Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 112


__ADS_3

Kalau sampai saat itu Coa Siang masih belum roboh bahkan terluka, hal itu adalah karena perasaan ini yang mengganjal di hati Hua Li..


Kini terjadi perkelahian yang seru namun berat sebelah antara Hua Li yang kini tak memakai kecapi sebagai senjatanya, melainkan memakai pedang dari salah satu murid perguruan Harimau Hitam yang telah dia ambil untuk melawan Coa Siang.


Perkelahian itu sangatlah seru karena Coa Siang dengan nekad masih terus menyerang mati-matian, namun semua serangannya gagal dan kemanapun sianr sepasang pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan pedang yang digunakan Hua Li dan dia terpental kembali. .


"Coa Siang, sudahlah. Tiada gunanya kau nekat. Kalau seperti ini, kau bisa mati konyol. Apakah kau tidak mau menghentikan permusuhan gila ini? Pulanglah, dan aku tak akan mencegahmu!" seru Hua Li..


"Hei...! Pendekar kecapi, tak usah banyak cakap hari ini kau atau aku yang mati!" seru Coa Siang mendesak dengan sepasang pedangnya.


Pemuda ini memang lihai dan ilmu sepasang pedang itu pun berbahaya sekali. Sekarang setelah tidak ada murid perguruan Harimau hitam yang tersisa untuk membantu, dia bahkan dapat mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya dan terasalah oleh Hua Li bahwa pemuda ini memang cukup tangguh.


Diapun memutar pedangnya dan kini terjadilah perkelahian yang lebih hebat lagi, karena Hua Li tentu saja tidak menjadi korban sepasang pedang yang ganas itu dan dia mulai membalas dengan serangan-serangannya. Biarpun dia mampu mendesak pemuda itu, namun pendekar tinggi besar ini maklum bahwa tidak mau menerima usulnya berdamai itu membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.


Tiba-tiba ada suara bentakan seorang gadis yang begitu nyaringnya.


"Pendekar kecapi..! Kau begitu jahat, tak akan aku biarkan kau hidup...!"


Dan begitu bentakan itu terhenti, terdengar suara berdesing-desing dan ada tiga sinar kecil berkelebat menyambar kearah tubuh Hua Li.


Itulah tiga batang senjata rahasia piauw beronce merah yang mengandung racun.


Hua Li mengeluarkan bentakan nyaring dan berkali-kali dirinya bersalto guna menghindari serangan piauw beronce itu, seraya menagkis piauw itu dengan pedangnya. Tiga batang piauw itu terpukul dan terlempar jauh, dan Hua Li meloncat jauh kebelakang.


 "Tahan senjata...!" bentaknya dan suaranya mengandung kekuatan tenaga dalam yang demikian hebatnya sehingga Coa Siang dan orang yang baru muncul itu berhenti dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian.

__ADS_1


Ketika dia memandang gadis yang baru saja muncul dan yang menyerangnya dengan senjata rahasia piauw itu. Wajahnya yang bulat telur dengan kulit muka putih kemerahan, rambut yang hitam halus dan panjang, mata yang bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora, mulut yang bibirnya merah basah dan menantang itu.


"Kau siapakah?" tanya Hua Li yang penasaran.


"Sebetulnya, tidak pantas seorang macam kau mengenal namaku, Hua Li!" seru gadis itu dan Hua Li menatap gadis itu dengan penasaran.


"Oh, begitu kah? Cih, sombong sekali kau!" umpat Hua Li dengan kesal.


"Ha...ha...! baiklah, perlu kau ketahui namaku Cu Yang. Aku putri kedua dari ketua perguruan Bukit Merak, dimana ayah dan kakakku kau habisi di pulau Ular beberapa waktu yang lalu!' seru gadis itu yang mengaku sebagai saudara dari Cu Ai.


"Jadi kau putri Cu Liong juga? Hm, setahubaku dia hanya punya satu putri, dan itupun memaksa aku untuk mengajarinya bermain kecapi, apakah kau minta diajari main kecapi juga?" tanya Hua Li yang masing mengingat kejadian beberapa hari yang lalu itu.


