
Gadis yang bersama Han Beng itu, bukan sekedar mengingatkan, akan tetapi juga memancing Hua Li sambil menatap tajam wajah Pendekar wanita itu.
Hua Li mengingat-ingat dan membayangkan peristiwa yang terjadi dua belas tahun yang lalu itu. Peristiwa memperebutkan anak naga Sungai Kuning yang takkan terlupakan selama hidupnya karena dalam peristiwa itulah dia bertemu dengan Han Beng yang kemudian menjadi muridnya.
Teringatlah dia akan seorang gadis cilik yang kemudian ikut pula diperebutkan orang-orang Perailatan karena seperti juga Han Beng, gadis itu telah bergulat dengan "anak naga" dan menggigit serta menghisap darah anak naga itu.
"Oh, sekarang aku ingat! kau adalah gadis cilik yang pemberani itu yang bersama Han Beng melawan anak naga dan berhasil membunuhnya dan menghisap pula darahnya. Bukankah kau gadis cilik itu?" tanya Hua Li yang mencoba menebaknya.
"Benar, pendekar. Dan pendekar tentu masih ingat kepada Ayah Ibunya berada dalam perahu dalam keadaan terluka. Pendekar bersama Han Beng datang dengan perahu lain dan naik perahu orang tuaku, bukan? Tentu pendekar masih ingat apa yang terjadi jangan Ayah Ibuku pada waktu itu....!" cerita Hok Ci.
ia sengaja tidak melanjutkan karena ingin memancing pendekar tua itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Hua Li sudah tentu saja ingat akan semua itu dan pendekar kecapi itu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya benar, aku ingat semuanya. Setelah menyelamatkan Han Beng dari tangan tokoh-tokoh sesat itu, Han Beng mengajak aku mencari kedua orang tuanya. Akan tetapi gagal, dan kami bertemu dengan orang tuamu di perahu yang juga menderita luka-luka. Aku bahkan masih sempat mengobati mereka sebelum kami berdua meninggalkan mereka." jawab Hua Li.
Hok Cu memandang semakin tajam dan penuh selidik sehingga mampu membuat Hua Li yerheran-heran.
"Ah, Nona, kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Hua Li.
Sejak tadi Han Beng hanya diam saja, bahkan menundukkan mukanya. Dia mengerti akan sikap Hok Cu. Dia tahu bahwa gadis itu, walaupun percaya kepadanya, namun masih merasa penasaran dan ingin mendengar sendiri pengakuan gurunya, dan kini gadis itu memancing-mancing agar Hua Li menceritakannya apa yang sesungguhnya terjadi ketika itu.
Dia sengaja diam saja tidak mau mencampuri karena dia yakin akan kebersihan gurunya maka tidak perlu dia membelanya. Biarlah gadis itu mendapat keyakinan sendiri setelah bicara dengan gurunya yang dia percaya dapat mengusut semua keraguan dari hati Hok Cu.
"Pensekar, apakah yang pendekar lakukan ketika naik ke perahu Ayah Ibuku?" tanya Hua Li dan pandang matanya menatap tajam.
"Eh? Apa yang kulakukan? Aku bertanya kepada orang tuamu tentang orang tua Han Beng, kemudian melihat mereka menderita luka-luka, aku lalu mengobatinya." jawab Hua Li yang memandang Hok Cu dengan semakin heran.
__ADS_1
"Apakah ketika pendekar mengobati mereka, Ayah dan Ibuku itu menderita luka-luka parah?" tanya Hok Cu.
"Sama sekali tidak! Luka yang mereka derita hanya luka di luar saja, dan aku yakin setelah kuobati ketika itu mereka tentu sembuh kembali." jawab Hua Li seraya menggelengkan kepalanya.
Hok Cu membayangkan ketika ia bersama guru ya Mo li berada di perahu ayah Ibunya itu. Ayah ibunya yang ia temukan dalam keadaan terluka, akan tetapi mereka tidak parah, dan mereka bercerita bahwa mereka diserang oleh orang-orang jahat, mereka terluka dan hanya seorang saja pembantu mereka selamat.
