Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 254


__ADS_3

Hok Cu tidak rikuh lagi, lalu mengaso dan merebahkan diri telentang di dalam bilik perahu. Tak lama kemudian ia pun sudah tidur nyenyak karena memang tubuhnya terasa lelah sekali.


Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hok Cu sudah terbangun dari tidurnya dan ia pun keluar dari dalam bilik itu. Melihat Han Beng masih duduk di kepala perahu bersama tukang perahu, ia lalu menghampiri.


"Kau tidurlah! Semalam kau tidak tidur tentunya kau lelah," kata Hok Cu.


"Aku tidak mengantuk dan semalam aku sudah duduk mengaso di sini. Alam indah bukan main dan rasa lelah pun hilang. Lihat, matahari demikian indahnya, Hok Cu," balas Han Beng yang menggeleng kepalanya seraya menunjuk ke depan.


Bagian sungai itu lebar sekali seperti lautan dan matahari nampak seperti sebuah bola merah yang amat besar, dan sinarnya belum menyilaukan mata.


Hok Cu memandang bola yang perlahan-lahan muncul dari permukaan air di depan, ia kagum bukan main. Memang penglihatan itu indah sekali. Sukar membayangkan betapa bola kemerahan seperti emas yang indah dan redup itu sebentar lagi akan menjadi bola api yang selain panas, juga tidak mungkin dapat dipandang mata karena menyilaukan.


Kini matahari telah berubah menjadi bola emas yang cerah sekali, mulai tak tahan mata memandang gemilangnya sinar matahari, dan bola emas itu membuat jalan emas di permukaan air Sungai Kuning.


Bola emas yang mulai berkobar dan menggugah seluruh permukaan bumi dari tidur lelap.


Tiba-tiba perhatian Han Beng dan Hok Cu tertarik akan munculnya sebuah perahu besar yang datang dari tepi dan agaknya sengaja menghadang perjalanan perahu kecil mereka. Tukang perahu juga melihatnya dan tiba-tiba tukang perahu itu menggigil ketakutan.


"Celaka! kita dihadang bajak sungai...!" bisik tukang perahu itu.


Mendengar hal ini, Han Beng dan Hok Cu memandang saling pandang.


Di atas perahu besar itu nampak belasan orang dan beberapa orang di antara mereka memegang golok besar. Wajah mereka beringas dan jelas nampak bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang sudah biasa mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka.


Bajak sungai yang berada di perahu dengan layar yang setengah berkembang itu terdapat gambar tengkorak putih. Terdengar para bajak itu mulai berteriak-teriak dan tertawa-tawa ketika mereka melihat seorang gadis cantik di atas perahu kecil yang mereka hadang.


Kemudian nampak seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam menjenguk ke bawah dan melihat betapa para bajak itu minggir untuk memberi tempat Si Muka Hitam itu, mudah diduga bahwa tentulah dia itu kepalanya. Melihat Hok Cu, Si Muka Hitam juga tertawa dan terdengar dia berseru nyaring.


"Hei, perahu yang di bawah! Serahkan gadis itu kepadaku, baru perahu boleh lewat dengan aman! Kalau tidak, gadis itu akan kami rampas dan kalian akan kami bunuh, kami jadikan umpan ikan, ha....ha...ha...!" seru mereka dengan tawa lebar.

__ADS_1


Hok Cu marah sekali, nampak dia mengepalkan telapak tangannya. Han Beng yang melihat hal itu, segera membisikkan sesuatu pada gadis itu.


"Hok Cu, kau tinggallah dan jaga di sini! biar aku yang menghadapi mereka. Ini adalah wilayahku!"


Setelah berkata demikian, sekali meloncat, Han Beng telah melayang ke atas perahu besar.


Hok Cu ingin menyusul, akan tetapi ia teringat bahwa Han Beng akan kemampuan sahabatnya itu, maka ia pun tersenyum. Han Beng telah menjadi seorang pendekar yang mengambil sungai itu sebagai wilayahnya, di mana ia menentang semua kejahatan di sepanjang sungai.


