
Sampai lama ia termenung, kemudian ia menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.
"Aku.. Aku... percaya kepadamu." kata Cu Ming yang menjadi bersedih sekali karena ia telah kehilangan kehormatannya, kehilangan keperawanannya dan hal ini bagi seorang wanita gagah seperti ia, lebih hebat daripada kematian.
"Ah, si jahanam pendekar kecapi!" seru Coa Siang sambil mengepal tinju dan menghadap ke arah pondok itu.
"Jelaslah sekarang, ini adalah perbuatannya. Dia merobohkan kita, membuat kita pingsan dan dalam keadaan pingsan itu, dia agaknya membawa kita ke dalam pondok, diatas dipan kayu itu, dan agaknya dia menanggalkan pakaian kita dan meminumkan obat perangsang yang membuat kita berdua lupa segala. Tidak salah lagi Nona, itulah yang terjadi!" lanjut kata Coa Siang yang mencoba menjelaskan.
"Jahanam kau pendekar kecapi...!" seru Cu Ming yang memaki dan ia pun mengepalkan tinju, percaya penuh bahwa memang demikianlah tentu yang telah terjadi dengan mereka.
"Dia atau kita yang mati!" seru Coa Siang yang sudah meloncat ke dalam pondok untuk mencari musuhnya, diikuti oleh Cu Ming yang sudah marah sekali.
Akan tetapi, mereka tidak menemukan Hua Li dalam pondok itu. Yang mereka temukan adalah pedang-pedang mereka yang berada diatas meja. Mereka segera mengambil pedang masing-masing.
Cu Ming dengan pedang ditangan, berdiri didepan pembaringan dan melilhat noda merah tanda hilangnya kehormatannya sebagai seorang gadis, membuat ia tidak dapat menahan dirinya lagi dan menangislah Cu Ming dengan sesunggukan.
Melihat keadaan gadis itu, Coa Siang berdiri bengong. Dia merasa kasihan, dan dia pun harus mengakui bahwa ia amat tertarik kepada gadis itu, apalagi membayangkan apa yang telah terjadi diantara mereka, membayangkan kemesraan sikap gadis itu, kemanisan dan kehangatannya.
Dia merasa suka dan takkan malu untuk mengaku bahwa dia telah jatuh cinta seperti yang belum pernah dialaminya.
"Ma'af nona, kenapa kau menangis?" tanya Coa Siang lirih sambil menghampiri Cu Ming.
Tangannya digerakkan, ingin rasanya untuk menyentuh, untuk memeluk dan menghibur hati gadis yang sedang berduka itu, namun dia tidak berani.
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Cu Ming membalikkan tubuh menghadapinya dengan air mata mengalir sepanjang kedua pipinya.
"Kenapa? kamu bisa tanya kenapa? Aaahhh, bagimu seorang pria, peristiwa itu agaknya tidak berbekas apa-apa. Akan tetapi bagi aku dunia rasanya hancur. Aku telah ternoda, aku tertimpa aib, aku kehilangan kehormatan! dan kau masih bertanya kenapa? Hu.....huk.....!" jawab Cu Ming seraya sesenggukan dan keluarlah air matanya.
__ADS_1
Coa Siang memandang bingung dan merasa semakin iba kepada gadis yang kini menangis tersedu-sedu sambil menutupi muka dengan kedua tangan itu.
"Nona aku akan bertanggung jawab, kalau sekiranya engkau setuju aku. aku ingin mengambilmu sebagai isteriku. Nah, dengan demikian, aib itu akan lenyap dari dirimu, Nona." kata Coa Siang.
Mendengar ucapan ini, Cu Ming menurunkan kedua tangannya dan untuk sesaat melihat wajah pemuda itu dengan jelas, ia mengusap kedua matanya. Berapa kali, mengeringkan air matanya. Ia ingin melihat apakah ucapan itu keluar dari hati sanubari pemuda yang tampan dan gagah itu.
Biarpun hal itu belum cukup untuk membuat ia jatuh cinta, akan tetapi setelah apa yang terjadi antara mereka tadi, tidak ada jalan lain yang lebih baik daripada kalau mereka menjadi suami isteri yang sah.
