
Pemuda ini amat cerdik dan dia pun melihat bahwa kini sukarlah baginya untuk dapat meloloskan diri. Menerjang keluar itu berarti dia bunuh diri, oleh karena itu satu-satunya jalan haruslah membela diri secara gagah.
"Ha...ha....ha...! kalian ini mengakunya pendekar gagah, akan tetapi ternyata hanyalah pengecut-pengecut yang berlindung di belakang pasukan penterintah. Pendekar macam apakah itu? Kiranya nama itu hanya kosong belaka karena kenyataannya kini kau hanya menjadi penunjuk jalan bagi pasukan pemerintah. Kalau memang kau gagah, mari kita bertanding dengan taruhan nyawa. Kalau kau kalah olehku, aku berhak untuk hidup dan harus dibiarkan lolos tanpa gangguan. Sebaliknya kalau aku kalah, biarlah kubayar dengan nyawa!" seru Hong Lan.
Han Beng adalah seorang pemuda yang pada dasarnya berwatak pendiam dan tidak pandai bicara. Biarpun dia tahu bahwa Hong San membual dan memutar balikkan kenyataan.
"Sesukamu kau hendak berkata apa, Hong Lan. Yang jelas, aku tidak mendatangkan pasukan, dan aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu." kata Han Beng dengan suara tenang.
"Hong Lan, kau yang manusia pengecut yang bermulut busuk!" seru Hok Cu yang memotong percakapan Han Beng yang tenang itu dengan suaranya yang lantang.
"Siapa percaya omonganmu yang berbau busuk penuh kebohongan itu? Aku dan Han Beng datang ke sini untuk berurusan pribadi dengan Mo Li dan kau mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyok, bahkan menggunakan asap pembius menangkap kami. Siapa yang pengecut? sekarang, setelah kau melihat pihakmu tidak berdaya, kau berlagak sebagai orang gagah! Cih, alangkah tebalnya mukamu, dapat mengeluarkan kata-kata dan memperlihatkan sikap semacam itu. Han Beng, sambut tantangannya itu dan binasakan saja manusia iblis ini, karena kalau dibiarkan hidup, dia pun haya akan menyebar kejahatan di antara manusia." kata Hok Cu.
"Dan kau Mo Li, kau telah membunuh Ayah Ibuku yang tidak berdosa. Majulah dan terimalah pembalasanku agar arwah Ayah Ibu dapat tenang!" lanjut seru Hok Cu.
Menghadapi Hok Cu yang lincah galak dan pandai bicara itu, Hong Lan tak mampu bersuara lagi. Mukanya berubah sebentar merah sebentar pucat karena bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ada marah, dan malu, ada pula benci, akan tetapi juga takut. Bagaimanapun juga dia adalah putera mendiang Hong Cu, pendiri aliran Bumi dan langit yang besar. Ayahnya adalah seorang datuk sesat yang disegani dan ditakuti dunia persilatan, oleh karena itu, bagaimanapun juga dia harus memperlihatkan sikap yang gagah.
"Sing-singgggg .............!"
Nampak sinar berkelebat ketika tangan kanannya mencabut pedang sedangkan tangan kirinya mencabut suling. Dia memang nampak gagah sekali. Can Hong San memiliki ketampanan yang khas karena ada darah Nepal mengalir di tubuhnya. Hidungnya terlalu mancung dan matanya yang lebar itu terlalu hitam serta agak besar dan bibir yang merah itu menunjukkan betapa dia memiliki gairah nafsu yang besar.
"Hong Lan, menyerahlah untuk kami tangkap karena kau menggerakkan aliran Bumibdan langit melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Tidak perlu melawan karena pasukanku telah mengepung dan semua anak buahmu telah menakluk!" seru Perwira Yap dengan wibawa.
"Perwira Yap, perkenankanlah kami menghadapi para penjahat ini dengan cara kami sendiri, yaitu sesuai dengan peraturan di dunia persilatan." kata Han Beng.
__ADS_1
"Maksudmu bagaimana, pendekar?" Tanya perwira Yap yang penasaran.
