
"Hmm, mereka adalah ketua perguruan Serigala Emas yang yang bernama Gan Lok dan wakilnya yang bernama Kim Kauw!" jawab Hok Cu.
"Tepat sekali! jelas sekali mereka berdua itu yang dulu juga ikut memperebutkan kita." kata Han Beng.
Setelah menyetujui ajakan Han Beng untuk bekerja sama, pemuda dan gadis itu lalu melakukan perjalanan cepat, memasuki kembali kota Siong-an.
"Kita harus berhati-hati," kata Han Beng.
"Sebaiknya memasuki kota Siong-an pada malam hari. Bagaimanapun juga, kepala daerah kota itu, Cang Jin, adalah sekutu pemberontak dan tentu dia menyebar petugas untuk mengejar kita." sambung Han Beng.
"Kenapa kita berkunjung ke Siong-an?" tanya hok Cu yang penasaran.
"Liu Tai telah berpesan kepadaku kalau aku hendak menghubunginya, aku dapat mengadakan kontak dengan seorang pedagang obat yang membuka toko obat di kota Siong-an. Orang itu bernama Kui Song dan dia adalah mata-mata dari Liu Tai." jawab Han Beng.
"Oh,jadi begitu. Baiklah kalau begitu tunggu apalagi!" seru Hok Cu yang bangkit dari duduknya dan menatap Han Beng.
Pemuda itupun bangkit juga dari duduknya dan keduanya melangkahkan kaki menuju ke arah kota Siang An.
Tak berapa lama mereka berdua sampai di luar kota sampai hari menjadi gelap, barulah mereka menggunakan ilmu kepandaian mereka memasuki kota itu dengan meloncat pagar tembok kota dan bagaikan dua bayangan mereka berkelebatan mencari rumah tinggal Kui Song.
Tidak sukar mencari toko itu. Mereka berdua berjalan mondar-mandir beberapa kali di jalan depan toko obat itu. Setelah melihat keadaan di toko itu sepi, juga di jalan mulai sepi karena malam mulai larut, dan para penjaga toko obat itu mulai menutup toko, mereka lalu menghampiri para penjaga toko.
Karena mengira mereka hendak membeli obat, seorang penjaga toko menyambut mereka.
"Apakah tuan dan nona hendak mencari obat?" tanya Kui Song yang penasaran.
"Kami hendak menawarkan rempah-rempah dan obat-obat yang kami bawa dari hulu sungai. Apakah Paman Kui Song ada? Kami ingin bicara sendiri perdagangan ini dengan dia." jawab Han Beng.
Penjaga toko itu memandang dengan mata menyelidik.
__ADS_1
"Kalau hendak menawarkan dagangan, sebaiknya kalau besok pagi saja kau datang lagi. Tabib kui sedang beristirahat dan tidak boleh diganggu." jawab pelayan itu
"Hemmm, akan tetapi selain menawarkan dagangan, kami juga ada urusan penting, mengenai pesanan Paman Kui. Harap sampaikan kepadanya bahwa kami perlu bertemu karena urusan yang amat penting." kata Han Beng yang meyakinkan.
ORang itu kembali mengamati Han Beng dan Hok Cu, lalu bertanya dengan hati-hati.
"Siapakah Anda berdua dan keperluan apakah yang penting itu? Akan kusampaikan kepada Tabib Kui." tanya Pelayan itu.
"Katakan saja bahwa aku Han Beng membawa berita penting untuk orang pembesar Liu Tai." jawab Han Beng.
Kini penjaga toko itu tidak banyak cakap lagi, lalu masuk ke dalam dan dua orang kawannya melanjutkan pekerjaan mereka menutup toko.
Tak lama kemudian, dia kembali lagi bersama seorang pria berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus, berpakaian seperti seorang sastrawan dan memiliki pandang mata yang tajam.
Melihat Han Beng, dia mengamati dengan tajam, lalu bertanya dengan suara lirih.
"Pendekar naga Sakt?"
"Aku Han Beng mempunyai urusan penting dengan Paman Kui Song. Dan ini adalah Nona Hok Cu, seorang sahabat baik." kata Han Beng.
