Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 296


__ADS_3

"Han Beng, sebelumnya maukah kau memaafkan aku?" tanya Hok Cu.


Han Beng mencium rambut wangi gadis itu.


"Tentu saja, bahkan tidak perlu ada maaf dariku karena apapun yang telah kau lakukan, kuanggap semua itu sudah berlalu dan tidak ada lagi. Nah, ceritakan." kata Han Beng yang semakin penasaran.


"Dahulu, ketika kita saling berpisah, aku berusia sepuluh tahun!" kata Hok Cu yang memulai ceritanya.


"Ya, ya, dan aku berusia dua belas tahun." balas Han Beng yang menyimak cerita Hok Cu.


"Aku ditolong oleh Mo Li yang kemudian menjadi guruku." lanjut kata Hok Cu.


 "Dan aku menjadi murid Pendekar kecapi Hua Li yang dilanjutkan pula oleh Raja p3ngemis Kwe Ong." sambung Han Beng.


"Ketika aku dibawa pulang oleh Mo Li dan diambil murid, ia telah menggunakan jarum menusuk lenganku yang kiri ini. Lihat, Han Beng, kau lihat bintik merah kecil ini?" tanya Hok Cu yang kemudian menggulung lengan bajunya yang kiri dan mendekatkan lengannya.


Lengan yang kecil dan berkulit putih halus. Han Beng tak tahan untuk tidak menyentuh kulit dengan yang halus lembut itu dengan hidungnya.


"Lenganmu indah sekali, Hok Cu." kata Han Beng yang memuji.


Hok Cu merasa betapa seluruh bulu di badannya meremang ketika lengannya dicium Han Beng, lalu menarik lengan itu.


"Ihhh, Han Beng, dengarkan ceritaku dan pandanglah bintik merah bawah siku ini. Apakah kau melihatnya?" tanya Hok Cu.


"Aku melihatnya. Bintik merah itu menambah indah lenganmu." jawab Han Beng.


"Hentikan rayuanmu itu dan dengar baik-baik. Bintik itu adalah akibat tusukan jarum dari Mo Li, itu berarti jarum beracun yang jahat sekali!" seru Hok Cu.


"Eh....!" Kini seluruh kemesraan terbang dari kepala Han Beng dan dia memandang terbelalak berubah menjadi hawatir sekali.


"Jarum beracun? Akan tetapi, hal itu tentu sudah terjadi belasan tahun yang lalu dan sampai sekarang kau masih sehat dan kuat?" tanya Han Beng yang penasaran.


"Racun itu baru akan bekerja kalau bintik itu lenyap, Han Beng." jelas Hok Cu.

__ADS_1


"Tapi sudah belasan tahun tidak lenyap, takut apa? Biarkan bintik itu tidak lenyap, tidak mengurangi keindahan lenganmu." kata Han Beng yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Tapi, begitu bintik itu lenyap, dalam waktu sebulan nyawaku akan melayang dan tidak ada obat di dunia ini yang akan mampu menyelamatkan aku." kata Hok Cu.


"Tapi..... tapi..... bintik itu masih ada dan....." kata Han Beng yang belum selesai.


"Ya, bintik merah itu akan lenyap kalau aku..... aku tidak perawan lagi....." kata Hok Cu.


"Ahh....!" seru Han Beng yang memandang wajah kekasihnya dengan mata terbelalak.


Baru kini dia mengerti mengapa dari tadi kekasihnya menangis, kalau Hok Cu menikah dengan dia yang itu berarti menjadi isterinya, dalam waktu sebulan ia akan mati keracunan.


"Itulah sebabnya kenapa aku...aku tidak dapat menjadi isterimu, Han Beng!" kata Hok Cu dengan kedua matanya yang kembali berkaca-kaca.


Tiba-tiba Han Beng meloncat berdiri dan menarik tangan gadis itu. Hok Cu juga meloncat berdiri dan memandang bingung.


"Mari kita pergi sekarang juga!" seru Han Beng.


