Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 139


__ADS_3

Karena menurutnya tanpa pengemis ini, agaknya akan sukarlah baginya untuk dapat meloloskaan diri membawa Kian Beng dari kepungan para pendekar dan tokoh dunia persilatan, apalagi di situ terdapat Mo Li yang lihai.


Dia akan selalu ingat janjinya seperti yang diminta Kwe Ong yaitu bahwa kelak, setelah Kian Beng menjadi muridnya selama lima tahun, anak itu harus menjadi murid Raja Pengemis itu selama lima tahun pula.


Sambil merangkul tubuh Kian Beng, Hua Li pergi menjauhi tempat berbahaya itu.


Hua Li yang teringat akan janji itu dan di pun berpikir apakah semua itu kelak akan dapat dipenuhi. Keselamatan anak itu sendiri sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar baginya.


Dia tahu bahwa anak itu keracunan hebat, terkena pukulan tangan Mo Li ada goresan kuku di kulit leher Kian Beng. Pada saat dia memondong Kian Beng, dia sudah melihat jika leher kian Beng melepuh seperti terbakar, bengkak dan kehitaman amat mengerikan.


Setelah berlari cukup jauh dan memasuki sebuah hutan yang besar yang penuh pohon liar, Hua Li berhenti sebentar, mencurahkan perhatian ke arah belakang untuk melihat apakah ada orang yang melakukan pengejaran.


Beberapa saat kemudian, yakinlah dia bahwa tidak ada orang mengejarnya, maka dia pun menurunkan Kian Beng dari pondongannya ke atas rumput. Anak laki-laki itu dalam keadaan pingsan dan ketika dia direbahkan diatas rumput, tidak seperti orang yang sudah tidak bernyawa lagi.


Wajahnya pucat dan napasnya seperti gelombang air laut yang sedang pasang.


Dengan hati-hati Hua Li memeriksa leher yang tadinya terkena pukulan dan goresan kuku beracun dari Mo Li dan dia hampir mengeluarkan seruan kaget dan heran, juga girang melihat betapa leher itu sudah normal kembali.


Tidak ada warna hitam, tidak ada bengkak, bahkan luka bekas goresan kuku yang tadi mengeluarkan darah hitam, kini sudah kering.


Dirabanya leher itu dan tidak terasa panas. Juga bagaian tubuh lain dari anak ini yang tadinya amat panas, kini sudah tidak panas lagi, hangat biasa saja. Kemudian dipegangnya pergelangan tangan anak itu. darahnya pun berjalan dengan baiknya.


Hanya napas anak itu yang bergelora, seolah-olah ada kekuatan di dalam tubuhnya yang masih agak liar. Akan tetapi segala bagian tubuh anak itu sehat sama sekali, tidak ada gangguan, apalagi pengaruh racun.

__ADS_1


Biarpun Hua Li bukan seorang ahli pengobatan yang pandai, namun pengalamannya amat banyak dan dia tahu akan cara pengobatan orang terkena racun, asalkan jangan racun sehebat racun tangan Mo Li. Dia memandang anak yang masih rebah seperti orang tidur itu dan mengerutkan alisnya. Dia memutar otaknya dan akhirnya dia mengangguk-angguk dengan senyum gembira.


"Tuhan Maha Adil." pujinya dengan hati penuh kelegaan.


Hua Li menduga menduga apa yang telah terjadi dalam diri anak itu. gigitan ular yang disebut anak naga di pusaran maut Sungai Sungai Kuning itu, juga darah binatang aneh itu yang disesap oleh Kian Beng, membuat anak ini kecarunan hebat.


Tanda keracunan itu mudah dilihat, yaitu membuat anak itu kepanasan dan memiliki kekuatan dahsyat sehingga ketika anak itu mengamuk, banyak tokoh dunia persilatan yang berkepandaian tinggi roboh oleh pukulan anak yang tidak tahu ilmu silat itu.


Racun anak naga itu hebat sekali, dan mungkin Kian Beng takkan kuat bertahan, mungkin akan dapat tewas karena kehebatan darah anak naga itu akan menghapuskan semua jaringan otot dan syarafnya.


