
Han Beng sudah mengira hal ini akan terjadi, demikian juga dengan Yi Hui yang memandang pada para pimpinan pengemis itu penuh kebencian. Mengingat bahwa merekalah yang menjadi penyebab hancurnya keluarganya dan kematian ayahnya.
"Bagus....bagus....! Ini adalah wilayahmu dan kau yang berkuasa, kalau begitu aku yang mengalah dan akan pergi dari kota raja ini. Nah, sampai jumpa!" seru Kwe Ong yang juga bangkit dari duduknya seraya mengulas senyumnya.
Pengemis tua ini lalu membalikkan tubuhnya, memberi isyarat kepada Han Beng dan Yi Hui yang masih penasaran untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu. Mereka langsung keluar dari dalam rumah besar itu.
Setelah keluar dan ruangan baru nampak oleh mereka bahwa semua anggota perkumpulan pengemis sabuk merah telah siap siaga dan jumlah mereka banyak kali, sekitar seratus orang.
Melihat ini, Han Beng diam-diam memuji kecerdikan gurunya, karena kalau harus berkelahi di dalam, di mana pihak tuan rumah sudah siap siaga, mereka sendiri yang akan menderita kerugian.
Maka setelah keluar dari rumah itu, Kwe Ong mengajak dua orang muda itu pergi ke tempat yang sunyi. Sekarang Han Beng memperoleh kesempatan untuk bertanya.
"Guru, kenapa kita harus menuruti perintahnya?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Ha....ha....ha...! Itu bukan perintah dari Sin Kai, Han Beng!" jawab Kwe Ong dengan diikuti tawanya.
"Bukan dia? Bukankah yang berjenggot panjang tadi, yang bicara dengan guru, adalah ketua pimpinan mereka dan guru juga menyebutnya Setan tua?" tanya Han Beng dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Maka dari itulah sebutan Setan tua yang meyakinkan hatiku bahwa dia bukan Sin Kai dan aku sudah bersahabat erat sekali sehingga aku menyebutnya Setan Tua, bukan Sin-kai dan tadi sengaja aku menyebutnya demikian untuk melihat sambutannya dan dia menyebut aku tetap dengan namaku, bukan julukanku Raja gembel. Padahal biasanya dia menyebutku demikian, jika aku menyebutnya Setan Tua. Nah, bukankah itu merupakan bukti kuat bahwa bukan sahabatku itu? Memang wajahnya mirip, jenggotnya juga mirip, akan tetapi aku yakin kalau dia bukan Sin Kai sahabatku! Sinar matanya juga berbeda. Orang dapat memulas dan mengubah muka untuk menyamar, akan tetapi tidak mungkin mengubah sinar-mata." jelas Kwe Ong.
"Ah, begitukah!" seru Han Beng terkejut, dan Yi Hui juga kaget mendengar ini. Keduanya saling pandang, dan mulai paham dengan maksud kakek tua itu.
"Lalu apa yang akan kakek akan lakukan sekarang?" tanya Yi Hui.
"Aku yakin bahwa telah terjadi sesuatu yang amat dirahasiakan mengenai diri Sin Kai yang sesungguhnya. Ini tentu ada hubungannya dengan perubahan sikap para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah yang condong untuk menjadi sewenang-wenang." jawab Han Beng yang menyimpulkan.
"Malam ini juga aku akan melakukan penyelidikan, apa yang terjadi dengan setan tua dan di mana dia sekarang berada. Kalian berdua menunggu saja di dalam hutan ini karena lebih leluasa melakukan penyelidikan sendirian saja." pinta Kwe Ong.
"Guru sedang sakit, biarlah murid saja yang melakukan penyelidikan," kata Han Beng.
Kwe Ong melirik ke arah Yi Hui lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Penyakit tidak penting, akan tetapi karena aku yang mengenal Setan tua yang asli, maka sebaiknya aku yang pergi bersembunyi bersama Yi Hui di dalam hutan ini dan kau tentu dapat melindunginya kalau ada bahaya mengancam. Nah, aku pergi sekarang juga!" seru kakek itu yang berkelebat dan lenyap dari tempat itu.
Masih terdengar dari kejauhan suara batuk kwe Ong yang membuat Han Beng dan juga Yi Hui sangat khawatir.
