
Tatapannya tajam menatap satu persatu dari tiga belas orang yang ada dihadapannya itu.
"Nona Hok Cu, kami sengaja mengejarmu karena kami mengharap agar kau membantu perjuangan kami. Nona, kami membutuhkan bantuanmu dan demi kepentingan rakyat jelata, saya harap kau menerima uluran tanganku dan membantu kami, bekerja sama dengan kami, Nona." kata Pemuda itu yang tersenyum manis dan pandang matanya penuh gairah.
Hok Cu mengerutkan alisnya. Ia bukanlah gadis yang masih hijau. Sama sekali tidak. Biarpun ia masih muda, namun ia adalah bekas murid Mo Li. Selama lima tahun ia digembleng oleh datuk sesat itu dan ia hidup dikalangan golongan hitam sehingga tentu saja ia sudah terbiasa oleh sikap pura-pura dan palsu dan mudah saja ia mengenal sikap pura-pura ini.
Maka, melihat senyum dan pandang mata Hong Lan, diam-diam ia terkejut dan muak. Kiranya pemuda ini memiliki niat yang cabul terhadap dirinya. Hal itu mudah saja dapat ia ketahui melalui pandangan mata dan senyum itu.
"Hmm, Saudara Hong Lan, sungguh kau ini aneh sekali. Bukankah disana tadi sudah kukatakan dengan jelas bahwa aku tidak mau terlibat dengan urusan kalian? Aku mempunyai tugas pribadi yang penting, dan aku tidak mau bekerja sama dengan kalian" jelas Hok Cu yang miliki watak lincah itu, tersenyum mengejek sambil menatap tajam wajah Hong Lan.
"Aih, Nona yang baik. Kenapa kau berkeras menolak? Ketahuilah, kalau kau menolak, terpaksa kami menahan engkau pergi meninggalkan tempat ini!" seru Hong Lan.
Sepasang mata bintang itu terbelalak, namun sinarnya seperti mencorong karena gadis itu mulai marah.
"Alasannya?" tanyanya singkat.
"Kami mencurigai bahwa tugas pribadimu itu bukan lain adalah tugasmu bagai mata-mata pemerintah! Siapa tahu kau ini diam-diam merupakan kaki tangan para pembesar, seperti pemuda tinggi besar yang melindungi Liu Tai itu!" jelas Hong Lan.
"Ha...ha...ha...!"
Tiba-tiba Hok Cu tertawa, suara tawanya lirih dan sopan, namun ia tertawa bebas, tidak malu-malu dan tertahan seperti kebiasaan para gadis.
Hal ini adalah karena ia pernah hidup seperti liar bersama guru pertamanya, yaitu Mo Li. Setelah tertawa.
"Bagus, bagus! Sungguh alasan yang dicari-cari. Katakan saja Hong Lan, bahwa kau hendak menjual lagak didepan orang-orang ini, dan katakan saja engkau menantang aku! Hemmm, jangan kaukira aku takut menghadapi pedang, suling, dan capingmu itu! Majulah!" seru Hok Cu yang sudah meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya.
Melihat pedang gadis itu, semua orang hampir mentertawakannya. Karena pedang Hok Cu adalah sebatang pedang tumpul. Pedang yang kuno, buruk dan tumpul, bagaimana pedang macam itu dapat diandalkan sebagai senjata. Untuk mengiris mentimun pun agaknya tidak akan tembus.
__ADS_1
Para pimpinan perguruan Serigala Emas sudah siap untuk mengeroyok dan melihat ini, kembali Hok Cu tertawa mengejek.
"He...he...he...! kiranya yang bernama Hong Lan hanyalah banyak lagak dan seorang pengecut besar, beraninya mengandalkan keroyokan. Cih, kalian ini belasan orang laki-laki pengecut tak tah malu mau mengeroyok seorang gadis sepertimu!" Bentak Hok Cu dengan geram.
Tiga belas orang itu saling pandang dan muka mereka berubah merah. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang terkenal dengan ilmu kepandaian mereka yang tinggi, terkenal sebagai jagoan-jagoan.
