Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 181


__ADS_3

Han Beng menarik napas panjang,dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.


Riwayatnya amat tidak menarik, akan tetapi dia teringat bahwa keadaannya yang mirip dengan keadaan gadis tentu akan dapat menghibur hati Hui membuka mata gadis itu bahwa ia tidak seorang diri saja hidup sebatangkara dunia ini.


"Adik Hui, keadaan diriku pun tidak banyak bedanya denganmu. Ayah ibuku telah tiada, tewas di tangan orang dunia persilatan aliran hitam di Sungai Kuning ketika keluarga kami melarikan diri dari kerja paksa. Aku sendiri tidak tahu siapa yang membunuh mereka, karena ketika itu terjadi keributan di antara orang-orang dunia persilatan itu yang memperebutkan anak naga di Sungai Kuning." kata Han Beng yang kembali menarik napasnya panjang dan melepasnya secara pelan-pelan.


"Aku tidak mempunyai keluarga lagi, sebatangkara dan seperti kaulihat, aku hidup dengan guruku, dan kami hanyalah pengemis-pengemis miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal." sambung Han Beng.


"Kasihan sekali kakak Beng," kata Yi Hui dengan tulus.


"Sudahlah adik Hui, tidak ada gunanya kita memupuk iba diri seperti yang dikatakan oleh guru tadi. Iba diri hanya menumbuhkan duka dan kecil hati. Bagaimanapun juga, kita masih hidup dan dunia ini cukup luas, bukan? Matahari besok masih akan bersinar terang dan lihat, biarpun bulan mulai tenggelam, sebagai gantinya nampak begitu banyaknya bintang cemerlang di langit. Kita tidak sebatangkara di dunia ini, adik Hui, karena masih banyak terdapat manusia-manusia budiman di dunia ini yang dapat kita harapkan menjadi keluarga kita." nasehat Han Beng.


"Kau benar, kakak Beng. Ah, kalau tidak bertemu dengan kau dan kakek, entah bagaimana jadinya dengan diriku. Muungkin aku sudah putus asa menghadapi keadaan seperti ini." kata Yi Hui dengan menganggukkan kepalanya.


"Adik Hui...! Lebih baik kau beristirahat, kau perlu mengumpulkan tenaga. Siapa tahu, tenagamu dibutuhkan besok. Tidurlah, biar aku yang berjaga di sini." kata Han Beng.


Karena merasa dirinya lelah sekali dan seluruh tubuh terasa lemas karena duka, Yi Hui mengangguk, merebahkan diri miring dan sebentar saja pun napasannya yang lembut menunjukkan bahwa ia telah jatuh tidur.


Sampai lama Han Beng mengamati wajah yang tidur pulas itu, wajah manis yang seperti sinar api unggun dan hatinya terger. Dia sendiri tidak mengerti mengapa sejak pertemuan pertama kali, sejak di diberi obat oleh Nona cantik itu, dia merasa tertarik sekali, ada rasa suka dan kagum, dan kedua perasaan itu kini tambah dengan rasa iba yang mendalam.


Ada perasaan di dalam hatinya untuk menghiburnya, untuk menyenangkan hatinya, untuk membahagiakan hidupnya.


Apakah yang dinamakan cinta? Dia tidak mampu menjawabnya. Karena perasaannya begitu berbeda ketika bersama Hok Cu dan Hua Li. Han Beng dalam rasa dilema.


Sementara itu, dengan cepat Kwe Ong lari meninggalkan muridnya, bukan karena tergesa-gesa, melainkain karena dia tidak ingin kalau batuknya terdengar oleh murid itu.


Sejak tadi dia sudah menahan diri, menahan agar tidak terbatuk, padahal kerongkongannya gatal sekali dan napasnya sesak. Ia tahu bahwa kesehatannya memang belum pulih. Dia harus bertindak cepat.


Rahasia yang menyelimuti perkumpulan pengemis sabuk merah dan yang agaknya membuat perkumpulan itu berubah menjadi jahat, harus dapat dibongkarnya.

__ADS_1


Setelah tiba diluar tembok yang mengelilingi bangunan perkumpulan pengemis sabuk merah , dia lalu melakukan pengintaian. Kebetulan sekali dia melihat seorang anggota perkumpulan itu yang bersabuk merah cerah, tanda bahwa dia bertingkat dua, keluar dari pintu gerbang.


