Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 101


__ADS_3

Tuan Putri Yu merasa penasaran sekali. Selama dia meninggalkan Tibet, dalam perantauannya belum pernah dia bertemu orang yang mampu menandingi kekuatan tenaga saktinya.


Walaupun wajahnya berseri, tapi dia juga merasa penasaran, kagum dan gembira mendapatkan lawan seimbang. Yauw Lie lalu melompat dan kini berhadapan langsung dengan Hua Li.


Dia kini menyerang dengan pukulan langsung dengan tangan kanannya meluncur ke depan mencengkeram ke arah dada lawan. Serangan ini cepat dan kuat sekali.


Hua Li juga mengerahkan tenaga dan cepat dia menangkis dengan jurus yang merupakan tangkisan dan sekaligus ketika tangan kiri menangkis serangan lawan, tangan kanannya menghantam dari atas ke bawah ke arah kepala Yauw Lie.


"Haitt...!"


Tuan putri Yu dengan cepat mengelak lalu sambil membalikkan tubuh dia balas menyerang dengan kakinya mencuat secara secepat kilat.


 "Bagh....bugh...bagh...bugh....!"


Kini keduanya serang menyerang dengan gerakan cepat dan kuat secara berulang-ulang.


Tidak kurang dari lima puluh jurus mereka saling serang dalam keadaan seimbang. Tiba-tiba terdengar suara berdebuk dua kali dan keduanya terhuyung ke belakang. Keduanya terhuyung dengan muka berubah agak pucat.


Hua Li menekan dada kiri dengan tangan kanan sedangkan tuan putri itu menekan dada kanan dengan tangan kirinya.


Ternyata dalam saat yang hampir bersamaan, Hua Li terpukul dada kirinya dan tuan putri itu terpukul dada kanannya. Sejenak keduanya menggosok-gosok bagian dada yang terkena pukulan.


"Tuan putri, ilmu silatmu sungguh hebat, aku merasa kagum!" seru Hua Li dengan jujur.


"Jangan terlalu merendahkan diri, pendekar Hua! Aku juga terkena pukulanmu. Keadaan kita masih seimbang. Mari kita tentukan siapa yang lebih unggul dengan senjata kita!" balas serutuan Putri yang kemudian tuan putri itu menghunus pedangnya yang indah dan yang ujungnya bercabang. Sedangkan Hua Li juga mencabut pedangnya yang bersinar emas.


 "Silahkan, tuan putri!" seru Hua Li yang tangan kanannya memberi isyarat pada tuan putri Yu itu.


Liu Hong sejak tadi mengamati pertandingan silat tangan kosong itu dengan muka penuh kecemasan. Hatinya merasa lega ketika kedua orang muda itu sama-sama terhuyung ke belakang dan agaknya hanya menderita luka ringan oleh pukulan masing-masing.


Akan tetapi begitu melihat mereka berdua sudah mencabut pedang, kekhawatirannya memuncak dan ia tidak menahan diri lagi..


"Adik Hua, jangan bunuh istriku! Tuan putri, jangan bunuh kakak misanku!!" seru Liu Hong sengan nyaring tapi terlihat khawatir. Akan tetapi agaknya seruan yang nyaring, itu tidak didengarkan atau tidak diperhatikan dua orang gadis yang sedang bertandin itu karena tuan putri Yu telah mulai menyerang Hua Li dan dengan cepat, Hua Li menangkis dengan cepat.

__ADS_1


"Trang...Trang...Trang....Trang...!"


Bunga api berpijar menyilaukan mata dan kedua orang gadis yang merasa betapa tangan mereka tergetar, cepat memeriksa pedang masing-masing. Akan tetapi ternyata pedang mereka tidak rusak oleh benturan yang amat kuat tadi. Maka kembali mereka sudah saling menyerang.


Liu Ceng merangkul Liu Hong dan menghiburnya.


"Adik Hong, tenanglah! kukira mereka tidak akan saling bunuh karena mereka berdua menyayangimu. Kalau hanya terluka, hal itu sudah wajar dalam sebuah adu jurus. Mudah-mudahan saja, siapa pun di antara mereka yang kalah, tidak akan menderita luka parah." kata Liu Ceng.


"Iya kak, aku akan coba itu." balas Liu Hong yang menghela napasnya.


Kemudian pertandingan pedang itu benar-benar mengasyikkan akan tetapi juga menegangkan untuk ditonton. Bergantian mereka menyerang dengan menggunakan jurus-jurus terampuh.


