Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 227


__ADS_3

Tiba-tiba, pemilik rumah makan itu datang berlari-lari, lalu sambil membungkuk-bungkukkan kepala kepada Tiga serigala emas.


"Mohon dengan hormat agar kalian bisa menghentikan keributan ini." kata pemilik rumah makan itu.


"Tutup mulutmu! Apakah kau ingin pula merasakan kerasnya cambukku!" bentak orang itu bertubuh tinggi kurus seperti pohon bambu, dan hidungnya besar maka mudah menjadi sasaran lemparan kacang tadi.


Akan tetapi pemilik rumah makan itu tidak mau pergi, melainkan memberi hormat dan berkali-kali mengangkat kedua tangan ke depan dada dan mengangguk-angguk.


"Tolong dengarkan dulu keterangan saya. Ruangan ini sudah dipesan oleh rombongan Liu Tai, pesanan mendadak dan itu rombongannya sudah hampir tiba di sini. Silakan kalian pindah ke ruangan samping dan harap jangan membuat keributan." kata pemilik rumah makan itu dengan sopan.


Mendengar bahwa ruangan itu akan dipergunakan rombongan Liu Tai, sikap tiga orang jagoan itu berubah. Karena ketiga orang itu juga pernah menjadi kaki tangan atau pembantu utama dari pembesar itu, walaupun hanya sebagai orang-orang sewaan apabila diperlukan, bukan pegawai resmi.


Maka, tentu saja mereka tidak berani membantah lagi dan biarpun mereka bertiga melotot ke arah pemuda yang masih mengenakan caping merahnya itu, namun mereka tidak berani lagi membuat ribut, bahkan mereka ikut pula menyambut ke luar rumah makan karena rombongan itu sudah datang didahului oleh pasukan pengawal.


Pemuda bercaping merah itu hanya menganggukkan kepala ketika pelayan menghampirinya dan minta dengan hormat agar segera pindah ke ruangan samping


"Biarlah kami yang akan memindahkan hidanganmu, Tuan Muda." kata para pelayan. Juga beberapa orang pelayan menghampiri pemuda yang bercaping lebar itu dan pemuda itu menganggukkan kepalanya


Sementara itu Hok Cu masih ingin tahu kelanjutan dari pertengkaran tadi, hatinya kesal terhadap gangguan itu karena baginya tidak pada tempatnya kalau para tamu rumah makan umum harus mengalah terhadap pembesar yan manapun juga.


Dia tidak dapat menyalahkan pemilik rumah makan yang tentu saja takut dan tunduk terhadap pejabat setempat yang berkuasa penuh. Kebetulan sekali, tanpa disengaja karena mereka berada dalam keadaan panik dan tegang sehubungan dengan peristiwa keributan tadi yang disusul Kunjungan rombongan Liu Tai yang tiba-tiba, para pelayan itu memindahkan hidangan Hok Cu diatas sebuah meja yang tanpa disengaja, duduk saling berhadapan dengan pendekar bercaping lebar dan hanya terhalang kedua buah meja.


Ketika Hok Cu mengangkat muka memandang, ia bertemu pandang dengan sepasang mata yang amat tajam mencorong dan bagian hitam mata itu amat hitam sehingga menambah ketajaman pandang mata itu.


Sejenak saja mereka saling pandang, sinar mata mereka bertaut, kemudian pemuda bercaping merah itu tersenyum dan bangkit berdiri sambil mengangkat tangan ke depan dada dan menjura.

__ADS_1


"Aku mohon maaf, Nona, bukan maksudku hendak bersikap kurang ajar karena berani menyapamu, akan tetapi agaknya memang nasib telah mempertemuan kita dengan peristiwa tadi. Aku Hong Lan merasa berbahagia sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan Nona yang memiliki ilmu kepandaian tinggi." kata pemuda itu yang tak lain Hong Lan, murid Beng Cu.


Kalau saja kata-kata dan sikap pemuda bercaping merah itu menunjuk kekurangajaran, sudah pasti Hok Cu tidak akan sudi melayaninya.


Akan tetapi, pemuda bernama Hong Lan itu bersikap amat sopan, bicaranya halus kata-katanya indah menunjukkan bahwa dia terpelajar, maka iapun merasa senang dan tidak enak kalau tidak melayani.


