
Hok Cu tersenyum dan muncul kelincahan dan keramahannya.
"Adik Lan Yi,...! aku kira kau hanya satu dua tahun lebih muda dariku, maka tidak sepantasnya kalau aku menjadi Bibi Gurumu. Biarlah kita menjadi kakak adik saja!" seru Hok Cu.
Lan Yi yang pendiam menjadi gembira sekali bertemu dengan Hok Cu yang ramah dan lincah, dan keduanya sudah akrab sekali. Melihat ini, Hua Li tersenyum.
Namun berbeda dengan Han Beng, karena ada perasaan tak senang melihat laki-laki yang mendekati Hok Cu.
"Hok Cu, kau masuklah ke dalam dan bantulah Lan Yi di dapur. Aku ingin bercakap-cakap dengan Han Beng dan mendengarkan segala pengalamannya semenjak kami saling berpisah." pinta Hua Li.
"Baik bibi guru." kata Hok Cu yang tidak malu-malu lagi dan keduanya masuk ke dalam rumah.
Kemudian Hua Li mengajak Han Beng untuk bercakap-cakap di ruangan luar dan dia pun minta kepada pemuda itu untuk menceritakan semua pengalamannya.
Dengan singkat Han Beng menceritakan semua pengalamannya semenjak dia neninggalkan gurunya, menjadi murid Kwe Ong, kemudian menjadi murid Hek Cu dan kemudian dikenal sebagai Naga Sakti Sungai Kuning.
Tentu saja Hua Li merasa gembira dan kagum bukan main, terutama mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi murid Hek Cu yang sakti! Juga gembira mendengar betapa muridnya telah membantu pemerintah membasmi gerombolan penjahat yang mengadu domba antara para biksu dan para pendekar .
Ketika Han Beng menceritakan bahwa dia mengangkat saudara dengan Coa Siang dan Hua Li sangat gembira bukan main.
"Bagus, bagus, Han Beng. Berita yang paling membahagiakan hatiku. Kau akan menebus sedikit dosaku terhadap Ayah Coa Siang dan Bibinya Cu Ming. Pesanku kepadamu Han Beng.
Han Beng menarik napas panjang.
"Guru, Kakak Coa Siang dan isterinya sudah bersumpah dan mengambil keputusan bahwa mereka tidak akan memberi pelajaran ilmu silat kepada Thian Ki. Mereka telah mengalami betapa pahitnya kehidupan para ahli silat yang selalu dimusuhi orang. Mereka hendak menjadikan Putra seorang biasa saja agar tidak memiliki banyak musuh kelak dan dapat hidup tenteram dan berbahagia, tidak seperti ayah ibunya." jelas
__ADS_1
Hua Li juga menarik napas panjang.
"Hm, itu adalah perkiraan mereka. Apakah kalau orang tidak dapat membela diri lalu tidak ada yang datang mengganggu? Bahkan yang lemah akan selalu ditindas oleh yang kuat. Akan tetapi, tentu saja tidak baik menentang kehendak mereka. Mereka yang berhak menentukan bagaimana harus mendidik putera mereka. Akan tetapi, jangan lupakan keponakanmu itu dan andaikata kau kelak tidak diperbolehan menjadi gurunya, kau amatilah ia untuk membalas budi anak itu kepadaku, Han Beng." pesan Hua Li.
Hati pemuda itu merasa terharu. Memang, gurunya ini baru sadar setelah melihat putra Coa Siang dan Cu Ming yang berlutut di depannya. Seolah-olah anak itu yang menyadarkannya. Padahal, yang menyadarkan manusia hanya Tuhan, dan kekuasaan Tuhan dapat menyusup kemanapun juga, dapat pula menyusup ke dalam diri anak itu.
"Murid berjanji akan mentaati pesan Suhu." kata Han Beng dan wajah pendekar wanita itu berseri karena dia merasa yakin kalau muridnya ini kelak akan memegang janjinya.