"Hong Lan telah menantangku, maka terpaksa harus aku layani. Juga Hok Cu yang mempunyai urusan dengan Mo Li dan Lui Seng. Maka, kami berdua ingin menyelesaikan urusan ini melalui pertandingan silat." jelas Han Beng dan perwira Yap mengerutkan kedua alisnya.
"Tapi, tapi justeru mereka bertiga itulah pucuk pimpinan perkumpulan sesat ini yang harus kami tangkap dan kami seret ke pengadilan. Kalau mereka mati, bagaimana kami dapat menuntut mereka?" tanya Perwira Yap.
"Amitabha, jangan khawatir perwira." kata biksu Hen Bin yang menengahi.
"Ada aku di sini dan ada pula pendekar Kwe Ong, tidak akan ada yang mati, ha-ha-ha!" lanjut biksu Hek Bin dengan tawa terkekehnya.
"Benar, kami dua orang tua tidak suka melihat pembunuhan. Kami yang akan mencegah agar jangan ada pembunuhan." kata Kwe Ong yang menambahi.
Biarpun di dalam hatinya Hok tidak setuju dengan pendapat gurunya akan tetapi ia tidak berani membantah. Ia harus membunuh Mo Li untuk membalas kematian ayah ibunya.
"Baiklah kalau begitu, akan tetapi anak buah yang lain itu harus ditangkap dulu!" seru Perwira Yap dan kemudian dia memberi isyarat kepada pasukan pengawalnya untuk menangkap semua orang kecuali Mo Li, Lui Seng dan Can Hong Lan.
Merasa bahwa mereka pun memiliki kepandaian, Koan Tek mencabut pedangnya. Demikian juga dengan murid kok Sian, telah mencabut sepasang golaknya. Dua orang pemuda lain, yaitu Siok Boan dan Kian So, murid-murid Lui Seng, juga sudah siap dengan senjata golok di tangan.
Empat orang pemuda ini agaknya tidak mau menyerah begitu saja. Mereka adalah murid-murid datuk sesat, tentu saja merasa malu kalau harus menyerah tanpa melawan. Melihat sikap empat orang itu, Hok Cu maklum bahwa dua belas orang pengawal perwira Yap belum tentu akan mampu menandingi mereka.
"Perwira Yap, biar aku yang menangkapkan empat ekor anjing kecil ini untukmu!" seru Hok Cu yang menerima pedang tumpul dari tangan biksu Hek Bin, kemudian ia pun maju menghampiri empat orang pemuda yang sudah siap itu.
Melihat ini, Han Beng merasa tidak tega. Kalau dikeroyok empat, berbahaya juga bagi Hok Cu, maka dia pun melangkah maju.
__ADS_1
"Biar aku membantu Giok Cu!" seru Han Beng dan Hok Cu menganggukkan kepalanya.
Melihat para lawannya memegang senjata tajam, Han Beng yang tidak biasa menggunakan senjata tajam. Kemudian dia melolos sabuk suteranya. Dia telah mewarisi llmu sabuk dari Hua Li dan biarpun sabuk sutera itu lemas dan lunak, namun di tangannya dapat men jadi senjata yang ampuh.
Koan Tek adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu akan nama besar Han Beng maka belum apa-apa dia sudah merasa jerih untuk menghadapi pendekar itu Terhadap Hok Cu dia tidak begitu gentar karena sepanjang pengetahuannya gadis itu hanyalah murid Mo Li.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa gadis itu telah menjadi murid biksu Hek Bin yang membuat ia menjadi jauh lebih lihai daripada ketika ia masih menjadi murid Mo Li. Karena menganggap bahwa lebih menguntungkan kalau bertanding melawan Hok Cu, maka sambil mengeluarkann bentakan nyaring dia sudah menggerakkan pedangnya menyerang Hok Cu.
San Bo meniru koan Tek dan dia pun sudah menggerakkan pasang goloknya, membantu Koan Tek dan mengeroyok Hok Cu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1