Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 246


__ADS_3

"Aku menyaksikan sendiri dalam rumah makan itu betapa Cang Tai telah menyerahkan sepeti emas permata dan dua orang gadis remaja sebagai suapan kepada Liu Tai. Pembesar makan sogokan macam itu yang kaukatakan bukan seorang pembesar korup!" lanjut seru Hok Cu yang yakin kalau dirinya itu dipihak yang benar.


"Nona, aku tidak menyalahkan kalau kau salah paham. Ketahuilah, Liu Tai adalah seorang pembesar yang jujur dan tegas dalam menindak para pembesar daerah yang korup. Seluruh perjalanannya dari kota raja ke daerah-daerah, sudah dikenal orang dan entah berapa banyaknya pembesar korup yang telah ditindaknya. Tentu saja kau menganggap dia seorang pembesar yang mau menerima sogokan." jelas Han Beng yang menghentikan ucapannya untuk menarik napasnya dalam-dalam.


"Ketahuilah bahwa kalau Pembesar Liu Tai menerima peti harta dan dua orang gadis itu, hanya diterima untuk dijadikan bukti penyelewengan Cang Jin. Dia tidak mungkin dapat menindak Cang jin tanpa bukti, dan sogokan itulah buktinya!" lanjut seru Hong Beng yang berusaha menjelaskan.


"Apa.....!" seru Hok Cu yang terkejut mendengar ini, hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya.


"Lalu bagaimana dengan dua orang gadis remaja itu? Aku tadinya hanya ingin membebaskan mereka!" seru Hok Cu yang terlihat mengkhawatirkan mereka.


"Jangan khawatir, mereka diperlakukan dengan baik dan terhormat. Liu Tai maklum bahwa mereka pun sama sekali tidak berdaya karena mereka dari keluarga miskin yang sudah dijual kepada Cang Jin. Mereka akan diajukan sebagai saksi kelak kalau Pembesar Cang itu ditindak." jelas Liu Tai.


"Akan tetapi, kalau sudah jelas Pembesar Cang itu melakukan penyelewengan, mengapa tidak terus ditangkap dan ditindak saja? Bukankah Pembesar Liu Tai memiliki wewenang dan kekuasaan?" tanya Hok Cu yang penasaran.


"Hal itu belum dilakukan Nona, karena ada hal-hal lain yang sedang diselidiki oleh Pembesar Liu Tai." kata Han Beng dan tentu saja dia tidak berani bercerita tentang tugasnya menyelidiki desas-desus tentang terlibatnya Cang Jin dalam gerombolan pemberontak.


"Kau maksudkan dengan hal-hal lain itu apakah gerombolan pemberontak yang dipimpin perkumpulan Serigala Emas itu?" tanya Hok Cu.


Han Beng terkejut dan wajahnya berseri mendengar ini.


"Ah, benar juga. Gadis ini agaknya mengetahui banyak tentang pemuda bercaping lebar itu dan tentang orang-orang yang mengadakan persekutuan untuk menentang pemerintah! Penyelidikan yang dilakukan untuk membantu Pembesar Liu Tai akan menjadi mudah kalau dia memperoleh keterangan dari gadis ini." gumam dalam hati Han Beng.


"Ah, kiranya Nona tahu akan hal itu? Aku telah menceritakan semuanya, kuharap kiranya Nona mau menceritakan tentang mereka, tentang mengapa Nona yang tadinya bekerjasama dengan mereka kini tiba-tiba saja kulihat dikeroyok oleh mereka yang agaknya berusaha keras untuk membunuhmu." kata Han Beng yang penasaran.

__ADS_1


"Nanti dulu!" kata Hok Cu, masih belum merasa puas.


"Kau bisa menceritakan tentang Pembesar Liu Tai, akan tapi belum bercerita tentang dirimu. Apakah kau petugas pemerintah yang membantu Pembesar Liu Ta?" tanya Hok Cu yang penasaran dan Han Beng menggelengkan kepalanya.


"Sama sekali bukan, Nona. Bahkan baru sekarang aku bertemu dengan pembesar itu, yaitu ketika keretanya ada yang menghadang mereka." jawab Han Beng.


