Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 150


__ADS_3

"Apa yang dikatakan oleh sahabatku si pendekar tua Hek Bin ini memang tepat sekali." kata pendekar tua Pek Ji yang menatap sahabatnya si pendekar tua Hek Bin.


"Kewajiban kita manusia hidup hanyalah berusaha sebaik mungkin untuk menghilangkan kekotoran dari diri lahir batin, namun segala keputusan berada di tangan Yang Maha Kuasa. Yang sudah mati biarlah mati, akan tetapi yang hidup berkewajiban untuk melanjutkan hidup ini melalui jalan benar. Perguruan yang sudah musnah dapat saja sekali waktu dibangun kembali, permusuhan yang pernah terjadi dapat saja dilenyapkan dan diganti perdamaian. Tidak perlu ada dendam yang hanya akan meracuni batin kita dan mendatangkan kekeruhan saja," lanjut kata pendekar tua Pek Ji.


Apa yang diucapkan kedua orang sakti ini memang benar. Jalan kehidupan kita ini penuh liku-liku, penuh perubahan dan kadang-kadang terjadi hal-hal yang menimpa diri kita yang kelihatan amat janggal, amat sukar dimengerti sebab-sebabnya.


Jalan yang ditempuh oleh Tuhan sungguh penuh rahasia, gaib, kadang-kadang begitu jauhnya tak terjangkau oleh alam pikiran dan akal kita. Ada kalanya terjadi peristiwa yang menurut pertimbangan dan perhitungan akal kita, nampak janggal, bahkan nampak tidak adil.


Akal pikiran kita melihat betapa seseorang yang kita anggap jahat dan patut dikutuk, bahkan hidup penuh kemuliaan, berkedudukan tinggi, terhormat, kaya raya, sehat dan selamat.


Sebaliknya, jika akal pikiran kita melihat betapa seseorang seseorang yang kita anggap baik dan patut dipuji, hidupnya serba kekurangan dan sengsara, tertindas, terhina serta miskin.


Kita melihat pembesar yang hidupnya penuh korupsi, makmur dan nampak senang, sebaliknya pembesar yang hidupnya jujur dan adil, nampak hidup serba kekurangan dan sama sekali tidak makmur.


Juga melihat orang yang kita nilai baik hidup berpenyakitan sebaliknya orang yang kita lihat dan kita nilai buruk dan kotor, hidup sehat. Apalagi biasanya kita menilai diri kita ini sudah cukup baiik, sudah cukup mentaati hukum agama, sudah cukup berusaha menjadi orang yang baik, akan tetapi kita merasa betapa hidup kita selalu sengsara, ini menimbulkan kekecewaan dan penasaran.


Jalan pikiran hanyalah mendasarkan semua itu dengan nilai kebendaan, nilai kesenangan nafsu badani yang hanya sementara sifatnya. Kita tidak tahu bahwa di dalam batin orang yang kelihatan kaya raya dan senang, belum tentu berbahaya sebaliknya di dalam batin seorang petani miskin, belum tentu sengsara.


Pikiran kita hanya merupakan gudang pengetahuan dan pengalaman. Pikiran akalnya tidak mungkin dapat menjangkau dan mengerti jalan yang diambil Tuhan.


Kita tidak mempunyai kekuasaan apa pun atas diri kita sendiri sekalipun. Jalan satu-satunya hanyalah menyerahkan segalanya kepada-Nya. Apa pun yang kehendaki-Nya, pasti baik dan benar, walaupun bagi akal pikiran kita kadang-kadang dianggap buruk dan salah. Hanya orang yang mampu menerima segala suatu sebagai kehendak Tuhan, menerima segala apa sebagai suatu kenyataan yang wajar, sebagai apa adanya, tanpa keluhan, tanpa protes, tanpa penasaran atau kekecewaan, hanya orang seperti inlah yang dapat tersentuh sinar Kasih, dan dapat merasakan apa yang kita sebut-sebut sebagai kebahagiaan.

__ADS_1


Sementara itu sisa-sisa murid perguruan Elang Sakti terpaksa melarikan diri ceral-berai, menyadari hidup masing-masing.


