
"Hei, Han Beng, apa alasanmu kau mengajak murid Mo Li ini datang ke sini?" lanjut tanya Hua Li pada muridnya.
Han Beng yang sejak tadi memang diam saja dan masih berlutut dan kini bangkit berdiri.
"Guru, murid sudah mencoba untuk meyakinkan hati Hok Cu bahwa guru sama sekali tidak membunuh orang tuanya, dan murid juga sudah menduga bahwa yang membunuh mereka adalah Mo Li sendiri. Akan tetapi Hok Cu masih belum puas dengan ucapan murid. Untuk lebih meyakinkan hatinya, maka ia ingin mendengar sendiri keterangan dari guru. Karena itulah maka ia datang bersama murid untuk menghadap guru." jelas Han Beng.
"Bukankah dia menjadi murid Mo Li, yang amat jahat!" seru Hua Li.
"Akan tetapi guru, Hok Cu akhir-akhir ini telah menjadi murid Biksu Hek Bin selama lima tahun!" Han Beng yang membela Hok Cu.
Sepasang mata Hua Li kembali terbelalak ketika ia mendengar ucapan muridnya itu dan dia memandang gadis itu dengan sinar mata penuh kagum. Kalau gadis ini sudah menjadi murid biksu yang sakti itu, maka lain persoalannya.
"Ah, kiranya begitu? Nona, kalau begitu, tentu kau sudah cukup dewasa dan bijaksana untuk menilai dan menduga siapa sebenarnya pembunuh Ayah Ibumu. Apakah kau masih meragukan aku dan masih ada sangkaan bahwa aku yang telah membunuh Ayah Ibumu yang tidak kukenal, kubunuh begitu saja tanpa alasan sama sekali? Andaikata aku mempunyai kepentingan harus membunuh Ibumu pun, aku tidak akan mempergunakan racun, Nona. Kiranya pukulanku masih cukup ampuh untuk membunuh orang kalau hal itu aku kehendaki." kata Hua Li.
Hok Cu menarik napas panjang dan melepaskannya secara pelan-pelan.
"Maafkan saya, pendekar. Tentu pendekar dapat mempertimbangkan bagaimana perasaan saya yang melihat Ayah Ibu tewas di depan mata saya karena di bunuh dan diracuni orang. Setelah mendengar keterangan dan pendapat Han Beng memang saya mulai menyangsikan pemberitahuan guru Mo Li yang dahulu tentu saja saya percaya sepenuhnya. Sejak kecil, saya mengandung dendam yang mendalam terhadap pendekar yang saya anggap sebagai pembunuh orang tua saya. Akan tetapi, saya merasa belum puas kalau tidak bertemu sendiri dengan pendekar Hua." jelas Hok Cu.
"Hemmm, aku dapat mengerti, Nona. Dan bagaimana pendapatmu sekarang! Apakah engkau masih juga belum yakin bahwa aku bukan pembunuh orang tuamu?" tanya Hua Li yang mengernyitkan kedua alisnya.
Hok Cu agak tersipu, akan tetapi ia memang seorang gadis yang tabah dan memiliki watak yang lincah maka ia pun tersenyum.
"Sekarang saya baru yakin bahwa bukan Pendekar yang membunuh Ayah Ibuku. Dari sini saya akan menemui guru Mo Li dan akan menuntut agar ia berterus terang tentang kematian Ayah dan Ibu saya." kata Hok Cu.
__ADS_1
Hua Li tertawa, hatinya merasa lega sekali.
"Tidak ada orang lain yang membunuh orang tuamu dengan racun yang jahat, Nona!" seru Hua Li.
"Pendekar, mohon jangan membuat saya merasa sungkan dengan sebutan nona. Pendekar adalah guru Han Beng yang mana dia sudah menjadi sahabat baik saya sejak kami masih kecil, maka harap pendekar menyebut nama saya saja tanpa nona. Nama saya Hok Cu."
Sepasang mata Hua Li berseru dan dia mulai suka kepada gadis yang Sikapnya lincah dan terbuka ini.
