Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 249


__ADS_3

"Anak?" Sepasang mata yang lebar itu terbelalak.


"Aku tidak beranak!" seru Han Beng.


"Tentu saja, anak bodoh! Bukan kau yang beranak, akan tetapi isterimu." seru Hok Cu yang sudah terseret dan hanyut dalam suasana dahulu sehingga, seperti dahulu, ia berani memaki Han Beng anak bodoh.


Han Beng tersenyum, girang agaknya mendengar makian sayang ini.


"Isteri siapa? Aku belum beristeri."


Wajah yang cantik jelita itu berseri dengan cerahnya dan hal ini nampak nyata oleh Han Beng.


"Wah, aku girang sekali mendengar kau belum menikah, Han Beng!" kata Hok Cu dan giginya yang berderet putih rapi itu tersembul di balik sepasang bibirnya yang merekah.


"Kenapa, Hok Cu? Kenapa hatiku girang mendengar Kau belum menikah dan Kau pun gembira mendengar aku belum menikah?"


Mendengar pertanyaan ini, kembali wajah Hok Cu menjadi kemerahan.


"Ihhh, jangan menyangka yang bukan-bukan, kau! Aku girang mendengar kau belum menikah karena kalau sudah, isterimu tentu akan cemburu melihat kita bercakap-cakap!" seru Hok Cu.


"Sungguh aneh, aku pun berpikir demikian." kata Han Beng.


"Ah, Kau hanya tiru-tiru saja!" seru Hok Cu.


Seperti dulu ketika mereka masih kecil, Han Beng yang selalu mengalah dan tersenyum menyudahi pertengkaran yang timbul.


"Hok Cu, mari duduk yang enak dan kita saling menceritakan riwayat kita masing-masing semenjak kita saling berpisah di Sungai Kuning itu." ajak Han Beng.

__ADS_1


"Boleh, ayo!" sahut Hok Cu dan mereka mencari tempat yang nyaman untuk mereka berbincang-bincang.


Tak butuh lama mereka menemukan tempat itu dan keduanya duduk berhadapan, di atas batu datar yang terdapat di tempat itu. Sejenak mereka saling pandang, penuh perhatian, penuh kegembiraan dan akhirnya Hok Cu menghela napas panjang. Mengenangkan masa lalu, ia teringat kepada ayah ibunya dan ia merasa berduka.


"Kau berceritalah dulu," kata Hok Cu.


"Nanti dulu, Hok Cu. Sebelum itu perlu aku merasa yakin benar bahwa lukamu di dalam tubuh itu tidak berbahaya. Kalau perlu, mari aku bantu Kau mengobati luka itu agar sembuh sama sekali." kata Han Beng.


"Tidak perlu, bukan luka oleh pukulan musuh melainkan karena salahku sendiri, dan nanti kuceritakan tentang itu." balas Hok Cu seraya menggelengkan kepalanya.


"Apakah tidak sebaiknya kalau kita pulang ke rumahmu dan bicara saja sana? Aku ingin sekali bertemu dengan Ayah Ibumu...?" kata Han Beng yang menghentikan bicaranya ketika melihat gadis dihadapannya itu memandang kepadanya dengan wajah berubah pucat dan mata muram.


"Kenapa Hok Cu?" tanya Han Beng yang khawatir.


"Ayah Ibuku telah tewas!" jawab Hok Cu.


"Ahhh! Ayah Ibumu juga tewas, Han Beng?" tanya Hok Cu yang penasaran.


Pemuda itu mengangguk dan keduanya termenung. Kalau tadi mereka saling bertemu, keduanya menjadi gembira sekali, kini mereka merasa bahwa ada ikatan yang lebih erat di antara mereka karena mereka berdua ternyata memiliki nasib yang sama pula.


"Biar kuceritakan saja semua pengalamanku, Hok Cu. Ketika terjadi peristiwa hebat di sungai itu, ketika para tokoh dunia persilata yang tadinya berebutan anak naga, kemudian berbalik memperebutkan kita karena kita telah minum darah anak naga atau ular itu, kita saling berpisah. Aku tentu sudah tewas atau setidaknya ditawan orang jahat kalau saja tidak ditolong oleh Guruku yang pertama. guru itu pun tentu takkan mampu melindungi aku kalau tidak dibantu oleh guruku ke dua. Dan di dalam perebutan di sungai itulah Ayah dan Ibuku tewas, entah oleh siapa, Hok Cu. Aku lalu mengikuti guruku yang pertama selama lima tahun, lalu guru ke dua selama lima tahun, kemudian aku masih berguru lagi kepada seorang tosu. Baru saja aku turun dari Gunung Thai-san dan guru menasehati aku untuk membebaskan rakyat yang tertindas oleh adanya kerja paksa pembuatan terusan, juga untuk menentang kejahatan." cerita Han Beng.