Perguruan Elang Sakti telah terbakar habis, rata dengan tanah,namun semangat kependekaran para muridnya masih tetap utuh dan dimana pun mereka berada, mereka selalu mengulurkan tangan untuk membela kaum lemah tertindas, dan menentang perbuatan jahat dalam bentuk apa pun dan dilakukan oleh siapapun.


...****...


Seorang gadis yang berusia tiga puluh tujuh tahun, berdiri di bawah pohon menyilangkan kedua tangan di atas dada dan pandangan matanya tak pernah berkedip, mengikuti semua gerakan pemuda itu.


Gadis yang gagah perkasa, dan ada kelembutan ketika dia tersenyum gembira sambil menganggukkan kepala, nampak puas sekali melihat gerakan silat pemuda yang dilatihnya itu.


Angin pukulan pemuda itu menyambar-nyambar, menggerakkan pakaian dan rambut gadis itu, juga membuat ujung ranting pohon dengan daun-daunnya bergoyang-goyang, membuat daun-daun kuning rontok.


Mereka adalah Hua Li muridnya, Han Beng. Seperti kita ketahui, kalau Hua Li mengangkat Han Ben sebagai murid dan membawa muridnya ke puncak bukit Kim-hong di lembah Sungai kuning.


Hal itu karena setelah minum darah "anak naga", Han Beng bukan lagi seorang anak biasa. Di dalam tubuhnya mengalir tenaga sakti yang amat hebat, bahkan pada dasarnya jauh lebih kuat daripada tenaga sakti gurunya sendiri.


Percampuran antara racun darah ular itu dan racun dari pukulan dan goresan kuku Mo Li telah menciptakan suatu kekuatan yang amat dahsyat di dalam diri dan dengan bekal ini, di samping, cerdikan dan bakatnya, maka tidak sukar bagi Han Beng untuk menyerap dan menguasai ilmu-ilmu dari Hua Li.


Apa yang di latihnya di pagi hari itu adalah ilmu andalan dari perguruan bambu kuning.


Selain ilmu silat paling hebat dari Hua Li ini, juga Han Beng telah mewarisi ilmu-ilmu silat lainnya, termasuk ilmu memainkan ranting sebagai senjata pengganti tongkat bambu kuning.

__ADS_1


Setelah selesai berlatih Han Beng menghadap gurunya, yang makin lama semakin cantik itu. Seorang wanita yang berparas cantik dan berusia tiga puluh tahun, namun belum mendapatkan jodohnya.


Dia duduk di atas tanah, sedangkan gurunya kini duduk di atas sebuah batu besar di bawah pohon itu dan gadis itu kelihatan gembira sekali.


"Bagus, Han Beng muridku. Sungguh latihanmu tadi amat baik, tiada cacatnya sedikitpun. Jurus yang kau mainkan dengan sempurna. Dan ketahuilah bahwa dengan ilmu silat itu adalah jurus andalan dari perguruan Bambu kuning. Mengingat aku dulu pernah belajar di perguruan itu." kata Hua Li yang menatap muridnya, dan Han Ben juga menatap guru cantiknya itu.


"Akan tetapi, kau lebih pantas berjuluk Naga Sakti, mengingat bahwa di tubuhmu mengalir darah naga." lanjut kata Hua Li.


"Semua hasil yang murid capai ini berkat bimbingan guru. Terima kasih atas semua kebaikan guru kepada murid." kata Han Ben dengan menaruh hormat.


 "Bagus! Kalau kau ingat budi berarti kau tentu tidak akan melupakan janjimu sebagai syarat menjadi muridku dahulu. Masih ingatkah kau siapa yang harus kau cari dan kau hancurkan hidupnya untuk membalaskan dendam gurumu ini?" tanya Hua Li yang menatap pada muridnya.


"Masih guru, mereka adalah Coa Siang, keturunan ketua perguruan Harimau Hitam di Ta Bun dekat Poyang di utara Sungai kuning, dan juga istrinya yang bernama Cu Ming." jawab Han Ben.


....~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2