Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 124


__ADS_3

Dengan demikian, darah kedua orang anak itu amat bermanfaat, mengandung darah naga.


"Kami tidak sudi ikut denganmu...!" bentak Kian Beng dengan lantang.


Anak ini memang memiliki kekuatan yang luar biasa disamping keuletan dan tahan uji. Tubuhnya seperti dibakar dari dalam, kepalanya pening berdenyut-denyut, tapi dia masih kuat menghadapi kakek gendut yang menyeringai menyeramkan itu.


Bahkan, ketika kakek itu mengulurkan tangan hendak menangkapnya, Kian Beng mengelak dengan menyelam. Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang bajak sungai yang tentu saja mempunyai keahlian di dalam air selain ilmu silat yang tinggi.


Dia tidak mungkin dapat meloloskan diri hanya dengan menyelam terhadap pengejaran kakek ini. Tahu-tahu Kian Beng sudah tertangkap lengannya dicengkeram kakek itu. Melihat Kian Beng meronta-ronta hendak melepaskan diri dari pegangan kakek itu, Hok Cu menjadi marah.


Gadis itu tidak rela melihat temannya ditangkap, maka anak perempuan yang pandai renang ini pun meluncur maju dan memukul tangan kanannya kea rah punggung kakek itu.


"Lepaskan dia....! Lepaskan....!"


"Dukk...!"


Pukulan kepalan kecil ke arah punggung itu mengejutkan Ci Kai karena terasa kuat dan menimbulkan nyeri pada punggungnya.


Ci Kai tak menyangka anak perempuan kecil itu memiliki tenaga yang sebesar itu. Punggung seperti dipukul palu besi dengan keras. Untung dia memiliki kekebalan. Dia pun membalik dan menangkap tangan Hok Cu dan menyeret kedua orang anak itu dan membuat mereka lumpuh tak mampu bergerak lagi.


Dengan mudah dia melemparkan tubuh kedua anak itu ke atas perahunya dan dia sendiri menyusul naik.


"He...he....he...! mari ikut dengan aku, anak-anak manis!" seru Ci Kai yang terkekeh sambil mulai mendayung perahunya.


Kian Beng yang terkena totok tadi, seketika menjadi lumpuh kaki tangannya. Akan tetapi hanya sebentar saja karena hawa panas itu membuat tubuhnya pulih kembali dan dia mampu bergerak dan dia bangkit dari duduknya.


"Kakek jahat....! Mau apa kau membawa kami berdua? Kami ingin kembali kepada keluarga kami!" bentak Kian Beng dengan geram.


"Eh...!" seru Ci Kai yang terkejut sekali melihat Kian Beng yang telah dapat bergerak lagi.


"Bagaimana mungkin ini terjadi? Totokanku amatlah kuat!" gerutunya dalam hati.

__ADS_1


Ci Kai juga melihat anak perempuan yang bersama kian Beng itu pun mulai menggerak-gerakkan kakinya.


"Ah, kalian sudah menghabiskan darah naga, di tubuh kalian ada darah naga! Kalian harus ikut bersamaku!" seru Ci Kai yang kemudian menubruk Kian Beng dan sebelum pemuda itu mampu meronta, dia sudah menotoknya lagi.


Dalam keadaan lumpuh sementara itu, Kian Beng kaki tangannya telah diikat, demikian juga Hok Cu yang hadiikat kaki tangannya oleh kakek gendut itu.


"Hm, dasar perompak rendah, berikan kedua orang anak itu kepadaku!"


Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nampak sebuah perahu meluncur cepat sekali, tahu-tahu perahu itu sudah dekat dan penumpangnya hanya seorang wanita cantik yang berpakaian mewah, sikapnya dingin dan angkuh.


Melihat wanita ini, wajah Ci kai berubah pucat. Tentu saja dia mengenal Mo Li.


"Mo Li! kau carilah anak naga, aku tidak akan mencarinya lagi, aku.. aku suka kepada dua orang anak ini, hendak kuajak pulang, karena aku tidak mempunyai anak, tidak mempunyai murid. Harap jangan halangi aku, Mo-li...!" seru Ci Kai dengan suara jelas mengandung rasa takut menghadapi wanita cantik itu.