"Terima kasih, Saudara Hong Lan, Kau terlalu memuji. Namaku Hok Cu dan aku pun girang dapat berkenalan dengan kau." balas Hok Cu bangkit berdiri pula dan membalas penghormatan Hong Lan.


Sepasang mata yang hitam tajam itu berkilat tanda bahwa dia bergembira sekali. Hong Lan mengisi cawannya dengan arak, kemudian mengangkat cawan Itu sambil memandang kepada Hok Cu.


"Nona Hok Cu, maukah engkau menghabiskan secawan arak bersama untuk menghormati perkenalan kita ini?" tanya Hong Lan.


Hok Cu tersenyum. Ia pun mengisi cawannya dengan anggur dan mereka berdua mengangkat cawan masing-masing sambil tersenyum dan minum isinya sampai habis. Setelah menurunkan kembali cawan kosong di atas meja, Hong Lan mengangguk hormat.


"Terima kasih, Nona Cu. Kau sungguh berbudi dan ramah sekali, di samping gagah perkasa." kata Hong Lan.


"Mohon jangan terlalu memuji!" seru Hok Cu.


Tiba-tiba terdengar canang yang dipukul dan nampaklah serombongan pasukan pengawal memasuki pintu depan rumah makan dan mereka berdiri berbaris disepanjang pintu masuk. Kepala pasukan pengawal masuk dan berseru kepada pemilik rumah makan yang menyambut tergopoh-gopoh.


"Apakah tempat pesta untuk Liu Tai sudah dipersiapkan?" tanya laki-laki yang berpakaian seperti. Pengawal itu.


"Sudah....... sudah..... ruangan ini telah dikosongkan dan dibersihkan." kata si pemilik rumah makan dengan gugup.


Komandan itu lalu memeriksa dengan pandang matanya yang tajam. Dia mengerutkan alisnya melihat seorang pemuda dan seorang gadis makan ruangan samping yang terhalang tembok pendek. Melihat ini, pemilik rumah makan segera menghampirinya.

__ADS_1


"Mereka itu tamu-tamu dari luar kota yang sedang makan. Akan tetapi sudah saya minta pindah ke ruangan samping yang tidak terpakai. Ruangan ini saya kira sudah cukup luas untuk rombongan Liu Tai." kata pemilik rumah makan itu.


Karena melihat pemuda dan gadis itu tidak mendatangkan kesan berbahaya, komandan itu menganggukkan kepala lalu keluar lagi. Tak lama kemudian, terdengar bunyi kaki kuda dan roda kereta, dan sebuah kereta besar berhenti di depan rumah makan itu.


Seorang laki-laki gendut berjenggot panjang turun dari kereta, dibantu oleh para pengawal. Usianya sekitar lima puluh tahun, dari pakaiannya mewah, pakaian seorang pembesar. Dia-lah Liu Tai, kepala daerah kota Siong-an yang berkuasa di kota itu dan sekitarnya.


Para pengawal Itu nampaknya amat hormat kepadanya ketika membantunya turun dari kereta, bahkan ada yang cepat berlutut membersihkan sepatu pembesar itu dari debu, menggunakan lengan bajunya.


"Silakan, silakan turun dari kereta. Mari, pergunakan kedua tangan saya untuk berpijak." kata pengawal itu pada Liu Tai dengan merangkap kedua tangan agar menjadi tempat berpijak bagi orang yang hendak turun.


Sebuah kepala menguak keluar dari tirai dan nampaklah tubuh seorang pria berusia lima puluh lima tahun yang kurus tinggi, wajahnya dingin berwibawa. Melihat sikap ini yang menjadi tuan rumahnya, pembesar tinggi kurus itu menggeleng kepalanya.


"Mohon Liu Tai jangan repot-repot, biar pengawalku saja yang mermbantu turun." kata pemilik rumah makan yang kemudian memberi isyarat kepada seorang pengawal yang bersama dua belas orang anak buahnya mengawal di belakang kereta itu.


Komandan pengawal itu cepat berlari menghampiri dan dia membantu pembesar tinggi kurus itu turun dari kereta.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2