
"Tapi.....tapi.....kalau kita menikah..... hanya sebulan kita berkumpul, lalu aku harus meninggalkan kau untuk selamanya....." kata Hok Cu dengan terbata-bata.
"Tidak! Kita tetap berdampingan sampai kematian memisahkan kita, Hok Cu. Dan percayalah, sebelum kau mendapatkan obat pemusnah racun terkutuk itu, aku tidak akan menggaulimu. Bagiku, melihat kau di dekatku dalam keadaan sehat saja sudah merupakan suatu kebahagiaan besar. Hok Cu, berjanjilah, kalau kau tidak akan meninggalkan aku lagi." jelas Han Beng seraya menatap gadis yang ada dihadapannya.
Mendengar hal ini, Hok Cu merangkul dan mencium pipi pemuda itu dengan penuh keharuan, lalu berbisik di dekat telinganya.
"Aku berjanji, kak Beng. Aku berjanji selamanya tidak akan meninggalkanmu lagi dan akan mentaati semua perintahmu."
Han Beng bernapas lega, lega puas dan bahagia. Dia merangkul semakin erat.
"Adik Cu, terima kasih..... terima kasih!" balas Han Beng.
Sampai lama mereka duduk berdekapan di tepi tebing itu. Ketika matahari muncul di bawah sana, muncul dari balik bukit jauh di seberang sungai, Han Beng menuding.
"Lihat, adik Cu! betapa indahnya fajar menyingsing. Lihat, masa depan yang cerah menanti kita, seperti munculnya Sang Surya. Kita tidak boleh putus asa. Kita harus berikhtiar dan kalau kita berusaha dengan kesungguhan hati, Tuhan pasti akan memberi jalan kepada kita." kata Han Beng.
Hok Cu mengangkat mukanya dari dada kekasihnya dan menengok. Ia mengeluarkan seruan kagum dan mereka duduk bersanding, menyambut munculnya sang matahari sambil duduk bersila dan mengatur pernapasan.
Latihan seperti ini tidak asing bagi mereka karena dalam sinar matahari yang baru muncul terkandung kekuatan dahyat yang mereka coba tampung melalui pernapasan dan meditasi.
Setelah matahari mulai menyengat kulit, barulah mereka menghentikan latihan itu.
"Ah, sekarang aku ingat. Ada jalan untuk mencari jejak Mo Li!" kata Han Beng.
"Bagaimana kak Beng? Apakah jalan itu?" tany Hok Cu yang penasaran.
"Aku teringat akan Kakak angkatku, yaitu Coa Siang dan isterinya, Cu Ming." jawab Han Beng dan Hok Cu memandang dengan wajah berseri, la pun baru teringat sekarang.
"Ah, kakak Cu Ming adalah puteri Mo Li! Benar, Kok Beng, mungkin ia tahu ke mana Mo Li melarikan atau menyembunyikan diri." kata Hok Cu.
"Mari kita ke sana, adik Moi." ajak Han Beng yang kemudian bangkit berdiri sambil menggandeng tangan kekasihnya dan mereka pun menuruni bukit karang itu.
Baru sekarang mereka merasa betapa tubuh mereka lelah bukan main, juga perut mereka lapar. Selama tiga hari ini mereka lupa makan lupa tidur ketika mencari-cari Mo Li.
"Kita cari dusun atau kota dulu, kak Beng. Perutku lapar sekali....." kata Hok Cu.
__ADS_1
Han Beng tersenyum dan mencium dahi kekasihnya.
"Kasihan kau, adik Cu. Kita sampai lupa makan. Aku juga lapar. Mari, kita cari dusun di bawah sana, baru melanjutkan perjalanan ke tempat tinggal Kakak angkatku Coa Sian!"balas Hang Beng.
Mereka menemukan dusun dan berhasil membeli makanan dan minuman sederhana di warung makan itu.
Setelah makan minum, baru mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang ringan dan awan kedukaan yang sudah lenyap dari wajah mereka.
