
"Benar sekali, Ayah. Nona Hua adalah penerus keluarga Hua yang terkenal sekali dan tinggal di aliran sungai kuning." jawab Liu Ceng yang menyahut dan membenarkan pertanyaan ayahnya.
"Kamu dengar dari siapa?" tanya Siauw Tek yang penasaran.
"Saya mendengar cerita dari nona Hua sendiri, Ayah," kata Liu Ceng tenang dengan tenang.
"Apakah dia menceritakan siapa nama orang tuanya?" tanya
Liu Tek yang penasaran.
"Kalau saya tidak salah ingat, nama ayahnya angkatnya adalah Hua Tian dan nama ibu ankatnya adalah Yan Qiu," jawab Liu Ceng yang mengernyitkan kedua alisnya.
"Tidak mungkin...!" seru Liu Tek berteriak sedemikian kuatnya sehingga mereka semua terkejut.
"Ayah, apa artinya ini? Kenapa Ayah terkejut mendengar nama orang tua angkat nona Hua?" tanya Liu Ceng yang penasaran.
Nyonya Liu dan Ban tok juga memandang heran dan hampir mereka bertanya berbareng.
"Apa artinya semua ini?"
"Yan Qiu itu adalah Adikku yang menikah dengan Hua Tian In! Ketika masih kecil kami terpisah, kare Yan Qiu tetap memilih di kerajaan Ming, sedangkan ikut dengan ayah yang menjadi tabib di istana. Aku ikut dengan ibu yang terus mengembara dan akhirnya berhenti di sini dan menikah dengan salah satu anak laki-laki keluarga Liu, yaitu kakeknya Liu Hong. Aku mendapat kabar kalau Yan Qiu bergabung ke perguruan Bambu Kuning dan aku pernah menyelidiki sampai di sana, aku mendapat keterangan bahwa dia telah menikah dan belum mempunyai keturunan." jelas Liu Tek.
"Ah, mengapa Ayah tidak pernah menceritakan hal ini kepada aku atau Ibu?" tanya Liu Hong, dan ibunya juga memandang heran.
Siauw Tek menghela napas.
"Dulu Yan Qiu sudah ditunangkan dengan pemuda lain yang merupakan pengawal pilihan diistana Ming, akan tetapi ia jatuh cinta kepada Hua Tian sejak Hua Tian selalu melakukan pemberontakan di kerajaan Ming dan adikku Yan Qiu melarikan diri, meninggalkan ayah yang masih bekerja di dalam istana dan sejak itu kami putus hubungan. Belakangan aku mendengar bahwa mereka di aliran sungai kuning, akan tetapi karena selain jarak yang jauh, aku khawatir tidak akan diterima dengan baik, aku pun tidak berani berkunjung ke sana. Setelah aku mendengar akan malapetaka yang menimpa aliran sunga kuning beberapa tahun yang lalu, aku pergi ke sana dan mendengar bahwa mereka semua, termasuk Adikku Yan Qiu, telah tewas. Liu Ceng, ceritakanlah apa lagi yang kau dengar dari Nona Hua? Apa dia menceritakan tentang orang tua kandungnya?" jelas sekaligus tanya Siauw Tek.
"Dia menceritakan semuanya padaku, Ayah. Dia menceritakan bahwa ketika malapetaka banjir bandang waktu itu menimpa di tepian sungai kuning yang membawanya terpisah dari ibu kandungnya dan dia diselamatkan oleh ayah angkat dan ibu angkatnya, dia masih kecil dengan bantuan kecapi yang selama ini dia bawa, berhasil membawanya bertemu sepasang suami istri itu." ucap Liu Ceng.
"Wah, nona Hua tertolong? Bagaimana selanjutnya, kakak Ceng?" tanya Liu Hong , wajahnya berubah merah dan matanya bersinar-sinar. Hua Li itu kakak misannya.
__ADS_1
"Hua Tian dan Yan Qiu adalah sepasang pendekar yang menyelamatkan Hua Li dan merawatnya sampai Hua Li remaja. Karena itulah dia ikut marga ayah angkatnya Hua." ucap Liu Ceng.
"Hua Li! Jadi benar, dia adalah putera angkat bibi Yan Qiu! Aku mempunyai seorang Kakak Misan!" Kembali Liu Hong berseru girang mendengar bahwa gadis yang pernah dicintanya itu adalah kakak misannya.
Wajah Liu Tek berubah pucat dan bayangan duka menyelimuti wajahnya.
