
Tanpa terasa biduk yang membawa Hua Li itu melaju sampai ke negara bagian lain yang sangat jauh dari kerajaan Manchu, apalagi perkampungan Bambu Kuning.
...****...
Siang hari itu langit di atas kota Cin-yang di Propinsi Shantung diliputi mendung tebal. Pertanda akan turun hujan tampak jelas. Orang-orang yang berdagang di tepi jalan segera bersiap-siap untuk menggulung tikar dan menyelamatkan barang dagangan mereka dari guyuran air hujan.
Bukan hanya manusia yang bersiap-siap menghadapi curahan air hujan di langit. Burung-burung yang beterbangan pun pulang ke sarang mereka. Tak lama kemudian, setelah kilat dan guntur menggelegar di angkasa berulang-ulang, turunlah air hujan bagaikan dituangkan dari langit.
Hujan baru reda setelah lewat tengah hari. Biarpun kini sisa hujan masih ada, air turun rintik-rintik dan jarang, namun sinar matahari yang mulai condong ke barat membuat suasana menjadi cerah kembali.
Tiba-tiba serombongan orang berkuda menarik perhatian penduduk Cin-yang. Rombongan itu adalah pasukan Kerajaan Mongol. Jumlah mereka sekitar lima puluh orang, dipimpin oleh seorang panglima yang bertubuh tinggi besar, matanya sipit dan mempunyai brewok.
Pasukan itu tampak gagah dan garang. Di sampingnya terdapat seorang pemuda tinggi besar bermuka hitam berusia sekitar dua puluh lima tahun. Panglima itu berusia sekitar empat puluh lima tahun.
"Wah, panglima itu adalah Panglima Besar Lim Bao yang terkenal galak dan kejam. Dia adalah ayah dari tuan muda Lim Mao yang mata keranjang dan suka mengganggu para gadis dan wanita yang dia temui.
Karena itu semua orang menjadi takut, apalagi mereka yang mempunyai anak perempuan yang sudah remaja dan dewasa dan yang memiliki wajah lumayan. Mereka segera menyuruh anak mereka untuk bersembunyi.
Pada suatu ketika pasukan perajurit yang dipimpin oleh Panglima Lim Bao tidak mempedulikan penduduk Cin-yang dan pasukan itu langsung saja menuju ke gedung pembesar Yo yang menjadi pembesar kepala daerah di Cin-yang.
Setelah memasuki halaman gedung itu, Panglima Lim Bao memerintahkan prajuritnya untuk turun dari punggung kuda dan siap berjaga di luar menanti perintahnya.
Kemudian dengan langkah gagah dia memasuki pendapa gedung itu, diiringkan puteranya, yaitu Lim Mao, pemuda Mongol yang tinggi besar berwajah hitam.
Panglima Lim Bao adalah panglima yang mengepalai seluruh pasukan yang berada di Propinsi Shantung sampai ke selatan. Karena tugasnya meliputi daerah yang luas, di mana dia sering melakukan kunjungan untuk menerima laporan dan meneliti keadaan, maka dia jarang pulang ke gedungnya yang berada di kota Cin-yang.
Apalagi akhir-akhir ini dia sibuk melakukan pengejaran terhadap harta karun peninggalan Kerajaan Han. Lebih dari satu tahun dia tidak pernah pulang ke Cin-yang.
Ketika kemarin dia pulang ke Cin-yang, dia menerima laporan dari putera tunggalnya Lim Mao yang membuat dia marah bukan main.
Pemuda muka hitam itu melaporkan betapa dia dan sahabatnya yang bernama Kun Cie, yaitu putera pembesar Ku kepala pengadilan di Cin-yang, telah mengalami penghinaan.
__ADS_1
Mereka pukuli dan ditelanjangi dan digiring mengelilingi kota Cin Yang, sehingga semua penduduk melihat keadaan mereka yang telanjang dan hanya ada sehelai kain untuk menutupi alat vital kedua pemuda itu.
Maksud dari si penghukum itu adalah agar Lim Mao dan Kun Cie yang sebelumnya adalah pemuda-pemuda jahat yang mengandalkan kekuasaan ayah mereka yang tidak mampu mendidik mereka dan sekarang mendapat hajaran keras agar mereka bisa jera.