Ini suatu kemukjijatan terjadi. Ketika anak itu terkena pukulan beracun dan goresan kuku Mo Li maka ada semacam racun lain yang memasuki tubuhnya dan justru racun dari tangan gg tli inilah yang merupakan penyembuhan ketika dua macam racun yang berlawanan itu bertemu dan saling melumpuhkan.


Dengan hati-hati Hua Li mengurut tengkuk dan punggung Kian Beng dan baru saja beberapa kali dia mengurut untuk membuka kesadaran anak itu, tiba-tiba Kian Beng sudah mengeluh lalu membuka matanya dan dia pun meloncat bangun.


Matanya terbelalak dan kaki tangannya tidak mau diam, bergerak-gerak seperti bukan atas kehendak sendiri, dan kaki tangan itu mengeluarkan bunyi berkerotokan. Ketika Hua Li hendak mendekat dan dan hendak memegang lengan anak itu, tangan kiri Kian Beng menyambar dan ada hawa pukulan demikian kuatnya mendahului tangan itu sehingga Hua Li terkejut dan dengan terpaksa harus menangkisnya.


Tangkisan ini membuat tubuh Hua Li terdorong mundur beberapa langkah dan hampir terhuyung.


 "Ahh....!"


Pendekar itu berseru penuh kagum. Dia melangkah mundur dan melihat betapa anak itu masih menggerak-gerakkan kaki tangannya, dan ada hawa pukulan menyambar-nyambar dari kaki tangan itu. akan tetapi sinar mata anak itu waras, hanya kini Kian Beng menjadi bingung sendiri.


"Pendekar, tolonglah aku! Kaki tanganku taak dapat kuhentikan bergerak sendiri, dan ada sesuatu dalam perutku bergerak-gerak, seperti... seperti ada ularnya!" seru Kian Bembbb bh

__ADS_1


Sungguh aneh karena?ukan hanya kaki tangan anak itu yang bergerak-gerak, akan tetapi ada tonjolan yang aneh bergerak-gerak di tubuhnya, kadang-kadang nampak tonjolan sebesar tikus bergerak di kedua pundaknya, di dadanya, di leher, bahkan di kepalanya.


"Anak baik, tenanglah. Pusatkan perhatianmu dan kerahkan seluruh kekuatan kemauanmu untuk menguasai dirimu sendiri. Nah, kauc ontohlah aku, duduklah bersila di atas tanah, seperti ini!" seru Hua Li.


Kian Beng sudah percaya sepenuhnya kepada gadis yang telah menyelamatkannya dari tangan orang-orang aneh yang jahat, yang memperebutkan dirinya. Maka, mendengar suara yang penuh wibawa itu, dia pun mengerahkan kemauannya untuk menguasai dirinya dan biarpun dengan susah payah akhirnya dia dapat pula memaksa tubuhnya untuk menjatuhkan diri duduk di atas tanah, lalu menekuk kedua kakinya, bersila.


"Tegakkan tubuhnmu, luruskan leher dan kepala, pusatkan perhatianmu ke tengah anatara kedua alismu, Dan sekarang tarik napas panjang, hitung sampai delapan, tahan...! sekarang keluarkan dari hidung perlahan-lahan. Itu kedua lengan, letakkan diatas pangkuan, begini...!" arahan Hua Li.


Hua Li mulai mengajar anak itu untuk menenangkan diri, pelajaran permulaan Samadhi, dan dengan perlahan dia membimbing Kian Beng untuk menguasai dirinya sendiri dan menguasai pula kekuatan dasyat yang terdapat dalam dirinya. Setelah anak itu mulai tenang dan mulai dapat mengendalikan tenaga dasyat itu, Hua Li mengajak melanjutkan Perjalanan.


Saat ini Kian Beng telah menjadi muridnya itu ke sebuah bukit di lembah sungai kuning, bukit kecil jj dan mereka membuat sebuah pondok di puncaknya dan dari puncak ini mereka dapat melihat sungai Kuning yang mengalir di kaki bukit.


Pemandangan di bukit itu indah sekali, sebuah bukit yang dipenuhi hutan belukar dan dusun terdekat terletak di kaki bukit sungai Kuning.


Bukit itu sendiri sunyi, tidak dipantau oleh manusia karena memang merupakan hutan belukar yang liar.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2