Setelah kakek itu pergi, Han Ben berdiri saling pandang dengan Hui Im. Sinar bulan memungkinkan mereka saling melihat wajah masing-masing, walaupun hanya remang-remang.
Han Beng melihat gadis itu menunduk dan menarik napas panjang. Tentu teringat akan keadaannya dan duka melanda hatinya la pikirnya.
"Nona, untuk mengusir nyamuk dan dingin, sebaiknya kita membuat api unggun." kata Han Beng untuk mengalihkan perhatian keduanya.
"Apakah tidak berbahaya? Bagaimana kalau terlihat oleh musuh?" tanya Yi Hui yang sedikit khawatir.
"Saya kira tidak, Nona. Kalau memang pihak perkumpulan pengemis sabuk merah hendak menyerang kita, tentu sudah dilakukan tadi ketika kita berada di sana. Agaknya mereka itu ragu-ragu dan jerih menghadapi guru yang namanya sudah terkenal sekali." jawab Han Beng.
Han Beng mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun. Mereka duduk menghadap ke arah api unggun.
"Sebaiknya kau mengaso dan tidurlah, Nona, biar aku yang
Gadis itu menggeleng kepala dan merenung memandangi api yang merah.
"Bagaimana dalam keadaan seperti ini aku dapat tidur? Kakek sedang melakukan perjalanan berbahaya dan kau sendiri juga melakukan penjagaan. Kalau kuingat, betapa bodohnya aku, mengira bahwa kau seorang pengemis biasa. Tidak tahunya gurumu adalah seorang pendekar tua yang sakti dan kau sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi." kata Yi Hui yang menatap api unggun dengan sesekali melirik ke arah Han Beng.
"Ah, kau terlalu memuji-muji Nona. Buktinya, aku tidak mampu melindungi Ayahmu dan paman kamu sehingga mereka menjadi korban." kata Han Beng yang tak enak hati.
"Jumlah musuh terlalu banyak, pendekar dan Ayah bersama paman terlalu nekat. Mereka itu amat mendendam atas terbakarnya perguruan Elang sakti." jelas Yi Hui.
Keduanya berdiam diri sampai berapa lamanya, termenung memandang api unggun yang nyalanya merah keemasan. Tiba-tiba gadis itu mengangkat mukanya memandang. Mendengar gerak ini, Han Beng juga mengangkat wajahnya dan mereka saling pandang.
"Pendekar...!" panggil Yi Hui.
"Nona, kuharap kau jangan menyebut aku pendekar. Sungguh tidak enak hati ini mendengarnya. Lihat, aku tidak hanya seorang pemuda gembel, sungguh menggelikan dan memalukan kalau terdengar orang lain seorang gadis seperti kau menyebutku pendekar." kata Han Beng yang berhenti dan menatap wajah yang manis di bawah cahaya api unggun.
__ADS_1
"Namaku Han Beng, Nona." kata Han Beng yang memperkenalkan dirinya.
"Namaku Yi Hui. Lalu aku harus menyebut kamu dengan apa?" tanya Yi Hui yang kelihatannya kebingungan, dan dengan gugup, seperti orang yang baru berkenalan dan kemudian saling memperkenalkan diri masing-masing.
"Terserah, asal jangan pendekar saja!" jawab Han Beng sambil tersenyum.
"Bolehkah aku menyebutmu kakak Beng?" tanya Yi Hui.
"Tentu saja boleh," kata Han Beng dengan wajah berseri,
"Dan aku akan menyebutmu dengan sebutan adik Hui!" sambung Han Beng.
Sejenak mereka diam menunduk seraya mengulas senyum. Perubahan panggilan itu saja amat terkesan di dalam hati masing-masing dan membuat mereka merasa malu-malu dan sungkan.
Memang dua orang muda Ini memiliki watak yang sama, yaitu pendiam sehingga sukarlah bagi mereka untuk memulai bicara, tidak tahu apa vang harus mereka bicarakan.
"Kakak Beng, kau telah mengenal keadaan diriku. Aku kini yatim piatu tidak mempunyai apa-apa lagi. Akan tetapi aku belum mengetahui riwayatmu kakak Beng. Sudikah kiranya kakak Beng menceritakannya kepadaku?" tanya Yi Hui yang pada akhirnya dengan menekan hatinya mengumpulkan keberanian bertanya walau dengan suara lirih.
Han Beng menarik napas panjang,dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1