Lim Mao menceritakan hal ini kepada ayahnya sambil menangis karena dia merasa terhina sekali.
Sejak peristiwa itu, Lim Mao dan Kun Cie segan untuk keluar rumah karena pandangan para penduduk terhadap mereka yang mengejek dengan sinis.
Saat itu Lim Bao yang sedang minum arak, dan dia sangat terkejut pada saat mendengar laporan puteranya itu.
"Brakkk...!"
"Prakk...!'
Dia membanting guci arak sehingga hancur dan tangannya menampar ujung meja marmar sehingga pecah. Matanya yang lebar itu menunjukkan perasaannya yang penuh kemarahan.
Kurang ajar! Siapa berani berbuat demikian kurang ajar terhadap Anakku!" bentak Lim Bao yang mendengus kesal.
Lim Bao semakin marah sehingga dia bangkit berdiri dan mengepal tinjunya.
"Pendekar Kecapi! Itu adalah julukan dari Hua Li! dasar gadis keparat!! apa maunya mengganggu putraku dan temannya!" gerutu Lim Bao dengan geram.
"Ceritanya begini, Ayah. Aku dan Kun Cie bertemu dengan dua orang gadis yang ternyata mereka masih satu saudara, dan yang satu bernama Siok Eng dan yang kedua bernama Siok Hwa dan Kun Cie jatuh cinta pada Siok Hwa. Dan kami menggoda mereka karena ingin berkenalan dengan Siok Eng dan Siok Hwa." cerita Lim Mao seraya menatap ayahnya.
"Lantas bagaimana kelanjutannya?" tanya Lim Bao yang penasaran.
"Entah dari mana tiba-tiba muncul pendekar kecapi yang menyerang kami dan kemudian dia menyuruh para warga menelanjangi kami dan diarak ke sepanjang jalan di kota Cin Yang" jawab Kun Cie yang membantu menjelaskan apa yang telah dia alami dan ketahuinya.
"Keparat! Kapan hal itu terjadi?" tanya tanya Lim Bao dengan suara lantang.
"Sudah lama, Ayah. Sudah lewat beberapa bulan yang lalu." jawab Lim Mao yang berusaha mengingat kejadian itu.
__ADS_1
"Hemm, kenapa kalian bisa diam saja?" tanya Lim Bao yang menatap putra dan teman putranya satu persatu.
"Aku tidak berani, Ayah! Kami diancam agar jangan mengganggu keluarga Siok. Setelah kami kalah dalam perlawanan menghadapi pendekar kecapi itu." jelas Lim Mao yang begitu ketakutan.
"Kalian kalah!" seru Lim Bao yang mengernyitkan kedua alisnya.
"Iya, maka aku hanya dapat menanti Ayah pulang. Selama ini aku jarang keluar rumah, Ayah. Aku malu sekali atas penghinaan itu." jelas Kim Mao.
"Bangsat Keluarga Siok itu! mereka kira mereka itu siapa, berani menghina anakku dan berani bersekongkol dengan Hua Li, si pendekar kecapi itu! Ayo kita datangi mereka!" seru Lim Bao dan disambut anggukan kepala oleh Lim Mao dan juga Kun Cie.
Setelah hujan deras reda dan tinggal gerimis, Lim Bai mengajak putera dan teman putranya dengan dikawal tiga puluh prajurit, berangkat berkuda ke gedung tempat tinggal keluarga Siok.
Setelah sampai di depan gedung tempat tinggal keluarga Siok, Lim Bao menyuruh Kun Cie dan pasukannya siap berjaga di luar gedung.
Kemudian Lim Bao dan Lim Mao memasuki gedung tempat tinggal keluarga Siok.
Para perajurit pengawal di gedung itu tentu saja terkejut ketika melihat Panglima Lim Bao dengan pasukannya.
Dengan cepat para pengawal keluarga Siok itu melaporkan kunjungan panglima itu kepada majikan mereka yaitu Tuan Siok Cheng.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1