
Hua Li menghela napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.
"Apakah anda tahu tentang warga kamu yang mereka tahan?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Aku tak tahu perihal tahanan, yang aku tahu kalau aku dipaksa menanda tangani berkas-berkas kosong dan mereka mengancam saya, kalau tak mau menanda tanganinya maka mereka akan menculik para gadis di desa ini untuk mereka jual di rumah borddil." jawab si kepala desa itu.
Dan kini semua warga tahu kalau pemerasan dan pembunuhan yang terjadi selama ini, pelaku ya adalah kelima perampok itu. Dan kepala desa mereka ternyata selama ini diancam oleh para perampok itu.
Semua penduduk kampung menyambut kedatangan Hua Li dengan sorakan gemuruh. Mereka berterima kasih sekali, terutama kepala desa sendiri.
Kepala desa yang sudah tua ini mengumpulkan seluruh keluarganya dan bersama-sama mereka berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala di depan Hua Li.
Tentu saja gadis itu menjadi repot dan bingung, karena tak mungkin ia dapat mencegah orang sebanyak itu yang berlutut padanya, maka tiada lain jalan baginya selain ikut pula berlutut membalas hormat mereka.
Maka berpestalah seluruh kampung pada hari itu dan tiap bibir menyebut-nyebut nama Hua Li dengan si pendekar Kecapi.
Kepala desa memberikan Hua Li fasilitas makan dan menginap di penginapan yang ditunjuk oleh kepala desa.
Hua Li menerimanya dengan senang hati karena hal inilah yang dia inginkan sedari awal. Makan dan beristirahat dalam semalam ini.
...***...
Pada keesokan harinya, setelah berpamitan, Hua Li meninggalkan desa itu dengan diantar oleh seluruh penduduk tua dan muda, laki-laki perempuan, sampai jauh di luar kampung.
"Kembali Hua Li melakukan perjalananya menyusuri jalan di tepi sungai kuning, dengan tujuan mencari kedua orang tua kandungnya.,
Beberapa hari lewat tanpa terjadi sesuatu yang penting. Dan pada hari yang ketiga, Hua Li tiba di tepi sebuah sungai yang cukup lebar karena pada waktu itu musim hujan telah tiba,
__ADS_1
Hua Li bertanya pada warga yang ditemuinya, dan telah diberitahu oleh orang di desa yang baru dilewatinya bahwa ada jembatan besar yang menyeberangi sungai itu terdapat kira-kira lima li di sebelah barat. Ia melihat di tempat itu sunyi sekali, ia cepat menanggalkan pakaian luarnya dan mengganti pakaian mandi yang ringkas.
Rambutnya yang panjang itu ia gelung ke atas dan diikatnya dengan sepotong sutera halus. Kemudian ia terjun ke dalam air yang dalam dan mengalir deras itu! Sebentar kemudian tubuhnya berenang hilir mudik dengan cepat sekali dan Hua Li merasa tubuhnya lebih segar.
Alangkah nikmatnya mandi di sungai yang airnya dalam dan dingin itu serta jernih itu. Karena itu Hua Li merasa betah sekali mandi di situ. Ia menyelam ke dalam air mencari kerang dan mengejar ikan-ikan kecil yang bermacam-macam warna dan bentuknya.
Pada saat seperti itu ia lupa akan segala, lupa akan orang tua yang sedang dicarinya, lupa akan ayah yang ditinggalkannya, pendeknya lupa akan segala kesusahan dan hanya merasa gembira dan bahagia.
Air sungai itu makin ke hilir makin besar. Dan dalam kegembiraannya, Hua Li telah berenang mengikuti aliran air sungai jauh juga dari tempat dia meletakkan kecapi dan bekalnya.
Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang mengerikan terjadi di permukaan air, agak jauh ke hilir.
Sebuah perahu kecil yang indah terombang-ambing di permukaan air karena sedang diserang oleh seekor ular air warna hitam yang besar dan panjang! Ular itu telah menggunakan ekor dan tubuhnya membelit perahu dan kepala dijulurkan ke dalam hendak menerkam seorang yang mempertahankan dirinya dengan sebuah dayung kayu dan mencoba untuk memukul kepala ular itu dengan dayung.
Tapi usaha orang itu sia-sia karena kepala ular makin dekat dan tiap saat tentu ia akan menjadi mangsa binatang itu yang agaknya tidak terburu-buru untuk segera menerkam mangsanya dan hendak mempermainkan lebih dulu.
Orang itu ternyata seorang tua yang berpakaian bangsawan dan sikapnya gagah dan kini berdiri dengan mata terbelalak memandang gadis yang basah kuyup itu.
Hua Li lupa bahwa dengan pakaiannya yang ringkas dan basah itu sebetulnya tidak pantas untuk memperlihatkan diri di depan seorang laki-laki. Ia menggunakan dayung itu untuk memukul kepala ular.
Ketika dayung itu masih berada di tangan laki-laki bangsawan itu dan digunakan untuk menyerangnya, binatang itu dengan mudah dan secara main-main mengelakkan tiap pukulan.
Kini menghadapi serangan Hua Li, sekali pukul saja dayung itu tepat mengenai kepala ular sehingga ular itu mengamuk karena merasa sakit.
Dari mulutnya keluar busa dan ia menyembur-nyembur dan mendesis-desis. Tapi Thian Hwa tidak takut bahkan ia menggunakan dayungnya menghantam tubuh dan ekor yang melilit perahu.
Ular itu memberontak keras dan perahu itu hampir terguling dan terbalik. Orang tua bangsawan itu berteriak ketakutan karena dia tidak pandai berenang dan jika jatuh ke dalam air berarti mati baginya, maka dia berpegang kepada pinggiran perahu dan duduk dengan tubuh menggigil.
__ADS_1
Melihat hal ini, Hua Li lalu meloncat ke dalam air dan menggunakan tangannya menahan badan perahu sehingga tidak berguncang lagi.
Tapi pada saat itu, ular yang panjangnya lebih sepuluh kaki itu meluncur di permukaan air dan menyerangnya dengan hebat dan mulut terbuka lebar.
"Awaaaassss!!!"
Seru laki-laki itu yang menjerit ngeri ketika melihat hal ini, tapi Thian Hwa cepat bergerak menjauhi perahu karena ia hendak memancing ular itu menjauhi perahu.
Kalau harus bertempur di dekat perahu, maka ia akan sibuk sekali dan harus memecah perhatian dan tenaganya menjadi dua, sebagian untuk melawan ular, sebagian lagi untuk menjaga perahu. Ia berenang cepat dan dikejar dari belakang oleh ular itu.
Sebetulnya, melihat badan ular yang panjang dan kelihatan licin berlenggang-lenggok itu, timbul ngeri dan jijik di dalam dada Hua Li, tapi semua itu dia tepis.
Gadis itu mencari akal untuk melawan sebaiknya dan secepatnya menjatuhkan atau membinasakan ular itu. Tiba-tiba ia membalik dan berenang sambil telentang menghadapi ular itu. Ia sengaja berenang perlahan dan kadang-kadang mengangkat tubuhnya tinggi untuk memanaskan hati ular itu. Benar saja, ular itu makin marah dan mempercepat berenangnya.
Ia kini meluncur dengan cepat sekali ke arah gadis itu dengan mulut dibuka selebar-lebarnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1