 "Hiaat.....!"


Tuan putri itu menyerang dengan jurusnyq yang pedangnya diputar lalu tiba-tiba pedang itu meluncur ke arah tenggorokan lawan. Hua Li cepat menggerakkan jurus dan beruntun.


Hua Lu utama menangkis pedang pangeran itu yang menyerang bertubi-tubi sampai tiga kali.


Terdengar bunyi berdenting-denting ketika berturut-turut kedua pedang itu beradu.


Kemudian Hua membalas dengan menyerang dan serangannya berkelanjutan karena begitu dielakkan lawan, pedangnya terus melakukan pengejaran ke mana pun lawan bergerak.


Diserang secara berkelanjutan itu, tuan putri Hua merasa kewalahan dan terpaksa dia memutar pedangnya untuk melindungi dirinya. Dia menangkis dengan jurusnya sehingga kembali terdengar suara berdentangan ketika sepasang pedang itu saling bertemu dan mengeluarkan bunga api yang berpijar-pijar.


"Trang...!"


Setelah mereka bertanding pedang selama lima puluh jurus lebih, tiba-tiba tuan putri mengubah gerakan pedangnya dan kini dia mainkan jurus pedang yang gerakannya aneh dan pedang itu sukar dibendung karena menyerang dengan bertubi-tubi.


Menghadapi ilmu pedang yang hebat ini, Hua Li lalu mainkan jurus pedang yang sudah disempurnakan oleh Hua Tian, ayah angkat sekaligus gurunya yang kemudian juga menggemblengnya.


Dua macam jurus pedang itu sama dahsyatnya. Lima orang tokoh persilatan yang juga mahir ilmu pedang, pada saat melihat Hua Li mainkan jurus pedang itu, mereka terkagum-kagum.


Memang pada dasarnya bersumber sama, akan tetapi pada ilmu pedang yang dimainkan gadis itu terdapat banyak kembangan yang tidak mereka kenal dan mereka harus mengakui bahwa jurus pedang yang dimainkan pedekar kecapi itu sungguh amat dahsyat dan jauh Iebih rumit.

__ADS_1


Dua orang gadis itu memang hebat. Tingkat ilmu silat dan tenaga sakti mereka berimbang sehingga sukarlah mendesak lawan. Setelah bertanding kurang lebih seratus jurus, Hua Li yang sudah mengambil keputusan untuk memenangkan Liu Ceng walaupun dia akan membuat kecewa adik misannya, segera mulai mengerahkan jurus meringankan tubuh yang dikuasainya.


Memang dalam hal jurus meringankan tubuh, Hua Li telah memiliki tingkat yang amat tinggi sehingga karena kecepatan gerakannya.


Maka, begitu dia mengerahkan jurus meringankan tubuhnya dan memainkan jurus pedangnya, Tuan putri Yu terkejut bukan main. Dia merasa seolah-olah bertanding melawan bayangan yang kadang-kadang lenyap dan tahu-tahu berada di belakang atau kanan kirinya.


Maklum saja karena lawannya benar-benar pantas disebut Pendekar tingkat tinggi karena memiliki jurus meringankan tubuh yang luar biasa. Dia memutar pedangnya dengan cepat namun tetap saja dia dibuat pusing dengan kecepatan gerakan lawannya.


 Para penonton kini memandang dengan penuh kagum. Dua gulungan sinar pedang itu bagaikan seekor naga emas dan naga perak melayang-layang dan saling belit, saling sambar dengan dahsyatnya.


Jika tubuh tuan putri masih tampak dan berkelebatan terbungkus sinar pedang, tubuh Hua Li benar-benar lenyap tak tampak bayangannya.


Tuan putri Yu melawan secara mati-matian dan dia lebih mengandalkan telinganya daripada matanya karena tubuh lawan yang tidak dapat dilihatnya itu masih dapat dia tangkap dengan pendengarannya.


"Cringgg.....!"


Tiba-tiba terdengar bunyi berdencing nyaring, tampak bunga api berpijar disusul teriakan tuan Putri Yu karena dia merasa pergelangan tangan kanannya tertotok dan pedangnya terpental ke atas.


Sebelum dia sempat menangkap kembali pedangnya yang terbang karena dihantam pedang lawan, Hua Li sudah mendahuluinya melompat ke atas dan ketika dia turun kembali, pedang milik pangeran itu telah berada di tangan kirinya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


   

__ADS_1


__ADS_2