Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 205


__ADS_3

Tiba-tiba dari dalam hutan muncul kurang lebih dua puluh orang pendekar aliran hitam yang memegang senjata dan tanpa banyak cakap lagi dua puluh orang tosu itu telah menyerang sepuluh orang biksu itu. Tentu saja para biksu itu menjadi marah.


Mereka tadi memang hanya karena terpaksa oleh sikap Kwe Ong saja menahan diri dan tidak menyerang para pendekar aliran hitam yang tidak mau melawan. Kini, melihat dua puluh orang pendekar aliran hitam muncul dari dalam hutan dan agaknya memang sengaja menghadang mereka dan menyerang dengan senjata pedang dan golok, sepuluh orang biksu itu menjadi marah dan mereka pun mengantuk, dipimpin oleh biksu Thian Gi yang bersenjatakan toya.


Han Beng yang menjadi penonton sambil bersembunyi dibalik batang pohon, menjadi bingung. Tentu saja tidak dapat menjadi pemisah setelah kedua pihak saling serang seperti itu.


Akan tetapi dia melihat bahwa tak seorang pun di antara sembilan pendekar aliran hitam yang tadi berada di antara para penyerbu itu Para pendekar kali ini merupakan wajah-wajah baru.


Juga dari gerakan mereka, biarpun kesemuanya pandai ilmu silat namun dibandingkan dengan para biksu yang rata-rata memiliki tingkat tinggi itu, mereka bukan merupakan lawan yang perlu dikhawatirkan.


Dugaannya Beng Han belum ada sepuluh menit dua puluh orang pendekar aliran hitam itu melakukan penyerbuan mereka sudah dapat dipukul mundur akhirnya mereka melarikan diri menuju hutan.


"Jangan dikejar! Mengejar musuh di dalam hutan lebat amat berbahaya. Lagi pula kita harus setia kepada janji dalam sendiri. Mulai sekarang, kita tidak menjadi pihak menyerang. Kalau mereka menggunakan kekerasan, barulah kita membalas. Kalau mereka menggunakan kelembutan dan tidak menyerang, kita pun tidak boleh menyerang mereka. Kini, gerombolan pendekar aliran hitam yang menyerang kita sudah melarikan diri, tidak perlu dikejar lagi!" seru Biksu Thian Gi pada saat ada biksu yang hendak mengejar.


Sementara itu Han Beng sudah menyelinap dan berlari-lari di antara pohon-pohon dalam hutan. Dia membayangi para pendekar aliran hitam yang melarikan diri karena dia menaruh hati curiga.


Para pendekar itu sudah menanti dan menghadang di tempat itu agaknya. Tentu mereka sudah tahu para biksu macam apa yang akan lewat dan mereka hadapi. Akan tetapi mereka itu tidak melakukan persiapan matang, dan mengajukan pendekar-pendekar yang tidak berapa tinggi kepandaiannya. Dan setelah menyerang belum berapa lama, belum ada diantara mereka yang terluka parah, tiba-tiba mereka melarikan diri.


Ternyata para pendekar itu melarikan sampai menembus hutan dan keluar dari sisi lain, kemudian mereka mendaki sebuah bukit.


Setelah mendaki bukit yang penuh dengan hutan dan jurang yang curam itu, dan tiba di sebuah lereng di mana terdapat semacam perkampungan, mereka berhenti. Han Beng cepat menyelinap dekat untuk mendengarkan percakapan mereka.


"Kalian semua sudah tahu bahwa untuk beberapa hari lamanya, sebelum ada perintah, kalian tidak boleh meninggalkan perkampungan. Kami bertiga akan melaporkan kepada ketua!" seru salah seorang pendekar aliran hitam itu yang tinggi dan kurus bersama dua temannya melanjutkan perjalan menuju ke puncak, sedangkan tujuh belas orang pendekar aliran hitam yang lain memasuki perkampungan itu.

__ADS_1


Sebagian dari mereka ketika memasuki pintu gerbang perkampungan yang terjaga itu, mereka mengganti pakaian mereka dan mengenakan pakaian ringkas.