Ia pun samar-samar teringat akan kemesraan diantara mereka tadi, dan wajahnya kembali menjadi semakin merah.
"Kau...kau ingin menjadi suamiku hanya karena kasihan dan ingin menghindarkan aku dari aib? Kalau begitu, perjodohan antara kita hanya seperti permainan sandiwara saja?" tanya Cu Ming yang mengambil jalan lain untuk menjenguk isi hati pemuda itu.
"Ah..tidak, nona. Terus terang saja aku telah amat tertarik dan kagum kepadamu sejak kemunculanmu tadi, dan setelah apa yang terjadi antara kita dan diluar kesadaran kita, aku..... aku suka dan aku cinta kepadamu. Tentu saja kalau tidak terjadi peristiwa itu, aku tidak akan berani begitu lancing mengakui hal itu." kata Coa Siang.
Wajah Cu Ming semakin merah dan jantungnya berdegup karena girang. Bukan saja ia akan mendapat jalan keluar untuk terhindar dari aib, akan tetapi juga ia mendapatkan seorang calon suami yang mencintainya.
Terdorong oleh perasaan hatinya, Coa Siang melangkah maju mendekati, kemudian dengan hati-hati dia menyentuh pundak gadis itu. Tidak ada penolakan dan di lain saat dia telah merangkul dan memeluk tubuh gadis itu, mendekap kepala gadis itu, kedadanya.
"Perlukah aku bersumpah?" bisik Coa Siang.
Cu Ming tidak menjawab melainkan menekan wajahnya pada dada pemuda itu sambil membayangkan kemesraan tadi dan hatinya terasa girang bukan main.
"Aku, aku percaya kepadamu. Tapi kita belum saling berkenalan." kata Cu Ming yang menatap Coa Siang.
Mendengar ucapan ini, Coa Siang tertawa dan Cu Ming juga tertawa. Keduanya tertawa geli dan rangkulan mereka menjadi semakin erat.
"Ha...ha....! sungguh lucu sekali. Kita belum saling berkenalan, belum saling mengenal nama, akan tetapi sudah...sudah...." kata Coa Siang yang berhenti sejenak.
__ADS_1
"Sudah apa?" Cu Ming sambil mencubit ke perut Coa Siang.
"Sudah, sudah seperti suami isteri. Dewiku yang tercinta, perkenalkanlah, aku bernama Coa Siang. Ayahku Coa Kun dibunuh oleh Pendekar kecapi ketika aku masih berada dalam kandungan ibuku, dan ayahku adalah putera ketua Harimau Hitam. Kini ibuku dan kakekku di perguruan Harimau Hitam yang berada di dusun Tan Bun, di sebelah selatan kota Po-yang, di lembah sungai kuning. Usiaku dua puluh satu tahun. Nah, sekarang bagianmu, sayang." jelas Coa Siang.
Tanpa melepaskan mukanya yang bersandar pada dada pemuda itu, Cu Ming memperkenalkan diri.
"Namaku Cu Ming, usiaku delapan belas tahun. Ibuku seorang janda bernama Phang Bi. Kami tinggal di Ceng-houw, di propinsi Shantung, aku datang untuk membunuh karena dia telah membunuh ayahku Cu Liong dan saudara kembarku Cu Ai." jelas Cu Ming.
Cu Ming mempererat dekapannya, karena nasibnya dengan nasib kekasih barunya itu tak jauh berbeda.
"Nasib kita sama adik Ming!" seru Coa Siang seraya membelai dengan lembut kepala perempuan di dekapannya itu.
"Benar kakak Siang!" balas Cu Ming yang menatap wajah Coa Siang.
Disebut kakak dengan suara demikian mesra, Coa Siang gembira bukan main. Dia memegang dagu dari muka yang bersandar pada dadanya itu, diangkatnya dan dia pun mencium mulut gadis itu, disambut oleh Cu Ming dengan mesra.
"Dan aku melihat bahwa bibimu itu persis wajahmu, sama cantik jelita dan manis." rayu Coa Siang yang mampu membuat Cu Ming tersenyum.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...