"Aih, gurumu tiga orang. Pantas sekali Kau menjadi begini lihai!" seru Hok Cu yang kagum.


"Jangan terlalu memujiku, Hok Cu Sekarang ceritakanlah pengalamanmu. Ingin sekali aku mendengarkannya." kata Han Beng.


"Pengalamanku biasa saja, tidak sehebat Kau. Tentu Kau telah menjadi seorang pendekar yang hebat, sehingga semua orang mengenal kamu." kata Hok Cu.

__ADS_1


"Kau terlalu merendahkan dirimu Hok Cu. Sudahlah, jangan goda aku yang sudah ingin sekali mendengar riwayatmu. Ceritakanlah!" seru Han Beng.


"Seperti Kau, ketika terjadi keributan di Sungai Kuning itu, aku pun diselamatkan oleh seorang wanita sakti yang kemudian menjadi guruku. Selama tujuh tahun aku digembleng oleh guruku itu. Kemudian, aku bertemu dengan guruku yang ke dua dan dari guruku ke dua ini, seorang hwesio tua yang lebih sakti lagi, aku dilatih selama lima tahun. Nah, aku turun gunung dan seperti Kau pula, guru menasehati aku untuk menentang kejahatan dan melindungi rakyat yang tertindas. Tentu saja aku menentang para pejabat yang memaksa rakyat untuk bekerja membuat terusan sebagai kerja paksa tanpa bayaran. Bukankah keluarga kita menderita malapetaka justeru karena adanya kerja paksa itu? Dan di dalam keributan itu, Ayah dan Ibu juga tewas oleh orang jahat." cerita Hok Cu.


Han Beng tidak puas mendengar cerita yang singkat itu. Dia tidak merasa bahwa dia sendiri pun tadi menceritakan pengalamannya dengan singkat pula, hanya garis besarnya saja. Dia memang pada dasarnya tidak pandai bicara.


"Lalu bagaimana Kau dapat menderita luka di sebelah dalam tubuhmu kalau tidak terkena pukulan lawan seperti kau katakan tadi?" tanya Han Beng yang penasaran.


Hok Cu teringat akan gurunya dan ia menarik napas panjang. gurunya ia adalah penolongnya, akan te tapi ternyata juga merupakan orang yang mencelakakannya. Memang, ia disayang dan diajari ilmu-ilmu milik gurunya.


Akan tetapi sejak ia kecil, gurunya sudah memberi tanda merah pada lengannya itu. Tanda merah yang membuat ia selama hidupnya tidak akan berani menjadi isteri orang.


Tapi ternyata ilmu-ilmu dari gurunya itu juga berbahaya bagi nyawanya. Tepat seperti dikatakan oleh Biksu Hek Bin, gurunya kedua bahwa menggunakan llrnu-ilmu sesat dari gurunya itu amat berbahaya. Kalau ia bertanding dengan orang yang memiliki kekuatan yang lebih besar, maka hawa beracun yang dipergunakan dalam pukulannya seperti yang diajarkan gurunya itu akan dapat membalik dan melukai diri sendiri.


"Ah, itu memang salahku sendiri. Ketahuilah bahwa guruku adalah seorang datuk sesat aliran hitam yang mengajarkan ilmu-ilmu yang mengandung hawa beracun kepadaku. Setelah aku berguru kepada biksu tua itu, guru meberitahu bahwa amat berbahaya bagiku kalau mempergunakan ilmu-ilmu dari guru itu dalam perkelahian melawan lawan yang tangguh. Aku tidak mentaati nasehatnya dan aku telah menggunakan ilmu-ilmu sesat itu sehingga aku terluka, maka itu adalah kesalahanku sendiri." cerita Hok Cu.


"Siapakah guru pertama kamu itu, Hok Cu?" tanya Han Beng yang penasaran.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2