"Kalau bukan apa-apanya, kenapa pula kau membelanya mati-matian ketika keretanya diserbu?" tanya Hok Cu yang menatap wajah pemuda itu dengan pandang mata tajam menyelidik.


Diam-diam ia kagum. Wajah pemuda mungkin tidak setampan wajah Hong Lan yang pesolek, akan tetapi cukup ganteng dan gagah sekali, penuh kejantanan.


"Nona, aku akan membela siapa saja yang berada di pihak benar, menantang kejahatan dan membela mereka yang terancam bahaya oleh kekerasan orang lain. karena itulah, melihat betapa kereta pembesar itu terancam bahaya, padahal itu sudah mendengar bahwa pembesar Itu seorang petugas yang jujur dan adil, aku segera membantunya. Demikian pula melihat kau, seorang wanita, dikeroyok belasan orang itu, aku pun segera turun tangan membantumu." jelas Han Beng.


   Giok Cu tersenyum, senyum yang agak sinis.


"Aih, itu hanya pujian kosong saja dari mereka yang telah berhasil kutolong. Tidak ada artinya sama sekali, dan aku bukan seorang pendekar besar. Mungkin karena aku suka merantau di sepanjang Sungai Kuning, maka aku mendapat julukan seperti itu. Terlalu berlebihan!" kata Han Beng yang berhenti sebentar, dan melihat gadis itu yang tidak menjawab, hanya tersenyum saja.


"Sekarang coba anda menceritakan tentang kau dan mereka itu, Nona!' pinta Han Beng.


"Aku pun secara kebetulan saja lewat di Siong-an dan di dalam rumah makan Ho-tin, aku melihat penyogokan yang dilakukan Cang jin kepada Liu Tai. Mengenai peti harta itu, aku tidak peduli. Akan tetapi melihat dua orang gadis remaja itu yang juga di hadiahkan kepada Liu Tai, hatiku menjadi panas dan aku bermaksud untuk membebaskan dua orang gadis itu. Sama sekali tidak mempunyai sangkut-paut atau hubungan dengan yang lain-lain itu." jelas Hok Cu.


"Tapi aku lihat kau bekerja sama dengan pemuda bercaping lebar itu. Dia lihai dan ......" kata Han Beng yang langsung dipotong Hok Cu.


"Ah, dia itu Hong Lan dan aku baru berkenalan dengan dia di rumah makan Ho-tin. Dia pun bermaksud menghadang dan menghajar Liu Tai yang dianggapnya seorang pembesar korup pemakan sogokan. Dia hendak merampok peti harta itu." jelas Hok Cu.

__ADS_1


"Kalau begitu, dia pun tidak tahu akan hal yang sebenarnya dan mengira Liu Tai seorang pembesar korup. Kalau demikian halnya, seperti juga kau, dia pun seorang pendekar yang menentang penindasan, bukankah demikian, Nona?" tanya Han Beng.


"Hemmm, tadinya seperti itulah yang ku sangka." ucap Hok Cu yang membuat Han Beng penasaran.


"Apakah kenyataannya berkata lain. Ketika kami berdua mengejar kereta pembesar itu sampai di hutan, ternyata kereta itu telah diserang oleh sekelompok orang. Kami tidak mengenal siapa mereka, dan kami hendak turun tangan sendiri. Aku ingin membebaskan dua orang gadis dan Hong Lan itu hendak merampas peti harta, dan kau muncul menggagalkan kami." jelas Hok Cu.


"Tapi kenapa lalu kau dikeroyok oleh mereka, Nona? Dan kulihat pemuda bercaping itu pun ikut mengeroyokmu?" tanya Han Beng yang mengernyitkan kedua alisnya.


Hok Cu menarik napas panjang dan menggigit bibirnya karena gemas. Melihat deretan gigi putih rapi itu menggigit bibir bawah yang merah basah, Han Beng mengalihkan pandang matanya.


Terlalu indah dan berbahaya bagi batinnya kalau dipandang terus, pikirnya. Baru memandang sekilas saja, darah mudannya sudah bergejolak dan jantungnya berdebar.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2