Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 137


__ADS_3

"Guru tolong beritahu kepada murid. Siapakah yang telah membunuh ayah ibu?" tanya Hok Cu.


"Siapa lagi kalau bukan pendekar kecapi? kau mendengar sendiri keterangan pembantu ayahmu itu, kalau Pendekar kecapi datang dan mengobati ayah ibumu. Nah, kesempatan itulah dipergunakannya untuk membuat ayah ibumu terkena pukulan maut sehingga mereka tewas tadi." jawab Mo Li yang jelas itu hanya mengarang saja.


"Tapi kenapa dia membunuh Ayah Ibuku? Dan siapakah pendekar kecapi itu?" tanya Hok Cu yang penasaran.


"Hmm, siapa dapat menyelami hati si pendekar kecapi? Dia orang aneh, dan jahat sekali. Dengan hanya menggunakan kecapinya, dia bisa mengancurkan pasukan Mongol yang beratus-ratus jumlahnya.Tentu kau bayangkan saja betapa jahatnya dia! Mungkin dia tidak ingin orang tuamu melihat dia membawa pergi anak laki-laki yang menghisap darah naga itu." kata Mo Li yang lagi-lagi mengarang cerita.


"Kian Beng...!" seru Hok Cu.


"Hm, jadi bukan hal yang aneh kalau yang membunuh ayah ibu Si Kian Beng adalah dia juga." kata Mo Li.


Hok Cu mengerutkan alisnya.


 "Ah, betapa jahatnya pendekar kecapi itu! Dia itu orang macam apa, guru?" tanya Hok Cu yang kemudian bangkit dari duduknya. Sementara Mo Li hanya diam saja.


"Guru, maukah guru membantu murid? Mari kita cari pendekar kecapi itu dan guru bunuh dia untuk membalaskan sakit hati murid." kata Hok Cu yang memohon.


"Hemmm, enak saja kau bicara, Hok Cu. Ketahuilah, pendekar kecapi itu amat sakti. Aku sendiri belum tentu akan mampu mengalahkannya. Akan tetapi kelak, kalau kau sudah dewasa dan kau mempelajari ilmu silat dengan tekun, mungkin kau akan mampu mengalahkannya. Eh, bukankah kau juga menghisap darah anak naga?" kata dan sekaligus tanya Mo Li pada Hok Cu.


"Darah anak naga? Apa yang guru maksudkan?" tanya Hok Cu yang merasa heran, sama sekali tidak mengerti.


"Anak bodoh! Bukankah malam tadi kau dibelit anak naga dan bersama Si Kian Beng anak laki-laki itu kalian melawan anak naga dan menggigitnya, menyesap darahnya?" tanya Mo Li.


"O, jadi itu anak naga?" gumam dalam hati Hok Cu yang baru mengerti dan biarpun kepalanya masih pening, ia tertawa mendengar ini.


"Anak naga? He...he...., guru ini aneh-aneh saja. Semalam ketika aku mengail ikan di perahu, umpanku disambar seekor ular dan aku terseret ke dalam air. Ular itu membelitku dan untung ada Kian Beng menolongku. Dia anak baik sekali, guru. Ular itu lalu menyerang Kian Beng, bahkan aku melihat betapa ular itu menggigit pundak Kian Beng. Juga kulihat Kian Beng membalas dan menggigit leher ular. Karena aku ingin membantu Kian Beng, aku pun lalu menggigit ekor ular itu!" jelas Hok Cu.

__ADS_1


"Dan kau menyesap dan minum darah anak naga itu bukan?" tanya Mo Li.


"Iya. Guru, apakah ular itu benar-benar anak naga?" tanya Hok Cu untuk menyakinkan dirinya.


"Ular atau anak naga, apakah kau menyesap dan minum darahnya?" tanya Mo Li sekali lagi.


"He..he...! Iya, ketika aku menggigit sekuat tenaga, aku merasakan darah itu yang terasa hangat, agak asin dan manis dan amis membuat aku ingin muntah. Akan tetapi karena ingin menolong han Beng, aku menggigit terus dan ya, aku menghisap dan menelan darahnya." jawab Hok Cu dengan tersenyum malu-malu.