"Aduh, kasihan Adikku Yan Qiu. A Ceng, engkau yang sudah mendengar riwayat keponakanku Hua Liu itu, ceritakanlah bagaimana selanjutnya!" seru Liu Tek yang penasaran.
Liu Ceng menceritakan kembali apa yang pernah didengarnya dari Hua Li. Hua Li yang dibesarkan oleh Yan Qiu dan Hua Tian sebagai putri dan muridnya. Beberapa tahun kemudian, ibu angkatnya Yan Qiu meninggal dunia karena wabah penyakit yang menyerang di sekitaran sungai kuning, beliau berusaha mencari dan mencoba beberapa ramuan. Hingga beliau tewas karena terlalu banyak ramuan yang beliau coba, tubuhnya tak dapat menerima ramuan-ramuan itu." kata Liu Ceng.
"Yan Qiu, tragis sekali nasibmu!" gumam nyonya Liu.
"iya, tapi aku tetap mengucapkan Terima kasih kepada Tuhan! Aku bangga mempunyai seorang keponakan seperti Hua Li!"
Berita tentang Hua Li itu bagaikan secercah sinar yang menerangi kegelapan yang menyelubungi hatinya mendengar akan nasib adiknya.
"Ayah, ada yang lebih menggembirakan lagi! Adik Hua dan kakak Ceng saling mencinta!" seru Liu Hong dengan mengulas senyumnya.
"Ha...ha ..ha .., ketika Liu Ceng datang ke sini bersama Nona Hua dahulu, aku sudah menduga bahwa di antara mereka terdapat hubungan batin yang erat, dapat dilihat dari pandang mata dan suara mereka ketika bicara!" seru Ban Tok yang sedari tadi diam dan itu sambil tertawa.
"Bagus sekali! Aku akan merasa berbahagia kalau keponakanku itu menjadi jodohmu, Liu Ceng!" kata Liu Tek sambil tertawa pula.
"Akan tetapi, ......bolehkah anak kita menikah dengan keponakan kita? Mereka bersaudara misan?" tanya istri Liu Tek yang ragu.
"Mengapa tidak boleh? Biarpun kita telah menerima Liu Ceng seperti anak kita sendiri, akan tetapi ia tidak mempunyai hubungan darah dengan Hua Li. Dan Hua Li juga cuma anak angkat dari Yang Qiu!" jelas Liu Tek sembari menatap istrinya.
"Kalau begitu, aku pun akan merasa gembira," kata nyonya Liu sembari mengulas senyumnya.
"Ayah dan Ibu berdua, saya harap janganlah membicarakan urusan ini lagi karena Li'er sudah mempunyai tambatan hati di perguruan bambu kuning." ucap Liu Ceng yang merendahkan suaranya.
"Hemm, ketika Li'er mengaku bahwa dia punya tambatan Hadi di perguruan bambu kuning, aku marah sekali dan menyerangnya! Karena itulah maka kami berdua berpisah darinya!" kata Liu Hong yang kesal.
__ADS_1
"Sudahlah, Liu Ceng berkata benar. Untuk sementara ini kita tidak perlu bicara soal perjodohan ltu. Tunggu sampai kita bertemu dengan Hua Li!" seru Ban Tok guru Liu Ceng dan semuanya menganggukkan kepala mereka.
Pada saat itu, seorang penjaga ditepi Pulau Ular datang berlari-lari memasuki rumah. Dengan terengah-engah dia berdiri di ambang pintu dan memberi hormat dengan membungkuk.
"Hemm, engkau datang mengganggu kami tanpa dipanggil! memangnya ada sesuatu yang penting?" tanya Ban Tok dengan sedikit kesal.
"Ampunkan kalau saya mengganggu, tuan dan nyonya. Saya hendak melaporkan bahwa tak jauh dari pulau ini tampak perahu kecil dengan beberapa penumpang yang dikepung dan dikeroyok pasukan Mongol yang berada di empat buah perahu besar. Kami tidak berani mengambil tindakan sebelum ada perintah dari tuan dan nyonya!" seru penjaga itu dengan terengah-engah.
"Ayah...Ibu, kita harus bantu siapa saja yang dimusuhi pasukan Mongol!" seru Liu Hong yang sudah bangkit berdiri. Ibu atau gurunya dan ayahnya pun menganggukkan kepala mereka.
"Mari kita lihat!" seru Siauw Tek.
Dan mereka segera berlari keluar dari gedung itu mengikuti penjaga yang menjadi penunjuk jalan itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1