
"Cara pelaksanaannya?" tanya pendekar aliran hitam dan para murid perguruan Elang Sakti yang hampir bersamaan.
"Pelaksanaan inilah perbuatan, inilah kehidupan, sedangkan cita-cita dan tujuan itu hanyalah khayalan belaka. Yang harus diperhatikan justeru pelaksan ini, justeru cara yang melahirkan perbuatan ini. Apapun tujuannya betapa luhur cita-citanya, kalau dilaksanakan dengan cara yang tidak benar, akhirnya akan melahirkan hal yang tidak benar pula! Nah, sekarang kalian sudah melihat bahwa tujuan kalian sama, mengapa tidak mencari persamaan pula dalam cara melaksanakannya?" jelas sekaligus tanya pendekar tua Hek Bin.
Kedua pihak yang mendengarkan menjadi tertarik dan semakin tergugah kesadaran mereka.
"Ha...ha...ha..! memang pendekar Hek-bin hanya mukanya saja, hanya kulitnya saja yang hitam! Akan tetapi isinya alangkah putih bersihnya! Nah, kalian semua sudah mendengar dan saya akan merasa heran kalau belum juga terbuka mata batin kalian. Mata batin baru dapat terbuka kalau batin itu sendiri bebas 'dari segala bentuk kotoran, dan batin bersih dan bebas kalau di situ sudah tidak ada lagi penonjolan emosi dengan segala dendam kebenciannya, iri hatinya, kecewaannya, harapan-harapannya kekuasaannya, dan segala macam kepentingan diri sendiri. Jadi mulai detik ini kita buang jauh-jauh segala seolah-olah semua itu telah mati dan kita hidup baru dengan segala kebersihan dan kebebas-batin!" kata pendekar tua Pek Ji yang menatap para murid perguruan Elang putih dan juga pendekar aliran hitam satu persatu.
Kini semua orang dari kedua pihak itu bangkit dan saling menghampiri, tanpa diberi contoh lagi, dengan spontan mereka saling memberi hormat, saling memberi maaf dan saling mengaku salah, dipelopori oleh wakil ketua Thian Gi.
Melihat hal ini pendekar tua berjenggot yang tadi menjadi lawan Hek Bin dan juga Pek Ji sendiri menjadi girang sekali dan mereka berdua lalu saling bergantian memberi wejangan-wejangan kepada lebih dari tiga puluh orang itu.
Hidup adalah belajar. Belajar adalah hidup. Mempelajari isi kehidupan ini tidak seperti mempelajari suatu ilmu pengetahuan yang harus dihafaldan ulang-ulang. Hidup bukanlah suatu perulangan sehari-hari. Hidup seperti sungai mengalir, seperti awan berger diangkasa, setiap saat berubah, setiap detik berbeda.
Tidak mungkin mengambarkan kehidupan sebagai sesuatu yang mati, sesuatu yang mandek. Mempelajari hidup berlaku selama hidup sendiri.
Waktu berjalan cepat sekali kalau tidak diperhatikan. Mereka yang sedang mendengarkan uraian kata-kata penuh wejangan penting dari dua orang sakti itu pun lupa akan waktu.
Matahari mulai condong ke barat ketika tiba-tiba muncul seorang murid perguruan Elang putih yang berlari-larian.
"Wakil ketua celaka .......! perguruan Elang Sakti diserbu pasukan pemerintah!" seru seorang murid itu kepada wakil ketua Thian Gi.
Tentu saja wakil ketua Thian Gi dan para murid perguruan Elang sakti terkejut sekali dan mereka baru ingat bahwa pada tengah hari, perguruan Elang Putih sedang mengadakan pertempuran antara para murid perguruan Elang sakti untuk membicarakan tentang penderitaan rakyat jelata berhubung dengan digali terusan itu.
"Saudaraku semuanya, maafkan kami yang pemit terlebih dulu!" kata wakil ketua Thian Gi dia cepat bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Kita harus membantu mereka yang saat ini terancam bahaya!" kata pendekar tua yang berjenggot panjang dan dia pun meloncat dan lari diikuti belasan orang pendekar lainnya.