 "Apakah banyak?" tanya Mo Li yang penuh gairah semangatnya.


"Entah, guru. Mungkin beberapa teguk saja dan saya lihat Kian Beng menggigit leher ular itu." jawab Hok Cu yang mengira-ira.


"Hmm, tentu dia minum lebih banyak. Coba, kulihat tanganmu!" seru wanita itu yang kemudian memegang tangan Hok Cu, menggunakan kuku jari kelingking kiri, satu-satunya kuku yang putih bersih dan tidak mengandung racun, menorah kulit lengan bagian dalam.


Darah menetes keluar dan Mo Li denga cepat membawa lengan anak itu ke mulut, dihisapnya darah yang keluar. Tapi dia merasa kecewa, karena sebagai seorang ahli, ia pun dapat merasakan bahwa darah anak ini memang telah kemasukan hawa mukjijat darah anak naga, akan tetapi sedikit sekali.


"Hok Cu, coba kerahkan tenagamu dan pukul telapak tanganku ini." perintah Mo Li.


Hok Cu mentaati perintah gurunya. Dikepalnya tangan kanannya dan dipukulnya telapak tangan kiri wanita itu sekuat tenaga.


"Plakkkk...!"


Mo Li terkejut bukan main, karena anak perempuan ini tanpa setahunya, karena khasiat darah anak naga, kini memiliki pukulan yang luar biasa, kuat dan panas.


Pendekar silat kebanyakan saja mungkin takkan kuat menahan pukulan tadi. Lengannya sendiri sampai tergetar.


Dan ini dilakukan oleh Hok Cu tanpa disadarinya akan kekuatan yang tersembunyi di tubuhnya. Kalau anak itu sudah dapat mengendalikan tenaga mukjijat itu, tentu ia akan menjadi seorang yang amat tangguh.

__ADS_1


Dan anak ini akan menjadi muridnya. Biarpun ia tidak dapat mempergunakan darah di tubuh anak ini untuk kepentingannya sendiri, namun setidaknya ia akan mendapatkan seorang murid yang istimewa, pengganti puterinya dan ia pun mempunyai perasaan suka kepada Hok Cu.


Mo Li mengajak Hok Cu pulang ke Ceng-touw. Anak perempuan ini merasa kagum dan gembira sekali mendapat kenyataan bahwa gurunya tinggal di rumah yang besar dan mewah, dilayani oleh belasan orang pelayan wanita. Tak disangkanya bahwa gurunya ini ternyata amat kaya raya. Dan gurunya demikian sayang kepadanya.


Semenjak itu, mulailah Hok Cu dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Mo Li. Anak itu cerdas sekali, rajin dan juga lincah jenaka sehingga makin menyenangkan hati Mo Li. Akan tetapi diam-diam Mo Li merasa kuatir setiap kali ia teringat kepada puterinya.


Hok Cu begini cantik jelita, manis sekali dan wataknya demikian lincah jenaka, gembira. Anak perempuan seperti ini amat romantis dan satu-satunya hal yang mungkin jadi kelemahannya adalah kalau ia tergoda oleh seorang pria yang menawan hatinya.


Jangan-jangan akan terulang kembali peristiwa seperti dialami oleh putrinya dan ia pun merasa kuatir sekali.


"Muridku yang baik, mulai sekarang kau harus tekun, rajin dan mentaati semua perintahku!" seru Mo Li.


"Tentu saja, guru. Siapa lagi kalau bukan guru yang kutaati. Aku tidak mempunyai orang lain kecuali guru di dunia ini!" jawab Hok Cu gembira sambil memandang kepada gurunya dengan matanya yang indah, penuh kepercayaan.


Samar-samar masih teringat betapa kejamnya guru yang cantik ini terhadap musuh-musuhnya, akan tetapi gurunya ini lihai sekali dan sayang kepadanya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


   


__ADS_2