
Sementara Hua Li masih tetap dengan sabar menyimak cerita bibi Yi.
Kemudian Siauw Eng mengandung kamu dan Ibunda ratu mengetahuinya, maka pada saat pangeran Leng Hui melakukan misinya dalam pemerintahan ibunda ratu memerintahkan Kasim Mo untuk menjauhkan Siauw Eng dari kerajaan. Entah kemana Kasim Mo membawa Siauw Eng pergi, yang saya tahu Siauw Eng membawa semua barang-barangnya dan termasuk kecapi ini." ucap bibi Ti seraya memegang kecapi yang dibawa Hua Li." ucap bibi Yi yang terus memperhatikan kecapi yang dibawa Hua Li.
Wanita setengah baya itu kemudian memeluk kecapi itu, nampak berlinanglah air matanya. Ada kerinduan yang terlihat dari sudut matanya pada Siauw Eng sahabatnya yang merupakan ibunda Hua Li.
"Gadis yang malang nasibnya itu terpaksa diusir keluar dari gedung ini, dan kabar yang saya tahu kalau Kasim Mo membawanya ke selatan dan dalam perjalanannya, Siauw Eng melahirkan seorang anak perempuan. Karena tak mau repot, Kasim Mo membuatkan sebuah gubuk di tepi aliran sungai Kuning. Dan meninggalkannya bersama bayi perempuannya seorang diri. Tapi nasib memang sangat kejam. Setelah terjadi banjir berkali-kali di aliran sungai kuning itu, lima tahun setelah kelahiran kamu, terjadilah banjir bandang yang sangat besar dan gubuk yang kalian tinggali itu terbawa arus sungai yang sangatlah deras. Dan saya tak tahu lagi harus mencari kalian waktu itu, karena sebelumnya Kasim Mo yang selalu mengajakku menjenguk kalian pada saat persalinan sampai kamu berusia empat tahun." ucap bibi Yi yang menghentikan ceritanya.
"Terus bagaimana dengan Ayahku? apakah beliau mengetahui kabar tentang ibundaku?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Pangeran Leng Hui sebelumnya memang sudah menikah dengan putri dari bangsawan kaya raya dari kerajaan Ming yang bernama Xia He. Dan melahirkan seorang putra dan tinggal disebelah gedung ini." jawab Bibi Yi yang menatap Hua Li.
"Maksud bibi ibunda pangeran Leng Cun?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Iya, ibunda dari pangeran Leng pangeran Leng Cun."Jawab bibi Yi.
"Lantas siapakah orang tua pangeran Leng Song? bukankah mereka bersaudara?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Ssst....! Pangeran Leng song bukanlah putra kandung Raja Leng Hui." bisik bibi Yi yang tentu saja membuat Hua Li penasaran.
"Maksud bibi?" tanya Hua Li.
"Pangeran Leng song adalah putra bangsawan yang dimana Kasim Mo salah sasaran dalam menjalankan misinya. Kasim Mo membunuh semua anggota keluarga pangeran Leng Song dan menjadikan pangeran Leng Song sebagai putra dari Siauw Eng. Karena raja Lengl Hui pada waktu itu tahu kabar kehamilan Siauw Eng dan sangatlah marah sekali karena tak mendapati Siauw Eng di tempatnya. Maka ibunda ratu waktu itu dan Kasim Mo mencari cara untuk bisa meredakan kemarahan pangeran Leng Hui pada waktu itu. Jadi Kasim Mo menceritakan kalau Siauw Eng dibunuh para perampok dan Kasim Mo hanya bisa menyelamatkan anak laki-laki yang diakui sebagai putra dari Siauw Eng dengan pangeran Leng Hui. Dan karena itulah pangeran Leng song sampai saat ini seperti dianak tirikan dalam kerajaan Manchu ini." jelas bibi Yi.
__ADS_1
"Oh jadi begitu ya bi? Apakah bibi Yi, bisakah anda tunjukkan kepadaku di mana adanya Ayah eh Raja Leng Hui dan ibundanya yang telah merusak hidup Ibuku itu. Orang macam itu harus diberi pelajaran!" seru Hua Li yang mulai geram.