Melihat hal ini, Pendekar tua Pek Ji menarik napas panjang
"Segala sesuatu telah digariskan menurut Karma, dan manusia takkan dapat terlepas dari karmanya. Kemarin sudah berlalu dan biarkan berlalu. Esok hanyalah bayangan dan biarkan esok datang seperti apa adanya. Saat Ini yang penting, dan apa pun yang terjadi saat ini, itulah yang harus kita hadapi dengan penuh kewaspadaan yang akan menimbulkan kebijaksanaan." kata pendekar tua Pek Ji.
"Benar sekali, Saudaraku. Mari kita lihat apa yang terjadi di sana!" seru Pendekar tua Hek Bin yang kemudian bangkit dan mendaki bukit itu.
Ketika mereka melihat asap mengepul puncak bukit, keduanya berhenti memandang dengan alis berkerut.
"Hemmm, seperti terjadi kebakaran di sana!" seru pendekar tua Pek Ji yang menyimpulkan.
"Apakah harus sampai begitu?" tanya Pendekar Hek Bin yang sangat tak percaya sekali. Mereka lalu berlari dengan cepat mendaki bukit menuju ke perguruan Elang Sakti.
Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, bahwa Thian Cu yang merupakan ketua perguruan Elang Sakti tengah mempersiapkan pertemuan dengan para murid perguruan Elang Putih yang tinggal luar perguruan, untuk membicarakan tentang pertentangan antara para murid perguruan Elang Sakti dan petugas pengumpulan tenaga untuk bekerja proyek besar penggalian terusan.
Ketika mendengar laporan dari para muridnya tentang kekejaman para petugas terhadap rakyat jelata, dimana rakyat harus melarikan diri mengungsi agar jangan sampai diambil secara paksa oleh para petugas yang diperkuat oleh pasukan pemerintah.
Banyak diantara para isteri dan anak-anak ditinggal suami, orang-orang tua yang disuruh bekerja siang-malam, diperlakukan sebagai para hukuman yang melaksanakan kerja-paksa.
Mendengar semua ini, ketua Thian Cu merjadi marah, apa lagi ada seorang murid penjaga yang dengan muka pucat melaporkan bahwa ada pasukan pemerintah yang datang menuju ke perguruan Elang Sakti.
"Ingat, tanpa perintahku, tidak boleh ada yang melawan pasukan pemerintah!" seru Ketua Thian Cu pada para muridnya.
"Baik ketua!" balas seru para murid dengan serempak.
__ADS_1
"Bagus! Saya sendiri akan menemui komandan pasukan dan bicara dengan dia. Bagaimanapun juga, kita membela rakyat sebagai pendekar, bukan sebagai pemberontak. Kita buka pemberontak, karena itu, jangan ada yang menyerang pasukan itu kalau mereka datang ke sini!" seru ketua Thian Cu.
"Kami mengerti Ketua!" seru para murid perguruan Elang Sakti.
Walaupun merasa khawatir sekali, para murid Perguruan Elang Sakti itu menyatatakan taat kepada pemimpin mereka.
"Dan ingat, mereka yang pernah bentrok degan para petugas dan dikenal, sebaik bersembunyi di dalam saja dan jangan memperlihatkan diri agar tidak menimbulkan keributan." pesan ketua Thian Cu, sebelum dia keluar dari ruangan pertemuan itu dan melangkahkan kaki menuju ke ruangan depan.
Ternyata laporan murid itu benar, sebuah pasukan yang terdiri dari kurang lebih tiga ratus orang telah mengepung perguruan Elang Sakti dan kini rombongan perwira yang memimpin pasukan sudah turun dari atas punggung kuda mereka dan menuju ke pintu gerbang.
Mereka dipimpin oleh seorang panglima berusia lima puluhan tahun, pakaian gagah gemerlapan, bersikap acuh dan dengan pedang tergantung di pinggang dia melangkah menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh belasan orang perwira pembantu.
Beberapa orang pengawalnya memegang bendera dan tanda pangkatnya.
Panglima itu tak orang asing buat para murid perguruan Elang Sakti. Dia adalah Ciong Hak, seorang panglima yang sudah sering kali berkunjung ke perguruan Elang Sakti, baik sebagai utusan pemerintah atau sebagai tamu di Perguruan Elang sakti.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...