Kui Song cepat membalas penghormatan mereka.
"Mari, silakan masuk. Kita bicara di dalam saja," katanya sambil melempar pandang dengan penuh perhatian ke jalan raya.
Dia mengangguk lega ketika melihat suasana yang sunyi di luar. Sambil mengantar dua orang tamunya masuk, dia berkata kepada tiga orang penjaga toko itu,
"Setelah tutup kalian berjaga di luar."
"Baik tuan!" seru pelayan itu. Kemudian Kui song mengajak Han Beng dan Hok Cu untuk masuk ke dalam, ternyata rumah itu luas juga dan selain tiga orang pria yang bertugas menjaga toko dan menjaga di luar, di dalam terdapat pula dua orang pemuda yang bertugas sebagai pelayan pula.
__ADS_1
Padahal, seperti juga yang berada di luar, mereka berlima itu adalah lima orang perajurit pengawal yang memiliki kepandaian silat lumayan, dan sengaja diperbantukan kepada Kui Song yang bertugas sebagai seorang penyelidik atau mata-mata.
Tidak ada seorang pun wanita di situ. Kui Song tidak begitu bodoh untuk memboyong keluarganya yang berada di kotaraja, karena di Siong-an dia mempunyai tugas yang berbahaya. Kalau tugasnya gagal dan ketahuan pihak musuh, nyawanya terancan bahaya. Di kota raja, Kui Song mempunyai kedudukan sebagai seorang perwira tinggi. Karena dia mengerti tentang obat-obatan, maka dia menyamar sebagai seorang tabib yang berdagang obat di kota itu.
Setelah mereka duduk di ruangan dalam, Kui Song berkata,
"Harap pendekar jangan heran kalau aku sudah menduga bahwa anda adalah pendekar naga Sakti yang terkenal itu, karena aku sudah menerima keterangan dari Liu Tai tentang dirimu, maafkan aku bagaimana dengan Nona Bu ini? Aku belum mengenalnya?" tanya Kui Song yang menatap Hok Cu dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Justeru melalui dialah yang menjadi pembawa berita dan keterangan yang teramat penting tentang gerombolan pemberontak karena ia baru saja keluar dari sana dan sempat melihat dan mendengar tentang persekutuan mereka itu. Nona ini adalah seorang sahabatku yang dapat dipercaya sepenuhnya, dan ia adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai." jawab Han Beng.
Mendengar ini, Kui Song segera bangkit dan memberi hormat kepada Giok Cu.
"Ah, kalau begitu, mohon maafkan saya nona pendekar. Nah, sekarang bisa kalian menceritakan, berita apa yang amat penting itu?" tanya Kui Song yang penasaran.
"Bahwa terdapat bukti adanya persekutuan antara Cang Jin dengan pihak gerombolan pemberontak dan tentang perkumpulan perguruan Serigala emas yang bersekutu untuk memberontak dengan dalih berjuang demi kepentingan rakyat tertindas," kata Han Beng. Mendengar ucapan itu, wajah Kui Song berseri.
"Itu sungguh berita yang amat penting! Memang itulah yang ditunggu-tunggu oleh pembesar Liu Tai. Tuntutan terhadap Cang Tai-jin sebagai seorang yang menyalahgunakan tugas dan wewenangnya, memaksa rakyat untuk menjadi pekerja paksa tanpa bayaran membuat terusa memang merupakan urusan besar, akan tetapi lebih besar lagi kalau dia bersekutu dengan gerombolan pemberontak. Pendekar, tolong ceritakanlah dengan jelas." pinta Kui Song.
"Nona Hok Cu ini yang dapat bercerita lebih jelas. Kami sengaja hendak menyampaikan hal ini kepada Paman Kui Song, karena kami tidak ada waktu untuk menghadap sendiri kepada Liu Tai. Juga kami tidak ingin mencampuri urusan pemerintah, hanya ingin membantu untuk menentang kejahatan saja. Hok Cu, ceritakanlah!" kata Han Beng yang menatap Hok Cu.
Hok Cu mengulas senyum seraya menganggukkan kepalanya, lalu mulai menceritakan tentang semua hal yang dilihat dan didengarnya
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...