"Beraninya kau hendak membohongi aku!" bentak wanita itu dengan geram, dan kemudian dengan jurus meringankan tubuhnya, dia melesat terbang melayang dan tahu-tahu ia sudah berada diatas perahu Ci Kai yang menjadi semakin pucat.


Bau harum yang aneh menyengat hidung dan Ci kai yang biasanya merupakan seorang perompak yang amat kejam dan tidak mengenal takut, sekarang nampak menggigil.


"Hayo terangkan mengapa engkau hendak mengambil darah kedua orang bocah ini!" seru Mo Li yang mengacungkan jari telunjuknya yang berkuku panjang dan kini Ci Kai menjadi bergidik.


"Maaf, Mo li. Aku tidak ingin berbohong. Kedua orang anak ini..." entah bagaimana tadi dibelit dan digigit oleh anak naga! Dan kedua orang bocah ini juga menggigit, bahkan menghisap darah anak naga sampai kedalam tubuh mereka. Oleh karena itu...." jelas Cu Kai yang belum selesai, sudah di potong oleh Mo Li.


"Pergi kau! Dua orang anak ini untuk aku!" seru Mo Li yang tiba-tiba kaki wanita itu bergerak.


Cepat sekali tendangannya itu dan tahu-tahu tubuh Ci Kai yang gendut telah terlempar ke dalam air.


"Byuuuur...!"


Air muncrat dan Ci kai menyelam, tidak berani muncul ke permukaan air sebelum jauh dari perahunya yang kini dirampas wanita itu berikut dua orang anak kecil.


Dia menyumpah-nyumpah, namun tetap saja tidak berani berbuat sesuatu. Ci kai sudah mengenal benar siapa adanya Mo Li, bahkan pernah dia hampir tewas di tangan iblis betina itu. Karena itulah begitu bertemu dia seperti tikus bertemu seekor kucing.

__ADS_1


Kemudian Mo Li mendekati dua orang anak yang terikat itu, tidak tahu bahwa Ci kai yang penasaran, melampiaskan rasa penasarannya dengan memberitahukan tentang dua orang anak yang menghisap habis darah anak naga itu kepada para tokoh dunia persilatan yang berputar-putar di sekitar tempat itu.


Kini semua tokoh sudah tahu kalau anak naga itu darahnya telah disedot habis oleh dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yang kini tertawan oleh Mo Li.


Ketika Mo Li meraba tubuh Kian Beng dan Hok Cu, ia terkejut dan menarik kembali tangannya. Wajahnya berseri dan matanya berkilat. Tubuh dua orang anak kecil itu panas seperti api.


"Bagus," kata Mo Li menganggukkan kepalanya.


"Kalian harus ikut denganku!" lanjut seru Mo Li yang kemudian mempergunakan dayung untuk mengerakkan perahu meninggalkan tempat itu.


Tiga buah perahu, masing-masing ditumpangi dua orang, menghadangnya. Mereka adalah enam orang tokoh dunia persilatan yang juga mendengar berita yang disebar luaskan oleh Ci Kai, maka kini mereka menghadang perahu Mo Li dengan senjata terhunus.


Dua orang memegang golok, dua orang lagi memegang pedang, dan dua orang yang lain memegang trisula. Wajah mereka garang dan agaknya enam orang itu walaupun bukan dari satu kelompok, karena jerih kalau harus menghadapi Mo Li sendiri saja, sudah sepakat untuk mengeroyok iblis betina ini.


"Hm, kalian ini enam ekor tikus mau apa menghadang perahuku!" seru Mo Li dengan suara dingin.


"Iblis Betina Mo Li! kami berenam mohon agar kau mau menyerahkan seorang diantara dua orang anak itu kepada kami!" seru seorang berkumis tebal yang memegang trisula, mewakili teman-temannya


Wanita cantik itu tersenyum. Senyuman yang membuat wajahnya manis sekali, akan tetapi juga penuh ejekan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2