ini menggembleng Han Beng sebagai muridnya.
...***"...
Sementara itu di daerah lain, ada seorang gadis yang berusia lima belas tahun itu cantik mungil. Wajahnya yang berdagu runcing itu amat manisnya, dengan kulit yang putih kemerahan, hanya memakai bedak tipis, dan merah pipinya bukan karena gincu melainkan karena sehat bagaikan setangkai bunga yang belum mekar.
Bibirnya juga merah basah tanpa pemerah bibir. Alisnya seperti dilukis, melengkung indah melindungi sepasang mata yang bersinar terang lincah, sepasang mata yang memandang dunia ini dengan penuh gairah, mata yang bening jeli bagaikan sepasang bintang.
Pakaiannya indah, bahkan mewah dari sutera mahal, berkembang kuning dengan dasar merah muda, warna kesukaan gadis remaja itu.
Gadis yang memiliki bentuk tubuh ramping dengan pinggang kecil, tapi sudah menjanjikan tubuh y indah padat berisi dengan kulit kun putih mulus, ia bukan lain adalah Hok Cu.
Karena Hok Cu seorang anak perempuan yang cantik manis, cerdik dan bocah jenaka, nakal manja, juga berbakat sekali dalam ilmu silat, pandai ketika diajar ilmu silat, maka gurunya semakin lama semakin sayang padanya.
Apalagi karena Mo Li telah kehilangan puteri tunggalnya, yaitu Cu Ming, yang tidak menurut dan nekat menikah dengan Coa Siang putera ketua perguruan Harimau Hitam, Mo Li melihat Hok Cu sebagai pengganti puterinya,
Karena itu begitu menjadi muridnya, Hok Cu telah dipasangi racun dengan tusukan jarum di lengan kirinya, di bawah siku. Tusukan jarum yang sudah diberi obat beracun itu meninggalkan bekas titik merah seperti tahi lalat kecil di bawah siku lengan kiri, dan tanda merah itu akan lenyap kalau Hok Cu kehilangan keperawanannya, dan akibatnya dalam satu bulan Gadis itu pun akan kehilangan nyawanya.
Hal itu memang disengaja oleh Mo Li dengan memasang racun ini pada diri muridnya agar muridnya itu tidak berdekatan dan tidak menikah dengan pria sehingga selama akan berada didekatnya.
Mo Li tidak rela kalau muridnya itu menjadi milik orang lain. Memang, jalan pikiran seorang iblis betina seperti Mo Li memang aneh dan tidak lumrah manusia biasa. Cinta kasihnya penuh dengan nafsu mementingkan diri sendiri, penuh dengan keakuan.
Pada saat dipasangi racun titik merah itu, Hok Cu baru berusia sepuluh tahun. Ia tidak tahu apa-apa, maka pemasangan itu tidak dipedulikan benar. Bahkan ketika ia mulai remaja, sampai berlima belas tahun, ia masih belum memusingkan tanda tahi lalat merah itu. tetap lincah jenaka dan rajin belai sehingga seusia itu, ia telah pandai menulis sajak dan tentang ilmu silatnya bukan hanya semua pelayan wanita rumah gurunya itu tidak ada yang mampu menandinginya.
__ADS_1
Bahkan di antara kawan-kawan gurunya, yaitu orang-orang dunia persilatan, tidak ada yang berani
memandang rendah dan mengenal ia sebagai seorang gadis remaja yang ganas dan kedua tangan yang mungil itu dapat menyebar maut dengan mudah.
Hok Cu bagaikan setangkai bunga yang hidup di rawa-rawa yang kotor dan beracun. Gurunya, yang menganggapnya seperti puteri sendiri, amat memanjakannya.
Akan tetapi, pergaulan gurunya dengan orang-orang aliran hitam yang kasar dan kejam, palsu dan bahaya.
Gurunya tidak pernah mau bergaul dengan rakyat jelata yang dipandangnya amat rendah. Banyak tokoh sesat berdatangan ke rumah gurunya, berkunjung dan mereka itu kadang-kadang berpesta pora melampaui batas.
Bahkan gurunya yang biasanya nampak angkuh dan dingin itu, kalau sudah bertemu seorang rekan yang menyenangkan hati, sikap tidak tahu malu, bahkan tidak segan-segan untuk bercumbu di depan siapapun, bahkan di depan Hok Cu.
Karena semua ini, kadang-kadang di dalam hati Hok Cu timbul rasa benci dan muak.
Hal ini adalah karena ketika ikut dengan Mo Li, ia telah berusia sepulu tahun dan ia sudah diajar kesusilaan oleh mendiang ayahnya, seorang lurah di Kong-cung.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1