Tentu saja amat memalukan kalau sekarang mereka mengeroyok seorang gadis muda. Yang merasa paling malu adalah Hong Lan. Dia biasanya menyombongkan dan mengandalkan ilmu-ilmunya, tentu saja ucapan yang amat menghina itu dirasakannya sebagai suatu tamparan keras pada mukanya.
Mukanya yang tampan itu berubah, penuh kerut merut sehingga nampak buas dan kejam, matanya menjadi kemerahan pula, dengan lenyaplah senyumnya, hidungnya yang besar itu kembang kempis seperti hidung kuda, sinar matanya mencorong aneh dan tiba-tiba dia menangis.
Tentu saja semua yang memandang dengan heran. Seperti seorang anak-anak yang ngambek, Hong Lan melangkah maju menghampiri Hok Cu.
"Kau... kau menghinaku...uhu-hu, kau menghinaku.....!" racau Hong Lan.
Hok Cu terkejut dan terheran, lalu tersenyum mengejek.
Dan tiba-tiba saja pemuda itu tertawa bergelak. Sikap ini tentu saja membuat semua orang merasa seram.
"Ha ..ha...ha...! Nona Hok Cu, kami mengajakmu secara baik-baik, kau menolak malah menghina. Hem, dengan terpaksa aku akan menggunakan kekerasan dan kalau kau kalah olehku, berarti kau menjadi tawananku dan kau harus taat kepadaku, tunduk dan mentaati semua perintahku. Mengerti!" seru Hong Lan dengan tatapan yang tajam.
"Hong Lan, kiranya kau bukan saja pengecut besar, akan tetapi juga gila dan amat jahat. Kau ini srigala berbulu domba, sungguh berbahaya sekali dan sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi manusia iblis macam engkau. Majulah dan tidak perlu banyak cerewet lagi!" seru Hok Cu yang sudah mulai mengambil kuda-kuda.
Pada dasarnya, Hok Cu memang seorang gadis yang lincah dan pandai bicara, maka Hong Lan merasa kewalahan untuk saling serang melalui kata-kata. Akan tetapi dia melihat pedang tumpul di tangan gadis itu dan dia lalu menyimpan pedang dan sulingnya.
"Hem, Manis, lihat. Menghadapi pedang tumpul itu, aku tidak akan mengunakan senjata!" seru Hong Lan dengan sombongnya.
Melihat hal ini Hok Cu juga menyimpan kembali pedangnya.
__ADS_1
"Tak perlu berlagak, kaki tanganku juga cukup kuat untuk menghajarmu tanpa senjata!" seru Hok Cu.
Giranglah hati Hong Lan bahwa dia berhasil memancing sehingga gadis itu mau berkelahi tanpa senjata. Dia tidak ingin melukai gadis ini, dan kalau mungkin dia akan menundukkannya tanpa melukai.
Sayang kalau sampai kulit yang halus mulus itu lecet apalagi terluka berdarah. Dia sudah membayangkan bahwa malam ini tentu gadis itu akan berada dalam rangkulannya.
Betapapun lihainya gadis itu, menghadapi mereka yang tiga belas orang banyaknya, mustahil ia akan mampu melepaskan diri.
Begitu Hok Cu berhenti bicara, tanpa banyak cakap lagi tiba-tiba Hong Lan sudah menerjang dengan tubrukan seperti seekor harimau menubruk seekor domba. Kedua tangannya mencengkeram dari kanan kiri ketika tubuhnya meloncat dan menerkam ke arah Hok Cu.
Melihat cara penyerangan macam itu, Hok Cu tersenyum mengejek.
"Kau kira aku ini gadis macam apa dapat diserang secara kasar seperti itu!" seru Hok Cu yang dengan sigap ia menggeser tubuh ke kiri, lalu dari arah kanan tubuh lawan yang masih meloncat itu.
Gadis itu telah mengirim pukulan bertubi dengan kedua tangannya, yang kiri menghantam pelipis yang kanan menghantam lambung, kakinya menyusul gerakan itu dengan tendangan kilat.
Tentu saja Hong Lan terkejut bukan main. Dia telah keliru menilai lawan dan kini dia sendirilah yang menjadi sibuk bukan main. Tubuhnya masih di udara dan lawan telah mengirim serangan kilat bertubi-tubi.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...