
Dalam perjalanannya mencari jejak kakak seperguruannya itulah Hong Lan tiba di dusun itu dan kebetulan melihat Cu Ming, ibu muda yang telah menggerakkan hatinya dan membangkitkan gairah berahinya.
Suami isteri yang sedang gembira melihat tingkah anak mereka yang mungil itu sama sekali tidak tahu bahwa ada pula sepasang mata yang sejak di mengintai mereka dari balik sebatang pohon, tak jauh dari situ pula. sepasang mata yang kadang-kadang lembut, kadang-kadang mencorong dahsyat,
Mata dari seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, berwajah tampan dan gagah. Itulah wajah pendekar muda yang mulai terkenal namanya karena dia sering muncul sepanjang Sungai Kuning dan seringkali dia muncul, tentu ada saja penjahat yang terjungkal dan dihajar bahkan banyak gerombolan penjahat dibasminya.
Sepak terjangnya sebagai seekor naga sakti, dia adalah Han Beng.
Cerita sebelumnya, Han Beng dan Hek Bin membasmi gerombolan yang diketuai Beng Cu, Han Beng lalu ikut Hek Bin ke Thai-san untuk menerima geimblengan kakek sakti itu.
Selama kurang lebih setahun dia digembleng kakek itu dan karena dia memang telah memiliki ilmu-ilmu silat tinggi dari dua orang gurunya terdahulu, yaitu Hua Li dan Kwe Ong, maka oleh kakek sakti itu dia hanya dilatih untuk memperdalam dan mematangkan ilmu-ilmunya, juga untuk mempelajari tenaga dalam yang lebih mendalam dan kuat.
Setelah lewat setahun, dia turun gunung dan teringat akan pesan gurunya yang pertama, yaitu Hua Li. Dia telah berjanji kepada gurunya itu untuk membalaskan dendam gurunya kepada dua orang suami isteri yang bernama Coa Siang dan Cu Ming.
Tidak mudah baginya untuk mencari jejak suami isteri itu, akan tetapi akhirnya, setelah dia berkunjung ke perguruan Harimau Hitam dan mencari keterangan, dengan mengaku sebagai seorang kenalan Coa Siang, dia berhasil memperoleh keterangan dimana kiranya suami isteri itu berada.
Ternyata bahwa diam-diam keluarga Coa selalu menyelidiki dan mengikuti keadaan kehidupan Coa Siang.
Biarpun Coa Song, ketua perguruan Harimau Hitam, kakek Coa Siang masih marah melihat cucunya itu menikah dengan puteri Mo Li, namun dia merasa girang bahwa menurut penyelidikan para anak buahnya, Coa Siang tidak terseret keluarga isterinya menjadi penjahat, melainkan hidup dengan tenang dan damai di dusun, menjadi petani.
Namun, dia masih belum menghubungi cucunya itu, walaupun diam-diam mencalonkan cucunya sebagai penggantinya kelak memimpin perguruan Harimau Hitam..
Setelah memperoleh keterangan dari perguruan Harimau Hitam, Han Beng lalu pergi berkunjung ke dusun itu dan menemukan suami isteri itu yang pada sore hari itu sedang bergembira bersama putera mereka di dalam taman.
__ADS_1
Sejak tadi Han Beng melakukan pengintaian dan terjadilah keraguan di dalam hatinya. Mereka adalah sepasang suami isteri yang demikian berbahagia dengan putera mereka, hidup tenteram penuh damai di dusun kecil itu.
Tapi gurunya memberi tugas kepadanya untuk menghancurkan kebahagiaan rumah tangga mereka, Bahkan girunya memesan agar dia menghancurkan cinta kasih antara suamiisteri ini,dengan cara apapun, Dan membawa sang suami itu pada gurunya.
Gurunya memang sudah menjadi seperti gila oleh dendam, gurunya seorang pendekar sakti yang gagah perkasa, menjadi lemah dan gila oleh duka dan dendam.
Andaikata dia menemukan suami isteri ini sebagai orang-orang jahat, masih mudah baginya untuk membalaskan dendam gurunya walaupun tentu saja bukan dengan cara yang dikehendaki gurunya.
