Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 164


__ADS_3

Akan tetapi, hidangan yang disuguhkan merupakan masakan istimewa, mahal dan lezat, masih mengepul panas lagi, maka gembiralah hati para tamu.


Sudah beberapa hari Mo Li menjamu mereka menjadi tamu-tamu terhormat yang disambut dengan baik sekali, akan tetapi malam ini sungguh merupakan pesta yang mewah.


Semua orang makan minum dengan gembira setelah Lui Seng menyuguhkan arak dan beberapa mangkok masakan panas ke atas meja sembahyang, dan seorang pun agaknya tidak ada yang teringat atau mempedulikan dua orang calon korban yang masih menggeletak telentang di atas pembaringan dalam keadaan tidak mampu bergerak dan telanjang bulat itu.


Tidak ada seorang pun kecuali Hok Cu. Gadis remaja ini sejak tadi mengamati semua yang terjadi dan ketika semua orang makan dan minum berpesta pora, tapi dia tidak ikut makan dan minum.


Gadis itu memandang ke arah pembaringan di mana dua orang itu rebah telentang. Rasa dihatinya ingin memberontak, biarpun ia tidak peduli melihat gurunya masuk menjadi anggota aliran kepercayaan baru itu, penyembah setan yang disebut Raja Setan Langit Bumi.


Namun melihat dua orang calon korban itu, ia merasa tidak senang sama sekali. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dua orang calon korban itu, hanya saja dia menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang mengerikan.


Mungkin saja dua orang itu akan dibunuh, hatinya meronta dan ia sama sekali tidak mampu untuk makan dan minum. Ia memang tidak pernah diajar lain kecuali ilmu silat dan sedikit baca tulis oleh gurunya, tidak pernah belajar tentang akhlak.


Namun dia telah mengerti tentang baik-buruk tentang susila dan akhlak yang diterimanya dari pendidikan ayah ibu kandungnya.


"Hok Cu, kenapa kau tidak makan?" tanya Siang Koan dengan tiba-tiba.


Memang sejak tadi pemuda ini memang selalu memperhatikan Hok Cu, dan pandangan matanya kini bertambah dengan pandang mata kagum. Karena sejak pertemuan pertama, Siang Koan telah tergila-gila kepada gadis remaja ini, dan pengalaman pagi tadi di lautan membuat dia semakin kagum.


Gadis remaja itu bukan saja cantik jelita, manis dan pandai ilmu silat, akan tetapi juga amat cerdik dan pandai ilmu bermain di air pula. Dan, yang lebih menyenangkan hatinya, ketika ia dalam keadaan pingsan, ternyata gadis itu tidak membunuhnya, bahkan hanya menelanjanginya.


Bagi Siang Koan kalau Hok Cu sengaja tak membunuhnya itu karena dia mencintainya.


Mendengar teguran halus itu, Hok Cu hanya menundukkan kepalanya.


"Benar kamu tidak ikut makan minum Hok Cu?" tanya Mo Li yang memperhatikan muridnya itu.

__ADS_1


"Aku... aku tidak ada nafsu makan guru. Aku masih kenyang," jawab Hok Cu yang mencari jawaban yang terbaik.


Gurunya pun tidak peduli lagi karena hati Iblis Betina itu sedang gembira bukan main, mana ia mau peduli tentang muridnya makan atau tidak.


Selain Siang Koan, juga ada dua pasang mata sejak tadi melirik ke arah Hok Cu, yaitu mata San Bo dan Tek Su. Kedua saudara seperguruan itu, sejak tadi memang menderita kekecewaan beberapa kali.


Pertama ketika permintaan mereka yaitu dua orang murid Lui Seng untuk mempermainkan gadis calon korban mereka, telah ditolak. Kemudian ketika tadi Lui Seng di depan orang banyak menghardik mereka karena mereka berdua membantu Siok Boan dari Poa Kian untuk melepaskan pakaian dua orang calon korban itu dan mereka mencoba untuk meraba dan membela tubuh gadis calon korban.


Mereka berdua kini merasa kecewa sekali dan biarpun mereka ikut pula makan minum, mereka selalu melirik ke arah Hok Cu. Apalagi setelah mereka menuangkan banyak arak ke dalam perut mereka keduanya semakin sering melirik ke arah Hok Cu.


Mereka merasa beruntung sekali karena pernah melihat Hok Cu yang menanggalkan pakaian ketika dara itu berganti pakaian kering di pantai.


Kini sinar bulan mulai memasuki ruangan itu melalui jendela yang dibiarkan terbuka di sebelah timur. Sinar bulan yang mula-mula menyinari dinding lalu merayap ke meja sembahyang, dan perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar bulan yang lembut dari bulan purnama itu mulai merangkak ke arah pembaringan di mana dua orang remaja itu masih rebah telentang.


Kemudian Lui Seng bangkit untuk berdiri, dia mencuci kedua tangannya. Setelah itu mengambil kain putih yang sudah dipersiapkan di bawah meja sembahyang.


Kemudian dia mengenakan pakaian itu kepada mereka sekedar menutupi ketelanjangan mereka dengan menyelimutkan sutera putih itu dan membelitkan ke tubuh mereka.


Lui Seng mengambil pula sebatang pisau belati dari bawah meja, meletakkan pisau itu ke atas meja sembahyang. Pisau itu amat tajam, agaknya diasa sampai mengkilap.


Hok Cu yang melihat hal itu, merasa bulu tengkuknya berdiri. Seperti yang diduganya, tentu dua orang korban itu akan dibunuh.


"Nyonya, bersiaplah untuk menghaturkan korban kepada Ong-ya! Sinar bulan sudah mendekati mereka, beberapa saat lagi sinar bulan akan menyentuh dada mereka dan itulah saatnya untuk........." ucap Lui Seng yang belum selesai, tiba-tiba ada yang memotongnya.


"Tidaakk.....! Mereka tidak boleh dibunuh!"


Dan ternyata Hok Cu yang berteriak dan tubuhnya sudah meloncat ke arah pembaringan itu, maksudnya tentu saja hendak membebaskan mereka.

__ADS_1


"Jangan melanggar kedaulatan Ong-ya!" bentak Lui Seng dan dia pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya.


Akibatnya tubuh Hok Cu terlempar dan terjengkang, jatuh ke belakang dan bergulingan. Hebat sekali dorongan Lui Seng tadi, akan tetapi karena dia tahu bahwa gadis itu adalah murid tersayang dari Mo Li, maka dorongannya hanya mengandung angin yang kuat dan yang telah membuat gadis itu terjengkang dan bergulingan, akan tetapi tidak melukainya.


Semua orang terkejut, mengira bahwa tentu Mo Li akan marah sekali melihat muridnya yang terkasih itu dirobohkan orang.


Akan tetapi, wanita itu bersikap tenang saja, bahkan mengerutkan alisnya. Ketika ia melihat muridnya bangkit. berdiri dan sama sekali tidak terluka.


"Hok Cu, apa yang telah kau lakukan ini? Hayo keluar kau!" bentak Mo Li yang membuat Hok Cu yang telah berdiri dengan kedua mata terbelalak memandang ke arah pembaringan itu.


Hok Cu sangat marah sekali dan juga ingin sekali membebaskan dua orang remaja itu. Akan tetapi ia tahu bahwa tenaganya tidak cukup untuk menentang Lui Seng, apalagi gurunya sendiri mengusirnya keluar.


Dengan bersungut kesal dan membanting kaki kirinya beberapa kali, Hok Cu lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan sekali meloncat ia sudah lenyap dari ruangan itu, berlari keluar dari tempat itu.


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2