"Kau benar, Nona. Memang aku pun sangat sakit hati terhadap mereka! Tapi Ayah dan nenek kamu saat ini berada di gedung dimana Pangeran Leng Cun tinggal." ucap Bibi Yi.
Pada saat itu, muncullah pangeran Leng Song dengan pakaian yang indah. Lukanya agaknya telah sembuh, karena wajahnya berseri-seri dan sepasang matanya yang jernih itu bersinar-sinar, tampak cakap sekali.
Ketika melihat pangeran ini Hua Li lalu menundukkan muka, tapi matanya mengerling dan bibirnya pun tersenyum.
"Nona, biarlah hari ini aku akan mengerahkan semua orang mencari keterangan tentang orang tuamu." kata Pangeran Leng Song dengan ramah.
"Kakak eh, pangeran...!" seru Hua Li yang buru-buru mengubah sebutan itu sambil memandang kepada bibi Yi.
"Tak usah pangeran Leng Song tak usah repot-repot karena aku telah mendapat keterangan yang sangat penting dari bibi Yi ini." ucap Hua Li yang kemudian ia menceritakan kembali cerita bibi Yi tadi.
Setelah Jing Yi pergi, pangeran Leng Song memegang kedua tangan Hua Li dengan lembut.
"Nona, perkara membalas dendammu kepada keluarga pangeran Leng Cun adalah soal mudah karena Pangeran itu adalah seorang yang tidak mau menggunakan pengawal, sehingga mudah saja memasuki gedungnya. Tapi yang membuat aku selalu bingung adalah keadaan Pangeran Leng Cun. Dia ini jahat sekali dan banyak kaki tangannya. Kau sendiri telah mengetahui betapa ia membenci dan memusuhiku, mungkin karena aku bukan saudara kandungnya. Dan aku ingin sekali minta pertolonganmu, Nona." bisik pangeran Leng Song dan Hua Li memandang wajah yang tampan itu dengan pandangan mesra.
"Katakanlah, pangeran. Apa yang anda kehendaki?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Aku menghendaki sebuah kotak berisi surat-surat penting yang akan dapat membuka rahasianya dan menjatuhkannya di hadapan Kaisar. Kalau kau bisa menolong aku mendapatkan barang itu, ah...! Nona, selama hidupku aku akan selalu berterima kasih kepadamu!" pinta pangeran Leng Song yang membuat gadis itu runtuh menghadapi kecakapan dan sikap yang lemah lembut penuh kasih mesra dari pangeran Leng Song itu.
Hua Li yang sedang dimabuk cinta dan agaknya untuk membalas dendam dan menyenangkan hati pangeran Leng Song, Hua Li akan rela mengorbankan apa saja.
__ADS_1
...****...
Pada malam harinya, setelah mendapatkan petunjuk-petunjuk yang perlu dari pangeran Leng Song, Hua Li lalu pergi menuju gedung Pangeran Leng Cun yang berada di sebelah utara kota raja.
Gedung itu sederhana, tapi cukup besar dan kokoh kuat. Benar saja, di situ tidak terdapat pengawal-pengawal bersenjata sebagaimana biasa terdapat di gedung-gedung pangeran dan bangsawan tinggi. Dan gedung itu sunyi saja.
Hua Li melihat sebuah kamar yang masih terang sinar lampunya, maka gadis itu segera mengintai dari jendela.
Tampak olehnya seorang laki-laki setengah tua yang sedang duduk membelakanginya, dan laki-laki itu sedang memandang sehelai gambar. Yang ternyata gambar seorang wanita yang kertasnya yang sudah kuning, tapi gambar itu tidak tampak nyata dari luar jendela.
Laki-laki itu lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja dan tampak susah sekali, karena berkali-kali dia menghela napas panjang.
Melihat pakaian orang itu, Hua Li tidak ragu-ragu lagi bahwa inilah Raja Leng Hui yang telah merusak kehidupan ibunya dulu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...