Sementara itu, para bajak terkejut melihat pemuda tinggi besar dan tampan gagah itu melayang seperti terbang saja ke atas perahu mereka.


Akan tetapi, karena mereka berjumlah enam belas orang, tentu saja mereka tidak takut dan segera mereka menyambut pemuda itu dengan bacokan-bacokan golok besar di tangan mereka.


Namun begitu pemuda itu menggerakkan kaki dan tangannya, empat orang bajak berteriak kesakitan, golok mereka beterbangan dan tubuh mereka pun terlempar ke luar dari perahu besar.


Air sungai muncrat ketika tubuh mereka menimpa air. Sementara itu, begitu para bajak laut menyerbu lagi, kembali empat orang terlempar oleh kaki tangan Han Beng dan tubuh mereka terbanting ke air.


Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menyerang dengan senjatanya, yaitu sebatang tombak panjang yang besar dan berat. Ujung tombak yang runcing itu meluncur ke arah perut Han Beng.


Namun, pemuda ini dengan tenang saja miringkan tubuh sehingga tombak itu lewat di samping pinggangnya dan begitu ia menurunkan tangan kanan, dia telah menangkap tombak itu.


Si Kepala Bajak mencoba untuk menarik tombaknya, namun sama sekali tidak berhasil. Dia semakin marah dan melepaskan tangan kanannya dari gagang tombak, melangkah maju dan menghantamkan tangan kanannya dengan kepalan yang besar itu ke arah muka Han Beng.


Pemuda itu menyambutnya dengan tangan kiri yang terbuka.


"Plakkkk!"


Kepalan tangan kanan kepala bajak yang kuat dan besar itu bertemu dengan telapak tangan Han Beng yang segera mencengkeram, dan kepala bajak itu menjerit-jerit kesakitan, mencoba untuk menarik tangannya namun tidak dapat terlepas.


Dua orang bajak menyerang dengan golok, namun dua kali kaki Han Beng melayang dan tubuh dua orang itu pun terlempar keluar dari perahu.

__ADS_1


"Aduh, ampun....! aduh ampun, pendekar..!"


Kepala bajak itu mengaduh-aduh karena kepalan tangan yang dicengkeram itu seperti dipanggang dalam api saja rasanya. Panas dan nyeri bukan main, sampai menusuk ke tulang sumsum dan meremas jantung.


"Hemmm, orang macam kalian ini seharusnya dibasmi!" seru Han Beng sambil mendorongkan tangannya dan cengkeramannya dilepaskan.


Kepala bajak itu terjengkang dan dia memegangi tangan kanannya yang tulang-tulangnya remuk itu dengan tangan kiri, mengaduh-aduh.


"Buang senjata kalian dan berlutut minta ampun kepada pendekar!" seru kepala bajak sungai itu, Ketika dia melihat anak buahnya masih memegang goloknya, dengan membentak.


Sisa bajak yang tinggal lima orang itu dengan ketakutan lalu membuang golok mereka dan menjatuhkan diri berlutut, mengangguk-angguk seperti sekumpulan ayam mematuki beras sambil minta ampun.


Sepuluh orang bajak yang terlempar ke air sungai tadi tidak menderita luka. Mereka berenang dan menuju ke perahu kecil, dengan maksud untuk menangkap gadis cantik di perahu itu.


Akan tetapi, mereka disambut hantaman dayung oleh Hok Cu. Biarpun ada yang mencoba untuk menyelam dengan maksud menggulingkan perahu, namun dayung itu tetap saja dapat menghantam mereka dalam air dan berturut-turut, sepuluh orang bajak sungai itu pingsan dan tubuh mereka hanyut perlahan-lahan.


Han Beng melihat hal itu. Dia khawatir kalau bajak-bajak yang dipukuli dayung oleh Hok Cu itu tewas.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2