
Begitu memasuki dusun, mereka mengambil sikap mengurung, menjaga di semua penjuru, terutama di empat pintu dusun.
Mendengar derap kaki banyak kuda memasuki perkampungan mereka, para petani saling pandang dengan muka berubah. Entah siapa yang membisikkan lebih dahulu, akan tetapi kini mereka semua berbisik dengan muka ketakutan.
"Awas ada Pasukan Hitam.....!"
Pasukan Hitam yang terkenal karena ditakuti oleh penduduk di sekitar tempat itu karena pasukan yang perajuritnya berpakaian serba hitam dan tugas mereka yaitu mencari dan mengumpulkan tenaga-tenaga dari rakyat jelata untuk di jadikan tenaga pekerja membangun terusan Besar.
Pasukan Hitam ini juga menduduki tempat yang tinggi dan kekuasaan mutlak, bahkan para komandannya diberi hak untuk bertindak terhadap rakyat yang membangkang, maka tentu saja mereka amat ditakuti, kekuasaan memang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi manusia.
Dari kekuasaan ini timbul bermacam perbuatan yang buruk dan jahat. Orang-orang yang merasa khawatir kalau-kaiau dia akan diambil dan dijadikan pekerja paksa, tidak segan-segan untuk melakukan penyuapan atau penyogokan, bahkan menyerahkan anak gadis mereka kepada
para komandan dan prajurit pasukan Hitam.
Biarpun pemerintah sendiri mengambil kebijaksanaan untuk memberi upah para pekerja, namun dalam pelaksanaannya, upah-upah itu tertahan dilenyap entah di tangan yang mana antara ribuan petugas itu, dan para pekerja itu bekerja tanpa upah, bahkan jatah makanan mereka pun dikurangi sehingga banyak di antara mereka yang mati kelelahan atau kelaparan.
Hal ini makin menakutkan rakyat sehingga biar yang miskin sekalipun, selalu ingin menghindarkan diri agar jangan sampai diambil dan dipaksa untuk bekerja di Terusan itu.
Begitu mendengar bisikan adanya Pasukan Hitam, maka para penduduk dusun setempat itu menjadi geger.
Para wanita menangis, anak-anak bersembunyi di kolong-kolong tempat tidur dengan tubuh menggigil dan para gadis yang bersembunyi di ruang bawah tanah buatan mereka. Dan para pria dusun itu berserabutan lari keluar dari rumah dengan maksud melarikan diri keluar dari dusun agar tidak ketahuan dan tidak tertangkap.
Tapi ternyata dusun itu telah dikepung dan mereka yang mencoba melarikan diri bertemu dengan cambuk-cambuk yang melecut dan tendangan kaki bersepatu yang kuat dan membuat mereka roboh terrguling. Suasana menjadi semakin gempar.
"Semua penduduk dusun ini keluar dan berkumpul di sini!"
Seruan yang berkali-kali dilontarkan oleh beberapa orang perwira dengan suara lantang.
__ADS_1
"Yang melarikan diri atau melawan akan dibunuh!"
"Laki-laki di sini dan semua perempuan dan kanak-kanak di sebelah sana!" seru salah satu perwira dengan menunjuk ke arah yang dimaksudkan.
Dengan muka pucat dan tubuh menggigil ketakutan, semua penduduk dengan terpaksa keluar dari rumah dan tempat persembunyian mereka. Karena mereka sudah mendengar kalau beberapa buah dusun dibakar oleh Pasukan Hitam itu hanya untuk memaksa para penghuninya keluar dari tempat persembunyian mereka.
Beberapa saat kemudian semua orang berkumpul, yang pria berkelompok dikiri, yang wanita bersama anak-anak berkelompok di kanan.