"Baiklah Hok Cu. Aku bukan orang yang suka melempar fitnah dan menuduh yang bukan-bukan. Akan tetapi, agaknya engkau belum mengenal benar watak dari Mo Li walaupun wanita itu pernah menjadi gurumu. Aku percaya bahwa Mo Li sajalah yang akan dapat melakukan kekejaman seperti itu, membunuh orang tuamu yang sama sekal tidak dikenalnya dan tidak bersalah apapun. Dan kurasa ia membunuh mereka bukan tanpa alasan, la melihat bahwa engkau telah menghisap darah anak naga, maka ia ingin mengambilmu sebagai murid. Dan agaknya ia ingin memutuskan seluruh ikatanmu dengan keluargamu, dan untuk itu, ia tidak segan membunuh orang tuamu sehingga kau menjadi sebatangkara dan tentu saja amat tergantung kepadanya." jelas Hua Li.
Hok Cu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Agaknya pendapat pendekar itu memang benar. Dan terus terang saja, sekarang Ini hubungan antara kami sudah putus sebagai guru dan murid, bahkan ia menganggap saya sebagai musuh. Hampir saja beberapa tahun yang lalu saya sudah mati di tangannya kalau saja tidak muncul guru Hek Bin yang menyelamatkan saya dan kemudian mengambil saya sebagai murid." jelas Hok Cu.
Pada saat itu, muncullah Lan Yi yang memandang dengan heran. Tak disangkanya bahwa di tempat tinggal suhunya terdapat seorang gadis yang tidak dikenalnya. Seorang gadis yang cantik manis, dengan wajah bulat dan kulit putih mulus, sepasang matanya tajam berwibawa dan hidungnya mancung. Namun, gadis itu nampak kaget melihat bahwa di situ terdapat dua orang tamu, seorang pemuda dan seorang gadis yang tidak dikenalnya dan ia pun hanya berdiri dengan muka ditundukkan dan tidak mengeluarkan kata apa pun, bahkan kelihatan canggung dan ragu.
"Guru, siapakah pemuda ini?" Han Beng yang bertanya kepada gurunya.
"Ha...ha...ha...! aku sampai lupa, Han Beng, atau memang belum sempat bicara tentang dirinya. pemuda ini adalah Lan Yi dan ia Adik Seperguruanmu." jawab Hua Li.
"Wah, guru punya murid baru!" seru Han Beng yang sumringah.
"Lan Yi, inilah Si Han Beng murid pertamaku yang berarti kakak seperguruan kamu seperti yang pernah kuceritakan kepadamu." kata Hua Li yang memperkenalkan Han Beng pada Lan Yi.
__ADS_1
"Kakak seperguruan...!" kata Bi Lan lirih sambil mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan.
"Adik seperguruan!" kata Han Beng dengan girang, lalu membalas penghormatan itu.
"Hanya kebetulan saja aku bertemu dengan Lan Yi ketika dia dikeroyok banyak penjahat. Aku membantunya dan ia pun menjadi muridku. Ketahuilah, Han Beng, bahwa Sumoimu ini hidup sebatangkara dan ia tadinya dalam perjalanan mencari Koan Tek. Kau pernah mendengar nama itu, bukan?" cerita Hua Li yang sekaligus bertanya pada murid pertamanya itu.
"Tentu saja! Bukankah dia itu pendekar dari perguruan Elang Sakti yang terkenal gagah perkasa itu, guru yg? Ah, adik kiranya engkau keponakan pendekar terkenal itu? Mari perkenalkan. Ini adalah Hok Cu, seorang sahabatku sejak kecil, dan ia adalah murid biksu Hek Bin." kata Han Beng yang juga memperkenalkan Hok Cu.
"Nona Hok Cu, sungguh mengagumkan sekali bahwa kau adalah murid dari Biksu Hek Bin. Dia adalah Paman Guru dari para pimpinan perguruan Elang Sakti dan masih terhitung Paman Kakek Guru dariku. Kalau begitu, kau masih terhitung Bibi Guruku/ sendiri!" seru Lan Yi.
Hok Cu tersenyum dan muncul kelincahan dan keramahannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
__ADS_1
... ....