
Hok Cu mengulas senyum seraya menganggukkan kepalanya, lalu mulai menceritakan tentang semua hal yang dilihat dan didengarnya
Cang jin yang merupakan kepala daerah Siong-an bersekutu dengan gerombolan pemberontak dan sebagai utusan dari wakilnya, dia mengutus tiga orang tokoh sesat yang amat terkenal di daerah Siong-an itu. Kemudian ia juga bercerita tentang perguruan Serigala emas yang bersekutu dengan para pemberontak yang bersembunyi di balik nama pejuang pembela rakyat.
Mendengar keterangan itu, Kui Song gembira bukan main.
"Keterangan kalian begitu berarti, Penjagaan di sini tidak begitu kuat. Ah, berita ini harus cepat kusampaikan kepada Liu Tai di kota raja. Kalian telah berjasa besar dan akan dilaporkan kepada Liu Tai. Kalau kemudian Liu Tai melaporkan ke istana, tentu kalian akan mendapat anugerah besar dari Sri baginda Kaisar. Liu Tai adalah seorang atasan yang amat adil dan bijaksana." kata Kui Song dengan mengulas senyumnya.
"Aku tidak pernah mengharapkan ini balasan jasa! Aku tidak menganggap ini sebagai jasa, melainkan sebagai kewajiban, maka tidak perlu Paman membuat laporan." kata Hok Cu mengerutkan alisnya dan menjawab dengan suara yang dingin.
"Apa yang dikatakan Nona Hok Cu benar, Paman Kui. Kami sudah merasa cukup puas kalau pemberontakan itu dapat dibasmi sebelum terjadi perang yang hanya akan menyengsarakan rakyat. Dan kami percaya bahwa Liu Tai akan menyeret pembesar-pembesar seperti Cang Jin itu ke pengadilan. Kalau rakyat tidak dipaksa bekerja, kalau diberi jaminan dan penerangan yang baik tanpa paksaan dan tekanan, aku yakin rakyat akan dengan suka rela membantu penyelesaian pembuatan terusan itu. Jangan rakyat yang sudah miskin itu ditindas dan dijadikan kerja paksa lagi." kata Han Beng.
"Jangan khawatir pendekar. Biarpun di mana-mana terdapat pembesar-pembesar korup yang menekan rakyat semacam Cang Jin, namun masih ada pemimpin-pemimpin seperti Liu Tai yang menjalankan tugasnya dengan baik, bijaksana, dan adil." kata Kui Song.
"Saya kira urusan kami telah selesai, kalau begitu kami mohon undur diri. Karena kami ada urusan yang lainnya." kata Han Beng seraya bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Hok Cu.
"Sekali lagi saya mewakili pembesar Liu Tai, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kalau nanti kalian ada masalah, kami siap untuk membantu." balas Kui Song dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.
"Sama-sama tuan Kui Song!" seru Han Beng dan Hok Cu yang bersamaan.
Setelah menceritakan semua yang mereka ketahui tentang gerombolan pemberontak, Han Beng dan Hok Cu pergi meninggalkan rumah obat itu. Mereka menyelinap ke dalam kegelapan malam dan malam itu juga mereka keluar kota.
__ADS_1
"Menurut keterangan guruku, Gan Lok itu memang seorang tokoh dunia persilatan aliran hitam yang tidak segan melakukan apa saja demi memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi yang mengherankan adalah ketiga orang yang berpakaian serba kuning. Menurut guru, para jagoan dari Lu-liang-san yang biarpun watak mereka sombong namun mereka pendekar yang menentang kejahatan. Heran bagaimana mereka bisa terlibat ke dalam gerakan pemberontakan itu," kata Han Beng ketika mereka sudah meninggalkan kota Siong-an.
"Hmm, apa anehnya? Harta dan kedudukan dapat membuat orang lupa diri? Menurut wejangan guruku, yaitu biksu Hek Bin, pikiran yang bergelimang nafsu amatlah cerdiknya, bagaikan bisikan iblis yang amat licin penuh muslihat sehingga segala perbuatan yang dilakukan, selalu nampak benar dan baik saja, walaupun pada dasarnya mengandung pamrih. Yang kesemuanya itu untuk kesenangan pribadi." kata Hok Cu.