"Kalian jangan takut! Kami melaksana tugas dari pemerintah untuk memberi pekerjaan kepada kalian. Kalian akan diberi upah dan diberi makan cukup! Juga para wanita yang terpilih akan mendapat pekerjaan dan hidup yang menyenangkan!" seru komandan pasukan, dan semua penduduk pun hanya bisa diam
Kemudian para pembantu komandan ini melakukan pemilihan. Pria-pria muda dan kuat, segera dipisahkan dan kedua tangan mereka dipasang borgol dengan rantai panjang. Dan lima puluh orang lebih pria diborgol dengan rantai yang sambung menyambung, dan ada lima belas wanita muda, baik gadis maupun sudah menikah, dipilih pula dan mereka ini dipaksa untuk memisahkan diri, lalu disuruh naik ke dalam sebuah gerobak yang sudah dipersiapkan.
Para wanita menangis, baik mereka yang dibawa maupun mereka yang ditinggalkan, karena mereka sudah mendengar jika terpilih mereka akan mendapatkan pekerjaan, akan tetapi pekerjaan yang hina dan mereka akan dipaksa melayani hasrat para prajurit.
Dan mereka yang sudah dibawa pergi, belum pernah ada yang kembali ke dusun mereka. Juga jarang sekali ada pria yang telah terpilih untuk bekerja di terusan akan kembali ke dusun.
"Tarr....tarr....tarr...!"
Bunyi cambuk mereka meledak-ledak untuk menakut nakuti mereka, dan untuk memaksa mereka yang hendak mogok untuk terus berjalan.
Bagaikan sekumpulan hewan ternak yang baru dibeli, lima puluh orang laki-laki dusun itu digiring keluar dari dusun mereka, meninggalkan keluarga, rumah dan dusun mereka, mungkinuntuk selamanya.
Menurut peraturan pemerintah pada waktu itu, tidak ada kerja paksa, yang ada ialah kerja wajib di mana rakyat dikenakan wajib bekerja membuat Terusan itu selama seratus hari, dan ini pun diberi upah dan makan.
Ada pula diterima wanita yang bekerja dan diberi upah, namun secara suka rela untuk bekerja di dapur umum pembuatan Terusan.
Tapi kenyataannya bahwa pelaksanaan suatu perintah lalu menyimpang daripada asal perintah itu sendiri. Kerja wajib menjadi keja paksa, upah dikebiri bahkan dihilangkan sama sekali, wanita-wanita dikumpulkan dan dipaksa bekerja, bukan dengan pembuatan Terusan melainkan demi pemuasan nafsu binatang mereka.
__ADS_1
Walaupun di antara para petugas terdapat pula orang-orang bersih dan yang benar-benar melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya.
Akan tetapi apakah artinya susu secangkir kalau dimasukkan ke dalam kolam yang penuh dengan air kotoran, Takkan nampak jelas putih dan kebersihan susu, bahkan akan ikut menjadi kotor.
Yang sedikit itu akan lenyap terselimuti yang banyak.
Komandan pasukan Pasukan Hitam yang memasuki dusun Ki-nyan-tung ini bernama Lok Sek, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa, dan dia memiliki senjata andalan sepasang goloknya yang amat dahsyat sehingga ditakuti banyak orang.
Juga dua orang perwira yang membantuya merupakan orang-orang pilihan dengan ilmu silat tinggi. Bahkan pasukan yang dipimpin oleh Lok Sek ini melupakan pasukan pilihan, terdiri dari Prajurit-perajurit yang pandai ilmu silat.
Dengan pasukan istimewanya ini, Lok Sek seolah-olah menjadi raja kecil yang dapat memaksakan kehendaknya sesuka hatinya, tanpa ada yang berani menentangnya.
Dimana pasukan pimpinan Lok Sek ini yg selalu berhasil membawa banyak tenaga baru yang patuh, maka atasannya tidak terlalu memusingkan tentang berita bahwa Lok Sek dan pasukannya yang kejam terhadap rakyat.
Orang-orang dusun yang dijadikan seperti tawanan itu berjalan dengan terhuyung-huyung di bawah ancaman cambuk-cambuk yang kadang-kadang menyentuh kulit dan menggigit, debu mengepul bawah kaki kuda-kuda yang ditunggangi oleh pasukan itu.
Sedangkan di tengah-tengah pasukan itu terdengar isak tangis para wanita yang berhimpitan di dalam gerobak yang ditarik dua ekor kuda.
....~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...