
"Kami mengerti bibi guru." ucap kedua gadis yang memakai gaun warna hijau itu yang secara bersamaan.
Setelah kondisi Thian Yu pulih kembali kesehatannya, ia bersama tiga orang muridnya menemani Liu Ceng melanjutkan penyelidikannya di daerah pegunungan tengkorak itu.
Atas permintaan Liu Ceng, mereka menuju ke bagian Utara pegunungan tengkorak itu untuk menyelidiki anggota perguruan tengkorak hitam, karena selain sepasang iblis ini dianggap mencurigakan, juga Liu Ceng hendak mencari Yauw Lie dan Tan Liu Hong yang tempo hari melakukan pengejaran terhadap sepasang iblis itu.
...****...
Sementara itu dalam perjalanan mereka mencari pencuri harta karun Hua Li, Sin Lan, dan Sin Lin di sepanjang perjalanan mendengar bahwa banyak rombongan maupun perorangan dari dunia persilatan berdatangan di Pegunungan Tengkorak. Bahkan di sana-sini terjadi bentrokan di antara mereka.
"Hemm, perebutan dan persaingan sudah dimulai!" seru Hua Li
"Mereka itu orang-orang aneh. Harta karun belum juga ditemukan tapi mereka sudah saling serang?" kata Sin Lin.
"Sejak dulu kita sudah mendengar bahwa orang-orang persilatan ini memang aneh dan mereka suka sekali berkelahi. Mungkin dalam kesempatan mencari harta karun ini mereka pergunakan untuk mengukur kelihaian masing-masing," kata Sin Lan.
"Aku kita memang begitu, orang-orang seperti mereka itu menganggap bahwa mempelajari jurus-jurus silat selama bertahun-tahun hanya untuk berkelahi, memperlihatkan kepandaian dan mencari kemenangan. Karena itu, mereka cenderung tersesat dan mengutamakan kekerasan," kata Hua Li.
"Dasar tolol mereka semua itu. Seperti segerombolan anjing memperebutkan tulang dan asyik berkelahi sehingga tidak lagi mempedulikan tulang yang mereka perebutkan. Akhirnya, mereka itu babak belur akan tetapi tulangnya sudah dibawa pergi pihak lain!" gerutu Sin Lin.
"Ha ..ha...ha..., mudah-mudahan saja kita yang menjadi pihak lain itu!"seru Hua Li serata tertawa.
Perjalanan mereka makin naik ke lereng lebih tinggi, mereka semakin banyak mendengar akan keributan-keributan yang terjadi di daerah Pegunungan Tengkorak itu.
"Kakak Lan dan kakak Lin!" panggil Hua Li
"Agaknya pencari harta karun semakin banyak dan ramai. Karena itu, kukira lebih baik kalau untuk sementara kita mencari dengan terpencar. Aku mencari ke arah sana dan kalian berdua ke arah yang berlawanan. Sebulan kemudian kita bertemu kembali di perkampungan Tengkorak Hitam. Bagaimana pendapat kalian?" usul Hua Li.
__ADS_1
Sin Lin mengerutkan alisnya. Rasanya berat untuk berpisah dari gadis yang dikaguminya itu.
"Pendapat adik Hua benar. Dengan berpencar kita dapat lebih banyak mengetahui keadaan dan siapa tahu, Adik Hua atau kami berdua dapat memperoleh keterangan yang jelas tentang pencuri harta karun." ucap Sin Lan yang menyetujui pendapat Hua Li.
Dengan terpaksa Sin Lin menyetujuinya, Sin Lin tidak berani membantah, juga tentu saja ia malu untuk mengatakan bahwa dia tidak suka berpisah dari Hua Li.
Demikianlah, tiga orang itu berpisah menjcadi dua, walaupun seorang gadis Hua li melanjutkan penyelidikannya seorang diri, sedangkan Sin Lan dan Sin Lin mencari ke arah lain.