Tak berapa lama mereka telah sampai ditempat tujuan mereka.
" Coa Ki.....!" seru Han Beng yang memanggil seorang anak laki-laki berusia kurang lebih empat tahun bermain-main seorang diri di depan rumah itu.
"Coa Ki, benar kah kau Coa Ki?" tanya pula Han Beng sambil mendekat. Hok Cu juga ikut menghampiri, memandang kepada anak itu dengan kagum.
Seorang anak laki-laki yang sehat, wajahnya putih kemerahan dan matanya tajam dan pandangnya lembut, juga membayangkan kecerdikan.
"Paman dan Bibi siapakah?" tanya anak itu dan kembali Hok Cu kagum. Suara itu demikian nyaring dan bening, akan tetapi mengandung kelembutan pula.
"Ha...ha...ha...!" Han Beng tertawa.
"Coba..kau terka siapa aku ini, Coa Ki. Tahukah kau siapa aku?" tanya Han Beng yang menggoda anak itu.
Anak itu memicingkan kedua matanya, nampak lucu dan mungil. Sepasang alisnya berkerut dan tiba-tiba dia membelalakkan matanya sambil berkata dengan wajah berseri.
"Paman tentu Paman Han Beng, pendekar naga sakti itu ya?" tanya anak kecil itu yang menatap Han Beng dengan penuh tanda tanya.
Tawa Han Beng terhenti dan dia terbelalak. Juga Hok Cu semakin kagum. Dari Han Beng ia sudah mendengar tentang peristiwa kekasihnya itu dengan keluarga ini. Ia mendengar betapa guru kekasihnya, Hua Li yang terkenal keras hati itu, menjadi luluh kekerasan hatinya oleh sikap dan ulah Coa Ki yang baru berusia tiga tahun.
"Hei....! Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku adalah Pamanmu Han Beng?" tanya Han Beng yang merasa heran.
"Ha...ha...ha...!"
Anak itupun tertawa senang ketika Han Beng mengangkatnya tinggi-tinggi, tanpa mempedulikan betapa kaki, tangan dan pakaian anak itu kotor oleh lumpur.
"Ayah dan Ibu sering bercerita tentang Paman, tentang wajah Paman sehingga aku dapat mengenal Paman. Tapi siapakah Bibi ini Paman?" jawab sekaligus tanya Coa Ki yang menatap Hok Cu dengan penasaran.
__ADS_1
"Aku Bibi Hok Cu, Thian Ki. Aku calon isteri Pamanmu ini." kata Hok Cu tanpa sungkan lagi terhadap orang dewasa.
"Wah, Adikku Han Beng.....!"
Terdengar teriakan wanita dan muncullah seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun lebih. Pakaian wanita itu serba hitam sehingga kulitnya yang putih nampak semakin mulus, wajahnya cantik manis akan tetapi sikapnya sederhana dan lembut.
Akan tetapi wanita itu menghentikan seruan dan sikapnya yang gembira ketika melihat Hok Cu, seorang gadis yang tidak dikenalnya.
"Ibu, Paman Han Beng datang bersama calon isterinya, Bibi Hok Cu.....!" teriak Coa Ki yang masih berada dipondongan Han Beng.
"Eh...! mari... mari, silakan masuk. Coa Ki, turun kau! Lihat, kau membuat kotor pakaian Pamanmu!" seru Cu Ming pada putranya.
"Ha...ha...ha...!"
Han Beng menurunkan Coa Ki sambil tertawa dan pada saat itu muncul Coa Siang yang bertanya,
"Siapa bilang Han Beng datang bersama calon isterinya?"
"Aku, Ayah. Nah, ini Bibi Hok Cu, calon isteri Paman!" jawab Coa Ki seraya menunjuk ke arah Hok Cu.
Mereka semua saling memberi hormat.
"Aih, kalau begitu, selamat Adikku! Kami senang sekali dapat bertemu dengan calon Adik ipar kami!" seru Coa Siang dengan mengulas senyumnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
__ADS_1
... ...