Diam-diam dia membayanginya dan pengemis yang usianya kurang lebih empat puluh tahun itu menuju ke sebuah rumah tak jauh dari sarang perkumpulan pengemis sabuk merah itu.


Pengemis itu bertubuh agak pendek, mukanya merah hidungnya besar. Dia masuk begitu saja ke dalam rumah itu, yang sebelumnya dia mengendap-endap. Hal ini saja menimbulkan kecurigaan di hati Kwe Ong dan dia melakukan pengintaian tak jauh dari situ.


"Siapa kau...!" terdengar suara wanita dari dalam yang berseru.


 "Hei, temani aku malam ini! Maka hutang-hutang orang tua kamu akan lunas!" seru pengemis itu.


"A...apa! Aku tidak mau! Lagi pula hutang ayahku itu uang, jadi akan aku lunasi dengan uang! Bukan melayani nafsu bejat kamu!" tegur suara wanita itu dari dalam rumah dan terdengar suara pukulan-pukulan.


"Ah, pokoknya malam ini kau harus temani aku!" seru pengemis itu yang memaksa.


 "Pergi kau! sebentar lagi suamiku pulang biar tahu rasa kau!" seru wanita itu dengan geram.


"Aaahhh, aku tak takut! Akan aku bunuh sekalian dia! He...he....!" seru pengemis itu dengan terkekeh-kekeh.


"Istriku...! Cepat buka pintunya....!"


Tiba-tiba pintu depan diketuk orang dengan kerasnya. Seorang pria mengetuk pintu rumahnya, berteriak kepada penghuni rumah itu untuk membuka pintunya.


Kwe Ong yang sedang mengintai dari atas genteng dan mendengar suara wanita tadi di dalam rumah.


"Nah benarkah...! Itu suamiku datang! Lekas kau pergi, aku akan membuka pintunya!" seru wanita itu.


"Hmm, jahanam itu! Berani dia mengganggu kesenanganku? Biar kuhajar mampus dia!" gerutu pengemis itu dengan geramnya.


"Jangan....jangan...! dia itu suamiku!" seru wanita itu yang khawatir, karena tahu kemampuan pengemis itu yang bisa menandingi suaminya yang hanya laki-laki petani saja.

__ADS_1


"Hmm, jangan cerewet! Buka pintunya dan biarkan dia masuk!" pengemis itu dengan membentak.


Kwe Ong sudah melayang turun dan mengintai dekat pintu depan dan ketika daun pintu dibuka dari dalam, tiba-tiba sesosok bayangan melayang keluar dan menghantamkan tongkatnya ke arah kepala suami wanita yang baru datang itu.


"Trakkk....!"


Bukan kepala suami itu yang remuk, melainkan tongkat itu patah-patah ditangkis oleh tongkat di tangan Kwe Ong.


Si pengemis itu terbelalak kaget, akan tetapi sebelum dia dapat bergerak, tangan kiri Kwe Ong sudah menyambar ke arah punuknya dan dia pun terkulai lemas. Tentunya suami wanita itu menjadi terkejut dan terheran-heran.


Kwe Ong menyeret pengemis itu itu dan berkata kepada suami yang keheranan itu.


"Sebaiknya kau jangan meninggalkan rumah di malam hari agar rumahmu. tidak diganggu oleh orang-orang jahat!" seru Kwe Ong yang kemudian dia melompat membawa tubuh pwngemis itu seolah-olah menenteng benda yang ringan saja.


Suami Isteri itu bengong karena dalam sekejap mata saja pengemis tua itu lenyap dari depan mereka.


Kwe Ong membawa pengemis itu ke tempat yang sunyi dan dia mulai menginterogasi pengemis itu.


"Hayo katakan, di mana adanya Setan tua Sin Kai?" tanya Kwe Ong yang untuk ke tiga kalinya dengan membentak.


Pengemis itu rebah telentang di depan di tepi sebuah hutan di luar kota, dan dia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, akan tetapi tidak dapat dia bergerak karena tubuhnya sudah lumpuh oleh totokan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2