"Ehhh? Ke mana?" tanya Hok Cu yang penasaran.


Rupanya kemarahan telah membuat Han Beng berubah menjadi kejam dan sadis, walaupun itu baru dalam kata-kata saja.


Mereka tidak bicara lagi, berlari cepat dan Hok Cu menyerahkan segalanya kepada kekasihnya. Hatinya terasa lega karena bagaimanapun juga, rahasia itu tidak ditanggungnya sendiri, kini telah dibuka kepada Han Beng. Bahkan calon suaminya itu yang kini mengambil alih darinya untuk mencarikan jalan keluarnya.


Hari telah siang ketika mereka tiba di benteng, disambut oleh perwira Yap yang kelihatan lelah karena penyerbuan semalam.


Akan tetapi ternyata kemuraman wajah perwira Yap bukan hanya karena lelah, dan hal itu baru diketahui Han Beng dan Hok Cu yang datang dan bertanya tentang keberadaan Mo Li.


"Kami harap agar perwira mau mengijinkan kami bicara sebentar dengan MobLi yang menjadi tawanan. Ada urusan pribadi yang amat penting hendak kami bicarakan dengan Mo Li." kata Han Beng.


Mendengar ini perwira Yap menggebrak meja.


"Brakkk....!"

__ADS_1


"Inilah! Justeru baru saja kami memarahi para petugas, akan tetapi semua kesalahan terletak pada pundak empat orang penjaga yang sudah mati. Sungguh celaka! Sialan mereka itu!" seru Perwira Yap dengan kesal.


"Apa yang telah terjadi, perwira?" tanya Hok Cu yang bingung melihat ulah perwira tinggi itu.


"Semalam, Mo Li telah lenyap dari dalam selnya!" jawab Perwira Yap yang masih saja kesal.


"Ahh...!" seru Han Beng, dan kini wajah Han Beng menjadi berubah agak pucat saking kaget dan kecewanya.


"Bagaimana hal itu dapat terjadi?" lanjut tanya Han Beng yang penasaran.


"Tidak ada yang tahu bagaimana hal itu terjadi. Akan tetapi ada seorang perajurit yang malam hari itu, sebelum dia meninggalkan tugas jaga untuk bertugas di tempat lain, melihat Mo Li yang bersikap manis dan akrab sekali dengan empat orang penjaga itu, mereka nampak mesra. Tidak ada yang tahu. Tahu-tahu mereka berempat terdapat tewas di tempat penjagaan dan Mo Li sudah tidak berada di dalam tahanan. Pintu kamar tahananbpun tidak rusak kuncinya, jadi bukan dibuka dengan paksa." jelas Perwira Yap.   


"Apakah tidak ada kemungkinan tawanan itu dibantu orang dari luar yang meloloskarinya?" tanya Han Beng mengerutkan alisnya.


"Segala kemungkinan memang ada, akan tetapi penjagaan amat ketat sehingga sukarlah bagi orang luar untuk dapat masuk tanpa diketahui. Setidaknya, empat orang yang bertugas jaga itu tentu mengadakan perlawanan mati-matian dan memberi tanda bahaya. Akan tetapi sama sekali tidak ada perlawanan, sama sekali tidak terdengar teriakan atau tanda bahaya lain." kata Perwira Yap.


"Maaf, Perwira! Bagaimana matinya empat orang itu? Adakah luka-luka atau tanda lain?" tanya Hok Cu yang ikut penasaran.


Pwrwira Yap mengerutkan alis dan menggeleng-geleng kepala.


"Memang aneh sekali. Tidak ada luka. Hanya dua diantara mereka mati dengan mulut biru menghitam....." jawwb perwira Yap secara perlahan.


"Hm, ciuman maut.....I" seru Hok Cu, tenang akan tetapi ia pun mengerutkan alisnya karena ia sudah dapat menduga bagaimana caranya iblis betina bekas gurunya itu berhasil meloloskan diri.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ...

__ADS_1


...Bersambung...


...   ...


__ADS_2