Sebetulnya Hua Li mengambil kebijaksanaan untuk berpencar karena dia juga sedang mengkhawatirkan keadaan Liu Hong dan Liu Ceng yang belum juga dapat dijumpainya.
Setelah mereka berdua berpisah dari Hua Li dan berjalan cukup jauh, Sin Lin mengomel kepada kakaknya.
"Kakak Lan kenapa engkau setuju berpisah dari Adik Hua? Tempat ini amat berbahaya, kalau tidak ada adik Hua, apakah kita berdua tidak akan terancam bahaya?" tanya Sin Lin yang mengakui kemampuan beladiri ya tak setinggi Hua Li.
"Adik Lin, benarkah ini kamu yang bicara? Sejak dulu aku tahu akan keberanianmu menempuh bahaya apa pun. Akan tetapi mengapa sekarang kau begitu penakut? Belum juga muncul bahaya kau sudah takut lebih dulu!" seru Sin Lan yang merasa heran.
"Kakak Lan, perjalanan kita sekali ini menempuh bahaya yang besar. Kakak bukanya sudah merasakan sendiri. Baru bertemu seorang pendekar aliran hitam saja, kita berdua tidak mampu menandinginya dan kalau tidak ada adik Hua, tentu kita sudah celaka di tangan pendekar aliran hitam itu." jelas sin Lin sesuai dalam pikirannya.
"Aduh kakak Lan...! pendekar aliran hitam macam mereka itu sudah sepatutnya kita musuhi!" seru Sin Lin sedikit kecewa.
"Kita tidak memusuhi mereka tapi kalau dia menyerang kita, terpaksa kita harus lawan mereka dengan mati-matian. Akan tetapi kalau tidak, untuk apa kita mencari penyakit? Intinya aku melarang kamu turun tangan menggunakan kekerasan menyerang siapa saja sebelum aku beri tanda. Ingat pesan Ibu, dalam perjalanan ini sudah berjanji untuk menaati kata-kataku!" kata Sin Lang yang panjang, menasehati adiknya.
Sin Lin makin bersungut-sungut akan tetapi tidak berani membantah lagi.
"Baiklah, kakakku yang baik, mulai sekarang aku akan menaati semua perintahmu." ucap Sin Lin yang merajuk dengan sikapnya seolah menghadap seorang pangeran hyang harus dipatuhi dan dihormati.
Mau tidak mau Sin Lan tersenyum geli melihat sikap adiknya yang sinis itu.
__ADS_1
"Sin Lin Adikku yang baik, semua yang kupikirkan, katakan atau perbuat semata-mata untuk kebaikan dan keselamatan kita berdua. Kita sekarang hanya berdua, apakah engkau mengajak aku bertengkar? Kalau kamu tidak merasa puas, baiklah mulai sekarang engkau yang memimpin dan aku akan memaati semua petunjukmu." ucap Sin Lan yang mencoba mengalah.
"Kakak Lan, jangan begitu! Sekarang kakak yang merajuk!" seru Sin Lin yang setengah cemberut setengah tertawa sehingga Sin Lan tertawa. Mereka lalu berpelukan dengan eratnya.
"Nampaknya matahari sudah condong ke barat. Kita harus cepat mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam yang akan segera tiba." ucap Sin Lan.
"Benar kak!" balas Sin Lin.
Mereka kini berlari cepat dan ketika dari atas sebuah bukit mereka melihat rumah-rumah pedusunan bergerombol di lereng bawah, mereka cepat menuruni bukit menuju ke dusun kecil itu.
Dusun di lereng itu hanya kecil saja, dihuni tidak lebih dari lima puluh kepala keluarga. Melihat keadaan rumah-rumah di situ dapat diduga bahwa penghuni dusun itu berkeadaan cukup baik.
Rumah mereka kokoh dan jalan di dusun itu pun rapi dan terawat bersih. Akan tetapi ketika dua orang pemuda itu memasuki dusun, mereka penasaran.
Matahari belum terbenam dan cuaca masih terang, apalagi waktu itu langit pun bersih tidak ada mendung.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1