Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 69


__ADS_3

Kepala laki-laki yang telentang itu pecah tertimpa batu yang ditimpukkan dengan kuat. Batu kedua menyusul memecahkan kepala wanita setengah baya itu


"Mari kita kembali ke perkampungan Perkumpulan pengemis. Tentu Kakak Ceng sudah merasa khawatir karena aku belum kembali ke sana," kata Liu Hong setelah merasa puas dapat membalas dendam dengan menghancurkan kepala dua orang penjahat yang menculiknya itu, walaupun yang dihancurkan adalah kepada yang sudah menjadi mayat.


"Iya, aku setuju!" seru Yauw Lie dan mereka kemudian melakukan perjalanan cepat kembali ke perkumpulan pengemis tongkat merah.


Hari telah siang ketika mereka tiba di perkampungan perkumpulan tongkat merah dan disambut gembira oleh para anggota perkumpulan dan juga ketua Kui.


"Ah, kami gembira sekali melihat kalian berdua kembali dalam keadaan selamat. Kami sudah merasa khawatir sekali karena semalam kalian tidak pulang. Bagaimana, apakah yang terjadi dengan para pengacara itu?" tanya Ketua Kui yang penasaran.


"Mereka pergi dan menghilang. saya mengejar terlalu jauh sehingga kemalaman dan tidak dapat pulang karena hari sudah malam. Baru pagi tadi kami saling bertemu dan saya mengajak adik Yauw kembali ke sini, ketua." jawab Liu Hong.


"Ketua, di mana saudara Ceng? Mengapa ia tidak keluar menyambut kami?" tanya Yauw Lie yang menebarkan pandangannya, demikian pula dengan Liu Hong.


"Saudara Ceng pergi menyusul dan mencari kalian. Sampai sekarang ia juga belum kembali," jawab ketua Kui yang sebenarnya.


"A..apa! adik Yauw ayo kita susul kakak Ceng!" seru Liu Hong yang khawatir akan saudaranya dan dan Yauw Li menganggukkan kepalanya.


"Jangan khawatir, saudari Yauw dan Saudari Hong. Nanti kami sudah mengerahkan semua anak buah kami untuk berpencar dan mencari saudara Ceng. Lebih baik kita makan siang terlebih dahulu!" ajak ketua Kui.


"Baiklah, tapi setelah makan siang nanti kami akan mencari kakak Ceng!" ucap Yauw Lie seraya menatap Liu Hong yang wajahnya sudah terlihat sangat cemas.


Ketua Kui menganggukkan kepalanya dan mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang makan yang biasa digunakan untuk menjamu para tamu perkumpulan pengemis.


Terpaksa Yauw Lie dan Liu Hong menerima tawaran ketua Kui dan. setelah selesai makan minum, dua orang muda itu berkemas lalu pamit dan meninggalkan perkampungan perkumpulan pengemis, untuk mencari keberadaan Liu Ceng.


...****...


Sementara itu Liu Ceng sudah memasuki sebuah dusun di lereng bukit yang paling bawah dari pegunungan pada siang itu, sebuah dusun kecil yang penduduknya terdiri dari beberapa puluh keluarga petani. Kebetulan sekali pada waktu itu penduduk dilanda penyakit perut yang sudah mengorbankan belasan orang.


Melihat hal ini Ceng segera turun tangan, mengobati mereka yang sedang sakit dan minta kepada kepala dusun kecil itu untuk mengerahkan orang-orangnya mencari beberapa macam daun dan akar obat untuk diminum semua anggauta keluarga penduduk agar jangan terkena penyakit itu.

__ADS_1


Penduduk dusun kecil itu berterima kasih sekali kepada Liu Ceng yang namanya sudah mereka dengar. Mereka mencari daun-daun dan akar obat yang diminta lalu Liu Ceng membagi-bagi obat itu agar diminum semua orang.


Karena girang dan sebagai pernyataan terima kasih mereka, kepala dusun memberi tempat bagi gadis penolong itu untuk melewatkan beberapa malam, mereka lalu mengadakan perjamuan selamat jalan kepada Liu Ceng yang hendak melanjutkan perjalanan meninggalkan dusun karena sudah lima hari ia berada di dusun itu.


