
Dan kau adalah murid ke dua, padahal engkau sudah menguasai banyak ilmu silat perguruan Elang Sakti dan aku hanya akan menambahi beberapa jurus saja untuk memperkuat dirimu dan sebagai bekal." lanjut kata Hua Li.
Demikianlah, mulai hari itu Lan Yi menjadi murid Hua Li d setelah tubuhnya sehat kembali, mulailah ia merima gemblengan dari wanita perkasa itu yang mengajarkan jurus-jurus pilihan dari perguruan Bambu Kuning dan juga dia pemberi petunjuk tentang jurus pedang sepasang kepada laki-laki itu sehingga dalam waktu tiga bulan saja, Lan Yi telah memperoleh kemajuan pesat.
Lan Yi tahu diri. lama tinggal di pondok gurunya sebagai murid, ia bukan hanya mengantungkan diri sendiri dengan mempelajari ilmu ilat saja. la rajin bekerja membersihkan pondok, mencuci pakaian, memasak dan menyediakan semua keperluan suhunya dengan penuh perhatian.
Biarpun ia seorang laki-laki yang pendiam, namun ia selalu bersikap ramah, lembut dan penuh hormat kepada gurunya sehingga wanita perkasa itu merasa semakin sayang kepadanya, dan memang Lan Yi mengingatkannya pada murid pertamanya Han Beng.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Lan Yi sudah memasak air dan membuatkan air teh panas untuk gurunya, kemudian ia menyapu pekarangan dan membawa pakaian kotor ke sumber air untuk mencucinya.
AayGurunya baru saja bangun dan kini gurunya sedang berlatih silat untuk melemaskan otot-otot. Setiap pagi, untuk setengah jam lamanya, Hua Li selalu bersilat untuk menjaga kesehatan dan kesegaran tubuhnya.
Hua Li merasa segar dan gembira hatinya pagi itu. Semenjak Lan Yi berada di situ sebagai muridnya, Hua Li merasa seolah-olah kehidupa menjadi lebih menyenangkan.
Kalau dahulu kadang-kadang dia merasa kesepian sekali, merasa betapa hidupnya sudah tidak ada guna dan manfaatnya lagi baik bagi diri sendiri apalagi bagi orang lain, merasa tidak dibutuhkan manusia lain, kini dia merasa sebaliknya.
Lan Yi membutuhkan bimbingannya! Dan dia merasa berguna, juga tidak lagi merasa kesepian. Dia menghentikan latihannya menyeka keringat dan duduk di atas batu di pekarangan depan rumahnya itu.
Pekarangan itu sekarang nampak bersih. Daun-daun pohon kering tertumpuk sudut dan terbakar. Bunga-bunga tumbuh dengan segarnya. Memang tempat tinggalnya telah berubah sejak Lan Yi datang di situ.
Pekarangan selalu bersih, bunga-bunga subur berkembang, dalam rumah juga bersih, semua pakaiannya tercuci bersih dan setiap hari pun ada saja sayur dimasak laki-laki itu dengan lezatnya.
panjang.
Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan. Memang demikianlah keadaan hidup ini. Kita selalu diombang-ambingkan senang dan susah. Senang kalau bertemu dan berkumpul, lalu susah kalau berpisah. Senang kalau mendapatkan, susah kalau kehilangan.
Senang susah menjadi dua hal bertentangan yang silih berganti mencengkeram dan mempermainkan kita. Dan kita selalu menghendaki senang dan menolak susah.
Semua itu wajar. Hidup memang sudah disertai daya-daya rendah yang menjadi alat untuk mempertahankan hidup. Kalau daya-daya rendah itu tetap berfungsi menjadi alat, maka hidup pun baiklah.
__ADS_1
Yang gawat adalah kalau daya-daya rendah demikian kuatnya sehingga menjadi penguasa dan memperalat kita. Hidup kita seolah-olah hanya untuk mengejar pemuasan nafsu belaka.
.
Hua Li duduk termenung, mengenangkan hidupnya yang penuh kepahitan.