"Han Beng, sejauh manakah hubunganmu dengan Hok Cu?" tanya Hua Li yang menatap Han Beng dan mengulas senyumnya.
Terkejut hati Han Beng mendengar pertanyaan itu. Dia memandang wajah gurunya dengan penuh selidik, akan tetapi segera menjawab karena melihati sikap gurunya itu bersungguh-sungguh.
"Guru, apakah yang guru maksudkan? Sejak kecil murid telah berkenalan dan menjadi sahabat Hok Cu, bahkan keluarga kami menjadi sahabat, senasib sependeritaan karena melarikan diri mengungsi dari jangkauan tangan para petugas yang memaksa orang menjadi pekerja paksa. Tentu saja kami bersahabat baik, guru!" seru Han Beng.
"Yang kumaksudkan, sampai sejauh manakah keakrabanmu dengan Hok Cu?" tanya Hua Li yang memperjelas pertanyaannya yang aebelumnya. Seketika wajah Han Beng menjadi kemerahan.
Pendekar kecapi itu mengangguk-anggukkan kepalanya karena Muridnya ini berwatak polos dan jujur serta masih hijau dalam urusan pergaulan dengan wanita sehingga tidak dapat menangkap maksud pertanyaannya tadi.
Dia tidak mau mendesak, tidak ingin menyinggung perasaan muridnya dan mengotori perasaan murni antara dua orang sahabat itu.
"Sekarang akan kutanyakan hal lain, Han Beng. Apakah selama ini kau telah menemukan calon jodohmu? Apakah kau sudah menjatuhkan hatimu kepada seorang gadis yang kaupilih sebagai calon isterimu?" tanya Hua Li yang membuat Han Beng terbelalak, tersipu dan menjadi bingung.
"Murid tidak mengerti. Eh, maksud murid, saatini murid belum berpikir sama sekali tentang perjodohan, guru." kata Han Beng yang terbata-bata.
"Jadi belum ada pilihan?" tanya Hua Li yang mendesak dan terpaksa Han Beng men geleng kepala walaupun di dasar hatinya dia tahu benar bahwa hatinya telah memilih seorang gadis, bahwa dia mencinta seorang gadis.
__ADS_1
Wanita yang dia cinta pertama kalinya adalah Hua Li, namun dia tak berani mengatakannya secara langsung pada gurunya itu.
Kemudian pada saat Han Beng bertemu dengan Hok Cu seketika dia jatuh cinta. Akan tetapi, bagaimana dia berani menyatakan rasa hatinya ini kepada gurunya.
Hok Cu sendiri belum tahu akan rahasia hatinya itu. Maka, mendengar desakan itu, dia pun menggeleng tanpa menjawab.
"Bagus sekali! Aduh, betapa lega dan senangnya rasa hatiku mendengar bahwa engkau belum mempunyai pilihan, muridku. Dengar baik-baik, Han Beng. Kau tahu betapa aku sayang sekali kepadamu, dan bahwa kau selain sebagai muridku, juga kuanggap sebagai anakku sendiri karena kau sudah tidak mempunyai orang tua atau sanak keluarga." kata Hua Li.
Wanita ini sebenarnya menyembunyikan perasaan lain pada murid pertamanya ini. Bukan perasaan sayang seorang guru pada muridnya. Melainkan perasaan pada sang kekasih.
"Terima kasih banyak atas segala budi kebaikan guru," kata Ha Beng yang merasa terharu.
"Karena itulah, Han Beng, aku amat memperhatikan keadaan dirimu. Kau kini sudah berusia dua puluh empat tahun. Dan sebagai guru, juga pengganti orang tuamu, aku ingin sekali melihat kau hidup berbahagia, berumah tangga dengan baik, memiliki seorang isteri yang pilihan dan mempunyai anak-anak yang sehat. Tuhan agaknya menaruh kasihan kepadaku, maka Dia mengirimkan seorang calon mantu itu kepadaku." kata
Han Beng terkejut dan berdiam diri, tak bergerak seperti telah berubah menjadi patung.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
__ADS_1
...Bersambung...