Seluruh penghuni dusun itu mengadakan perjamuan dengan gembira. Walaupun sederhana, namun meriah sekali karena semua orang mengagum Liu Ceng yang duduk di tempat kehormatan bersama kepala dusun.


Namun menjelang akhir perjamuan itu, tiba-tiba masuk dua orang wanita ke rumah kepala dusun itu dan semua orang memandang mereka dengan heran.


Dua orang wanita itu berusia sekitar tiga puluh tahun, bertubuh ramping padat dan wajah mereka cukup manis namun dengan alis berkerut, mata tajam dan mulut cemberut, mereka mendatangkan kesan galak.


Apalagi di punggung mereka tergantung sebatang pedang. Pakaian mereka yang berwarna serba hijau juga ringkas seperti pakaian para wanita persilatan.


Mereka tidak mempedulikan pandang mata para penduduk dusun yang sedang berpesta itu, dan langsung saja mereka menghampiri meja di mana kepala dusun sedang menjamu Liu Ceng sebagai tamu kehormatan dusun itu.


Melihat datangnya dua orang wanita baju hijau yang menghampiri mejanya itu, Si Kepala Dusun sangat terkejut.


"Hei! Siapakah nona berdua dan mengapa kalian masuk begini saja tanpa aturan?" tanya kepala dusun itu yang penasaran.


"Diam kamu! Kami tidak ada urusan denganmu!" jawab salah satu dari perempuan itu dengan ketus.


"Apakah Kau Liu Ceng?"


"Benar." jawab Liu Ceng dengan mengulas senyumnya.


"Ada kepentingan apakah kalian mencari aku, dan siapakah kalian ini?" lanjut tanya Liu Ceng yang penasaran.


"Mari ikut kami, kami membutuhkan pertolonganmu untuk mengobati Bibi guru kami." jawab salah satu dari kedua perempuan itu.


 "Ma'af nona, saudara Ceng masih kami butuhkan!" seru kepala Dusun.


Kedua orang wanita baju hijau itu memandang dengan mata mencorong marah kepada Si Kepala Dusun itu.

__ADS_1


"Biarlah Paman. Mereka datang minta bantuanku, sudah semestinya aku pergi menolong orang yang sakit." kata Liu Ceng dengan sopan.


"Oh, kalau begitu terserah anda saudara Ceng." ucap ketua Dusun dengan ramah.


"Mohon kalian menunggu sebentar di luar, saya akan berkemas terlebih dahulu. Karena saya akan membawa pakaian dan obat-obatan." ucap Liu Ceng.


"Baiklah!" seru dua orang wanita baju hijau itu mengangguk lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah gesit menunjukkan bahwa keduanya adalah pendekar yang tangguh.


Liu Ceng lalu memasuki rumah, mengambil pakaian dan obat dari dalam kamar, kemudian keluar dan berpamit kepada semua penduduk dusun itu.


Beberapa orang wanita yang merasa anggota keluarganya yang telah diselamatkan oleh Liu Ceng, menangis terharu. Seluruh penduduk merasa terharu dan kehilangan ditinggal pemuda yang muncul sebagai dewa penolong itu.


Di luar rumah kepala dusun, Liu Ceng sudah ditunggu dua orang wanita baju hijau. Seluruh penduduk mengikuti dan mengantar kepergian Lou Ceng sampai di luar dusun mereka.


Setelah keluar dari dusun, wanita bermata sipit yang tadi bicara, berkata kepada Ceng Ceng.


 "Ayo cepat saudara Ceng! Bibi Guru kami sakit keras, perlu cepat ditolong!" seru salah satu dari gadis itu.


Mendengar ucapan itu dan melihat sikap mereka yang murung dan galak, Liu Ceng mengerutkan alisnya. Mereka sudah jauh dari dusun dan tidak ada orang lain melihat mereka.


"Nona, sikap kalian yang kasar dan galak ini tentu membuat lain orang yang hendak menolong menjadi enggan!" seru Liu Ceng yang menatap kedua gadis itu.


Tiba-tiba mereka mencabut pedang dari punggung mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2