Kemudian, setelah dia terbebas dari tekanan dendam, baru dia merasa lega dan bebas. Dan perjumpaannya dengan Lan Yi seolah-olah merupakan cahaya terang dan membuatnya merasa berbahagia sekali.
Tiba-tiba dia memandang ke depan dan alisnya berkerut kembali. Dia lihat dua sosok tubuh orang mendaki puncak bukit itu. Dari gerakan mereka tahulah dia bahwa dua orang yang mendaki puncak itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Hatinya marasa tegang. Apakah dalam keadaannya yang sekarang ini pun datang gangguan.
"Siapa yang berani mendaki bukit ini kalau bukan mereka yang datang dengan niat buruk terhadap diri ku. Sudah lama aku meninggalkan dunia persilatan sehingga boleh dibilang dia sudah putus hubungan dengan para tokoh persilatan, maka tidak masuk di akal kalau ada tokoh persilatan yang sengaja datar berkunjung dengan iktikad baik. Dia sudah siap siaga, akan tetapi tetap duduk dengan sikap tenang." gumam Hua Li.
Bahkan ketika kedua orang itu sudah tiba di depannya, Hua Li tidak mengangkat muka memandang, melainkan tetap menunduk, akan tetapi tentu saja dia mengikuti gerakan mereka itu pendengarannya.
"Guru ......!"
Pemuda itu segera menjatuhkan diri berlutut di depannya dan kembali suaranya yang amat dikenalnya itu menggetarkan perasaan Hua Li.
"Guru ............. !"
Wajah Hua Li kini berseri, sinar matanya mencorong dan suaranya terdengar penuh kegembiraan.
"Han Beng muridku!" seru Hua Li yang melihat murid pertamanya itu.
Semenjak peristiwa yang terjadi di rumah Siang Lee dan Cu Ming yaitu pertemuannya yang terakhir kalinya dengan muridnya, dia merasa semakin kagum dan sayang kepada muridnya ini.
Seorang murid yang berani menyerahkan nyawanya demi untuk menyadarkan hatinya yang ketika itu menjadi buta dan mabuk oleh dendam. Sejak itulah dia merasa betapa selama puluhan tahun hidupnya dipenuhi racun dendam, selama puluh tahun hatinya terhimpit oleh gunung dendam yang membuat hidup terasa seperti dalam neraka.
__ADS_1
Dan muridnya inilah yang menghapus racun itu, yang menyingkirkan gunung itu, yang membuat dia menjadi seorang manusia yang bebas.
"Apakah guru sehat dan baik-baik saja?" tanya Han Beng yang penasaran.
Hua Li menganggukkan kepadan kini dia memandang kepada gadis cantik yang datang bersama muridnya itu. Seorang gadis yang wajahnya cantik, berbentuk bulat telur, dengan tubuh yang tinggi semampai dan ramping, pakaiannya rapi dan bersih, bibirnya yang merah sehat itu selalu tersenyum, matanya jeli dan kocak.
Gagang pedang yang tersembul belakang pundak itu saja menunjukkan bahwa gadis ini bukan seorang wanita lemah.
"Han Beng, siapakah Nona yang datang bersamamu ini?"
Sebelum Han Beng menjawab, Hok Cu sudah mengangkat kedua tangan di depan dadanya dan menundukkan kepalanya tanda memberi hormat.
"Pendekar! dua belas tahun yang lalu pendekar pernah berjumpa dengan saya di Sungai kuning. Apakah pendekar sudah melupakan saya?" tanya Hok Cu yang penuh selidik.
"Eh? Bertemu di tepi sungai kuning ? Kapankah itu, Nona? Dan di mana?" Dia bertanya heran.
"Dua belas tahun yang lalu, di atas perahu dekat pusaran maut ketika terjadi perebutan anak naga. Ketika itu, seperti juga Han Beng, saya dijadikan perebutan oleh para tokoh persilatan, dan Ayah Ibu saya menderita luka." kata Hok Cu.
Gadis yang bersama Han Beng itu, bukan sekedar mengingatkan, akan tetapi juga memancing Hua Li sambil menatap tajam wajah Pendekar wanita itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
__ADS_1
...Bersambung...
.