"Hm, kiranya hanya penyusup!" pikir Han Beng yang menjadi semakin curiga. Dia pun segera membayangi tiga orang pendekar yang mendaki puncak, ingin tahu siapa yang mereka sebut ketua itu dan apa yang akan mereka laporkan.


Tiga orang itu kini dipuncak dan ternyata bahwa di puncak itu, tertutup oleh hutan yang mengelilingi puncak, terdapat sebuah bangunan besar dan baru.


Ketika Han Beng menyelinap dan mengintai, dia melihat tiga orang tosu palsu itu langsung menuju ke pintu gerbang yang terjaga ketat dan pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang perwira pasukan pemerintah, menunggang kuda dan dikawal oleh tiga puluh tentara.


Melihat perwira ini, para penjaga pintu gerbang segera memberi jalan dengan sikap hormat.


Han Beng termenung dan kecurigaannya semakin menebal. Melihat pakaian penjaga pintu gerbang itu, jelas bahwa mereka bukan tentara. Akan tetapi perwira dan para pengawalnya itu pasti pasukan pemerintah.


"Apa maksudnya berkunjung ke tempat aneh di puncak bukit ini?" gumam Han Beng.


Tak lama kemudian, menggunakan ilmu kepandaiannya, Han Beng berhasil melompati pagar tembok tanpa diketahui para penjaga dan dia pun sudah menyelinap diantara pohon-pohon di taman bunga, mendekati bangunan dan dengan gerakan bagaikan seekor burung walet dia sudah meloncat ke atas genteng bersembunyi di balik wuwungan dan merayap seperti seekor kucing tanpa mengeluarkan suara untuk mengintai ke dalam.


 Akhirnya dia tiba diatas sebuah ruangan yang luas di mana terdapat berapa orang sedang duduk menghadapi meja besar dan bercakap-cakap. Han Beng yang mengintai dari atas, mengenal tiga orang tosu yang dipimpin tosu kurus tadi, juga melihat perwira yang tadi menunggang kuda berada pula di situ.


Di kepala meja duduk seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih dan melihat orang ini, Han Beng terkejut. Sungguh seorang laki-laki yang menyeramkan dengan rambut, kumis dan jenggotnya masih hitam, tebal dan lebat, tidak terawat sehingga awut-awutan.


Mukanya persegi empat, dan muka itu dipenuhi brewok sehingga mirip muka seekor singa. Tubuhnya tinggi besar dan nampak kokoh kuat, sepasang matanya juga mencorong.


Mengesankan sekali orang ini dan menakutkan, baru melihat keadaan tubuhnya saja mudah diduga bahwa ia tentu seorang yang memilliki tenaga kuat sekali dan tentu pandai pula, memiliki ilm mu silat yang tinggi.

__ADS_1


Memang dugaannya ini tidak meleset dari kenyataan. Raksasa kulit hitam itu adalah seorang datuk sesat yang selama hampir dua puluh ini menghilang di dunia persilatan. Ketika dia muncul kembali, dunia persilatan geger karena ia memiliki kesaktian yang tidak lumrah seperti manusia biasanya.


Karena disamping ilmu silatnya yang tinggi  juga dia memiliki ilmu sihir dan kemunculannya membawa pula suatu aliran kepercayaan baru, yaitu penyembah patung Setan.


Cerita sebelumnya  Lui Seng juga seorang penyembah patung seyan Kwi-ong dan orang itu adalah murid pertama atau pembantu pertama dari Beng Cu.


Dari raksasa hitam inilah Lui Seng menerima aliran kepercayaan baru itu dan dia pun bertugas untuk menyebar-luaskan kepercayaan itu dan akhirnya, seperti kita ketahui, Lui Seng berhasil menggaet Mo Li untuk menjadi anggotanya.


Han Beng dengan semangat mendengarkan percakapan mereka dari persembunyiannya.


"Bagus! Jadi rencana kita berjalan lancar, Beng-cu? Ah, cepat ceritakan bagaimana hasilnya!" seru salah satu perwira yang agaknya menjadi tamu itu menepuk meja dengan wajah gembira.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2