
Namun pada serangan ini dapat pula digagalkan oleh Gan Lok yang meloncat ke samping dan kini cambuknya yang tadi sudah diputarnya ke belakang, sudah menyambar lagi ke depan.
Sekarang bukan hanya ada empat ekor yang menyambar, melainkan tujuh ekor ujung cambuk itu menyambar cepat dan ganas, yang diarah adalah bagian-bagian tubuh yang lemah dan ubun-ubun kepala sampai ke pusar.
Pemuda itu terkejut bukan main. Biarpun dia sudah memutar pedangnya dan kembali meloncat ke belakang, namun nyaris lehernya terkena ujung cambuk. Kemudian, Gan Lok terus menyerang bertubi-tubi dan pemuda itu hanya mampu mengelak sambil menangkis saja. Dia merasa seperti dikeroyok oleh sembilan orang lawan.
Ujung-ujung cambuk itu memang lihai sekali, menyerangnya bertubi-tubi dari sudut-sudut yang tidak terduga sehingga Ciok An sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk membalas. Pemuda ini hanya mampu melindungi tubuhnya saja dan terus main mundur.
Jelas bahwa dia terancam bahaya dan sewaktu-waktu tentu akan dapat dirobohkan lawannya.
Melihat hal ini Sang Gu merasa khawatir sekali. Dia pun dapat melihat betapa puteranya terdesak dan diam-diam dia terkejut. Puteranya sudah mempunyai ilmu kepandaian yang cukup tinggi, hanya sedikit selisihnya dengan tingkatnya sendiri.
Sementara Sang Ciok sama sekali tidak mampu membalas serangan lawan itu, berarti bahwa dia sendiri pun tidak akan dapat menandingi Gan Lok.
Tiba-tiba terjadi perubahan pada perkelahian itu, kini bukan Sang Ciok yang terdesak hebat, melainkan keadaannya berbalik dan Gan Lok yang terdesak oleh pedang di tangan Sang Ciok.
Permainan cambuk ekor sembilan yang tadi demikian lihainya, kini kacau balau dan bahkan beberapa kali ada ujung cambuk yang saling belit dan menjadi ruwet.
Apakah yang sesungguhnya terjadi, tidak ada yang tahu kecuali Han Beng. Bahkan Gan Lok sendiri pun hanya dapat merasa terkejut dan terheran-heran.
Dia hanya merasa betapa beberapa kali pangkal lengannya terasa nyeri, kesemutan hampir lumpuh seperti terkena totokan, dan permainan cambuknya menjadi kacau, bukan hanya karena lengannya setengah lumpuh, akan tetapi juga beberapa kali ekor ujung cambuknya seperti tidak mau menuruti gerakan tangannya, melainkan menyeleweng dan saling libat sampai menjadi ruwet.
Tentu saja dia terkejut sekali dan bingung sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya. Yang mengetahi presis hanyalah Han Beng karena hal itu terjadi akibat ulah pemuda ini.
Melihat betapa pemuda tunangan Yi Hui ini terancam bahaya sehingga Yi Hui sendiri dapat melihat ini dan gadis itu tampak gelisah, diam-diam Han Beng memper gunakan jari telunjuknya untuk menyentil sebuah kerikil yang menyambar dengan amat cepatnya dan menotok pangkal lengan Gan Lok dan membuat lengan itu setengah lumpuh.
Kemudian, beberapa kali Han Beng menyentil kerikil lain yang tepat mengenal ekor-ekor ujung cambuk yang menjadi kacau dan saling membelit.
Setelah Gan Lok menjadi bingung permainan cambuknya menjadi kacau balau, kini Sang Ciok mendesak dengan pedangnya dan akhirnya dia berhasil melukai pundak kiri dan paha kanan lawan.
Gan Lok meloncat ke belakang, lalu menghentikan permainan cambuknya, menjura kepada pemuda itu.
__ADS_1
"Baiklah, hari ini aku mengaku kalah. Akan tetapi hari-hari masih banyak dan kelak aku akan menembus kekalahan hari ini!" berkata demikian, dia lalu mengambil gucinya yang masih kosong dan meninggalkan tempat itu.