Dia dapat membasmi suami isteri ini sebagai penjahat-penjahat yang layak dibasmi. Tapi, mereka berdua hidup begini tenteram dan penuh damai, berbahagia dengan putera mereka. Akan tetapi, siapa tahu, pikirnya. Banyak penjahat yang dari luar nampaknya hidup damai dan tenteram.
Pikiran terakhir ini membuat Han Beng mengambil keputusan untuk terus membayangi mereka, agar dia dapat yakin bagaimana sesungguhnya keadaan suami isteri yang agaknya amat dibenci suhunya itu. Dia menyelinap semakin dekat untuk mendengarkan prrcakapan antara mereka.
"Betapa indahnya hari ini..!" kata Cu Ming sambil memegang tangan suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Memang indah sekali. Lihat langit di barat itu, berwarna-warni demikian indahnya, seolah di balik sanalah terdapat sorga seperti dalam dongeng itu." kata Coa Siang.
"Sungguh berbahagia sekali hatiku. Memiliki kau sebagai suami dan Coa Ki sebagai anak... ahhh, aku merasa sebagai orang yang paling kaya di dunia ini, paling berbahagia...!" seru Cu Ming dengan selalu mengulas senyumnya.
Coa Siang tersenyum dan mengelus rambut kepala isterinya yang kini bersandar di dadanya.
"Perasaan bahagia dalam hati selalu membuat segala suatu nampak indah, istriku. Dan mudah-mudahan saja anak kita akan selalu dapat hidup berbahagia seperti ini, penuh damai, tenteram, dan tidak pernah mengenal permusuhan, kebencian dan kerasan seperti yang pernah kita alami dahulu." kata Coa Siang.
"Kau benar, suamiku. Aku pun akan pun menentang keras kalau Coa Ki dipernalkan dengan dunia kita dahulu. Kau masih mending, karena kau terlahir di dalam keluarga pendekar. Walaupun kau juga bergelimang dengan jurus silat dan kekerasan, namun setidaknya untuk menentang kejahatan, sebaliknya aku...!" ucap Cu Ming yang mengingat akan dirinya di masa lalu.
__ADS_1
"Sudahlah, kenangan masa lalu hanya akn mendatangkan sesal dan duka saja. yang penting, sekarang kita hidup sebagai petani-petani yang berbahagia, dan yang lebih penting lagi, kita akan mendidik putera kita menjadi seorang yang terpelajar, bijaksana, dan dia hanya akan mengenal cinta kasih, tidak mengenal kebencian, tidak mengenal silat dan tidak mengenal kekerasan dan bermusuhan." ucap Coa Siang.
Han Beng meninggalkan suami isteri itu, menjauhkan diri dengan hati semakin dipenuhi keraguan. Suami isteri itu kini telah menjadi sepasang suami isteri yang hidup berbahagia, juga memiliki pandangan hidup yang demikian baik.
Mereka berdua bahkan ingin menghapus semua kenangan masa lalu, menjadi petani-petani sederhana, bahkan merencanakan untuk mendidik putera mereka menjadi orang yang jauh ilmu silat! Dan dia harus menghancurkan kebahagiaan dua orang itu.
Keraguan yang membuat hati Han Beng merasa bimbang ini akhirnya membuat dia khawatir untuk mengintai terus, bayangan suhunya, yang telah demikian baik kepadanya, semua budi yang dilimpahkan guru pertamanya, sejak suhunya menyelamatkannya dari ancaman maut di Sungai kuning, lalu betapa gurunya yang mendidik dan menggemblengnya dengan kesungguhan hati selama lima tahun dan suhunya tidak pernah minta belas jasa.
Gurunya hanya membuat dia berjanji untuk memenuhi pesannya itu, hanya satu saja permintaannya, yaitu membalas dendam kepada suami isteri Coa Siang dan Cu Ming, dan kini dia ragu-ragu, bahkan condong untuk tidak memenuhi pesan gurunya.
Kalau dia berada di situ lebih lama lagi, dia khawatir kalau pikirannya akan berubah lagi. Tanpa diketahui suami isteri dan anak tereka, diapun meninggalkan tempat pengintaiannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1