"Tapi aku punya tujuan lain! aku akan membunuhmu karena kaulah yang membunuh ayah dan kakakku!" seru Cu Ming dengan tatapan tajamnya.


"Kau salah! waktu itu aku tak membunuh mereka! tapi pasukan Mongol lah yang mengepung pulau Ular dan menyerang mereka dengan bola-bola nanasnya (granat)! Dan aku datang stelah semua penghuni pulau ular luluh lantah!" seru Hua Libyang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku tak peduli! yang aku tahu keinginan kakakku tak kau kabulkan dan malah kau membunuh mereka tanpa ampun!" teriak Cu Ming disusul berkelebatnya sinar hitam yang selain cepat dan dahsyat, juga membawa bau amis tanda bahwa pedang itu, yang berwarna hitam, seperti senjata rahasia piauw tadi, mengandung racun yang berbahaya. Pedang itu membuat gerakan memutar, berkelebat dan tiba-tiba menusuk ke arah wajah Hua Li.


Dan begitu pendekar ini mengelak ke kiri, pedang yang luput menusuk muka itupun berkelebat mengejar ke kiri dan membacok ke arah leher.


Cepat sekali gerakan gadis yang berpakaian serba hitam itu, dan bau amis dari pedangnya membuat lawan merasa muak dan pusing. Namun Hua Li yang tahu akan berbahayanya pedang hitam itu, dengan cepat mengerahkan tenaganya untuk menahan serangan bau amis, dan begitu melihat pedang membacok, diapun menggerakkan pedangnya di tangan kiri untuk menangkis dan melibat agar dia dapat merampas pedang itu.


Akan tetapi, gadis itu ternyata lihai sekali karena begitu pedangnya ditempel pedang Hua Li sebelum pedang itu melibat, ia sudah menarik kembali pedangnya, memutar tubuh, dan kini pedangnya membuat gerakan panjang menyapu ke arah kedua kaki lawan.


"Hm....!"

__ADS_1


Hua Li meloncat keatas dan dari atas, ujung pedangnya menyambar kearah kepala gadis itu. Gadis bernama Cu Ming itu pun dapat mengelak dengan gerakan yang cepat dan pada saat itu Coa Siang sudah menerjang kedepan dan menyerang dengan pedang kembarnya di kedua tangannya.


Kini Hua Li dikeroyok dua dan terasalah oleh pendekar ini betapa sepasang muda ini memang memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Tingkat kepandaian gadis itu bahkan tidak kalah dibandingkan dengan tingkat kepandaian putera Coa Kun itu, dan terutama pedang gadis itu dan pukulan tangan kirinya, dan mereka sangatlah berbahaya.


Hua Li mengetahui bahwa Cu Ming ini selain memiliki senjata-senjata beraun, juga mahir menggunakan pukulan beracun.


Perkelahian itu terjadi lebih seru dibandingkan dengan ketika Hua Li yang dikeroyok oleh rombongan perguruan Harimau hitam tadi. Karena kedua orang muda itu sama-sama menggunakan pedang, dan tempat perkelahian menjadi luas dengan hanya adanya mereka berdua yang mengeroyok, mereka dapat bersilat dengan leluasa, mengerahkan semua tenaga dan kepandaian.


Beberapa kali Hua Li mencoba untuk merampas pedang kedua orang muda itu, namun selalu gagal. Kiranya selain memiliki tenaga tenaga dalam yang cukup kuat, kedua orang muda itu pun cerdik sekali dan tidak pernah terlambat untuk menarik kembali pedang mereka sebelum terlibat.


Sebetulnya, kalau dibuat ukuran, tingkat kepandaian kedua orang muda itu masih belum mampu menandingi tingkat kepandaian Hua Li yang sudah matang, Hua Li tak pernah lalai untuk melatih diri, bahkan memperdalam ilmu silatnya.


Namun kedua orang muda itu silatnya hebat, dan terutama sekali hawa beracun yang keluar dari pedang dan tamparan tangan kiri Hua Li yang amat berbahaya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2