Tentu saja semua orang bertepuk tangan memuji dan saking gembiranya melihat betapa perkelahian itu berubah dengan kemenangan di tangan puteranya, Sang Gu yang gembira bukan main.
"Gan Lok, tunggu dulu !" teriak Sang Gu sambil meloncat ke dekat orang
yang mau pergi itu dan dia mengeluarkan sepotong perak.
"Aku bukan seorang yang
pelit dan setiap ada orang yang datang minta sumbangan, sudah pasti kuberi. Nah, inilah sepotong besar perak kuberikan untuk sumbangan!" seru Sang Gu yang melemparkan potongan perak itu yang dengani cepat masuk ke dalam guci yang dipanggul Gan Lok.
Gan Lok melotot. Pemberian itu dirasakan sebagai penghinaan dan mukanya menjadi merah. Akan tetapi dia mengangguk tanpa berkata sesuatu pun, lalu pergi dengan tergesa-gesa, mukanya merah padam karena malu, penasaran dan marah.
Diam-diam Can Lok masih merasa bingung dan heran. Jelas bahwa dia tadi hampir memperoleh kemenangan dan pemuda itu didesaknya sehingga tidak mampu membalas serangannya.
"Kengapa tadi lengan kananku tiba-tiba menjadi setengah lumpuh dan ekor-ekor cambuknya menjadi kacau balau? Ah, tentu ada orang pandai diam-diam membantu pemuda itu!" gumam dalam hati Gan Lok.
Kalau yang membantu itu adalah Sang Gu sendiri, maka betapa hebat kepandaian orang itu! Dia pun menjadi jerih sekali.
Bibirnya tersenyum manis dan dengan congkak dia memandang ke sekeliling, menikmati pandang mata orang banyak yang ditujukan kepadanya dengan kagum. Para penonton itu segera bubaran dan tentu saja menjadi juru-juru warta yang amat baik sehingga nama Aang Ciok disanjung-sanjung dan dipuji-puji.
Hanya dua orang yang tidak meninggalkan tempat itu.mereka adalah Han Beng dan Yi Hui.
Setelah semua orang pergi, Hui Im lalu menghampiri Sang Gu dan Sang Ciok yang sudah bergerak hendak memasuki toko mereka, dan Han Beng hanya mengikuti gadis itu.
"Paman ........!" panggil Yi Hui sambil memberi hormat ketika gadis itu berhadapan dengan Sang Gu.
Pria berusia lima puluh tahun yang berperawakan gagah dan berwibawa itu, dengan pakaian yang jelas menunjukkan bahwa dia seorang hartawan, menjadi heran mendengar sebutan itu.
__ADS_1
Dia memandang kepada Yi Hui dan juga kepada Han Beng. Agaknya dia sudah lupa sama sekali kepada keponakan yang juga menjadi calon mantunya ini, apalagi karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu akan muncul di situ
.
"Maaf, siapakah Nona?" tanya San Gu sambil mengerutkan alisnya dan memandang Yi Hui dengan tajam.
Demikian juga dengan Sang Ciok yang memandang kepada gadis itu, lalu kepada Han Beng yang mendampinginya.
"Paman, lupakah Paman kepada saya? Saya Yi Hui!" seru Yi Hui yang memperkenalkan dirinya.
"Ahh...!"
Sang Cu berseru kaget dan kini baru dia mengenal keponakannya itu. Demikian juga Sang Ciok tertegun dan mengamati gadis yang cantik itu dengan jantung berdebar, akan tetapi alisnya berkerut ketika dia melihat ada seorang pemuda sederhana namun tampan, seperti seorang pemuda dusun, yang menemani tunangannya itu.
"Mari, mari kita masuk dan bicara di dalam..!" kata Sang Gu sambil memandang ke kanan kiri.
Tentu saja timbul kekhawatiran di dalam hatinya kalau-kalau ada yang mengetahui bahwa gadis ini adalah puteri Yi Tiong yang dituduh memberontak.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1
... ...
... ...