Yang lain tewas demikian juga ayah bundanya yang menceritakannya bahwa orang tua Han Beng tewas. Juga ayahnya bercerita bahwa Han Beng dan Hua Li si pendekar kecapi itu yang mengobati mereka, demikian cerita ayahnya.
Tiba-tiba Mo Li yang mengatakan bahwa ayah bundanya diracuni Hua Li dan ayah ibunya tiba-tiba terkulai dan tewas dengan muka berubah menghitam.
Racun yang amat keras dan dapat menewaskan orang seketika. Hal itu tentu saja baru diketahuinya setelah ia mempelajari ilmu dari Mo Li.
Kalau benar Hua Li yang meracuni ayah ibunya, tentu ayah ibunya sudah tewas ketika ia dan Mo Li tiba perahu mereka. Jelas bahwa ayah ibunya tewas oleh racun yang membunuh mereka seketika, dan racun itu pasti bukan dari Hua Li datangnya dan lebih masuk akal kalau Mo Li yang meracuni mereka.
"Hei...! Nona, apa maksud kata-katamu itu?" tanya Hua Li yang terbelalak dan wajahnya yang gagah itu menjadi kemerahan, matanya mengeluarkan sinar mencorong.
"Ketika pendekar berada di perahu orang tua saya itu, pendwkar mengobati ataukah meracuni mereka?" tanya Hok Cu yang penasaran.
Dengan alis berkerut dan mata mencorong pendekar wanita itu bertanya, suaranya dalam dan berwibawa,
"Nona, mengapa kau bertanya demikian? Aku telah mengobati mereka. Kenapa aku harus meracuni mereka? Tidak ada alasan sama sekali! Dan mengapa pula kau menduga bahwa aku telah meracuni orang tuamu?" jawab sekaligus tanya Hua Li.
"Karena ketika saya dan guru, pada saat tiba di perahu orang tua saya itu, saya menemukan mereka dalam keadaan terluka dan tak lama kemudian mereka tewas keracunan. Dan menurut keterangan guru kalau mereka itu tewas karena pendekar yang meracuni mereka." jawab Hok Cu.
Hua Li semakin terkejut.
__ADS_1
"Aku meracuni mereka? Gilakah sudah guru kamu itu? Siapa gurumu itu yang bermulut demikian lancang melempar fitnah kepadaku!" seru Hua Li yang benar-benar sangat kesal.
"Subo adalah Mo Li...!" ja2ab Hok Cu.
"Ah! Pantas kalau begitu! Iblis betina ahli racun itu yang mengatakannya seperti itu pada kamu nona! Kalau ada orang yang dapat membunuh orang lain dengan racun tanpa diketahui, orang itu adalah Mo Li! Jelas bahwa Mo Li itulah yang telah meracuni orang tuamumu, bukan aku!" seru Hua Li yang menjelaskan.
"Akan tetapi, ia adalah guru saya. Bagaimana mungkin ia yang sudah mengambil saya sebagai murid, membunuh orang tua saya!" seru Hok Cu yang membantah.
"Ha....ha....ha...! Alangkah lucunya, akan tetapi juga amat penasaran! Nona, kau mengaku sebagai murid Mo Li akan tetapi agaknya kau belum mengenal siapa adanya gurumu itu! Ia seorang tokoh sesat yang amat jahat, seorang wanita iblis yang tidak segan melakukan kejahatan dalam bentuk apa pun juga. Dan kau agaknya lebih percaya kepada Mo Li dari pada kepadaku, bahkan menduga bahwa aku yang telah membunuh orang tuamu?" kata Hua Li yang mencoba menyimpulkan.
"Hei, Han Beng! apa alasanmu kau mengajak murid Mo Li ini datang ke sini?" lanjut tanya Hua Li pada muridnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
.
__ADS_1