Han Beng merasa girang dan kagum pada Hok Cu, biarpun pernah menjadi murid seorang wanita iblis seperti Mo Li yang tersohor kejam sekali, ternyata Hok Cu beruntung mendapat gemblengan lahir batin dari seorang sakti dan bijaksana seperti biksu Hek Bin.
"Memang benar sekail wejangan Suhumu itu, Hok Cu. Kurasa ketiga pendekar berpakaian serba kuning itu juga ditipu oleh pikirannya sendiri. Tentu dia menganggap bahwa dengan menjalin persahabatan dengan wakil ketua perguruan Serigala emas, dia telah melakukan tugas sebagai seorang pendekar, yaitu membela rakyat yang tertindas. Tentu saja di lubuk hatinya, dia tahu bahwa yang terutama mendorongnya adalah pemberontakan yang didasari keinginan untuk memperoleh kedudukan tinggi. Namun, nafsu telah menghapus kesadaran itu, dan dia melihat bahwa semua yang dilakukan itu benar dan baik. Oleh karena itulah, guruku kwe Ong selalu mengatakan bahwa kita harus berhati-hati terhadap musuh tak nampak yang berada di dalam diri kita sendiri, yaitu nafsu yang menguasai hati dan pikiran." jelas Han Beng.
Hok Cu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia berhenti melangkah. Han Beng juga berhenti. Dia melihat betapa gadis itu melihat ke atas dan dia pun menengadah. Betapa indahnya malam itu. Tiada awan secuwil pun, langit bersih, agak kehitaman dan ditaburi laksaan bintang yang berkilauan dengan indahnya, ada yang bersinar terang, ada yang berkedip-kedip, laksaan jutaan, tak terhitung banyaknya.
Sejenak menyelinap kesadarannya betapa ajaibnya semua itu, betapa agungnya, betapa indah dan betapa besarnya alam, dan betapa maha kuasa Sang Pencipta. Kedua orang muda itu bagaikan terpesona dan akhirnya Hok Cu menarik napas panjang.
"Ada apakah, Hok Cu?" tanya Han Beng yang penasaran ketika mendengar helaan napas itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya mengagumi keindahan alam." jawab Hok Cu seraya mengulas senyumnya.
"Memang indah." kata Han Beng.
"Hidup tidaklah seindah ini..." kata Hok Cu yang kembali gadis itu menarik napas panjang, teringat akan semua pengalaman hidupnya semenjak ditinggal mati ayah dan ibunya.
"Memang tidak seindah ini," kata pula Han Beng.
__ADS_1
"Apakah masih jauh tempat tinggal guru pertama kamu dari sini, Han Beng?" tanya Hok Cu yang menatap Han Beng.
"Tidak begitu jauh. Kita menuju ke Sungai kuning, lalu mencari perahu dan melanjutkan perjalanan dengan perahu. Lebih cepat dan tidak melelahkan. Setelah tiba di kaki Bukit Kim-hong-san di lembah sungai, kita mendarat dan mendaki bukit. Dalam waktu paling lama lima hari kita akan tiba di tempat pertapaan guru Hua Li." jawab Han Beng.
Karena kota Siong-an letaknya di dekat sungai kuning, maka menjelang tengah malam mereka sudah tiba di tepi sungai. Mereka berhasil menyewa sebuah perahu kecil dan tukang perahu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, suka mengantar mereka sampai ke kaki Bukit Kim-hong-san dengan bayaran yang pantas.
Perahu kecil saja, biliknya di tengah-tengah yang terlindung atap sederhana itu hanya dapat memuat seorang saja.
Han Beng mempersilakan Hok Cu untuk mengaso dalam bilik sempit itu, sedangkan dia sendiri duduk di kepala perahu bersama tukang perahu, bahkan membantunya mendayung perahu yang mengikuti aliran air yang tidak begitu deras.
Hok Cu tidak rikuh lagi, lalu mengaso dan merebahkan diri telentang di dalam bilik perahu. Tak lama kemudian ia pun sudah tidur nyenyak karena memang tubuhnya terasa lelah sekali.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...