
Rupanya nalurinya sebagai seorang wanita dan calon ibu itu telah menghantam kerasnya hati pendekar kecapi itu.
"Bibi....! kenapa bibi yang cantik menangis?" tanya Coa Ki dengan lucunya.
Pertanyaan itu membuat air mata makin deras keluar dari kedua mata Hua Li, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengejap-ngejapkan mata memandang wajah yang mungil, tampan dan merah itu. Senyumnya makin melebar dan akhirnya dia pun tertawa bergelak-gelak.
Suara ketawanya menggetarkan keadaan sekitarnya dan belum pernah Han Beng-mendengar gurunya tertawa seperti itu, bebas lepas dan ini merupakan tanda bahwa perempuan itu telah benar-benar terbebas dari siksaan batin berupa racun dendam kebencian.
"Ha ..ha...ha...! keponakan yang baik, siapakah namamu?" tanya Hua Li yang mengakhiri tawanya dan menimang Thian Ki.
"Namaku Coa Ki, bibi." kata anak itu dengan manja.
"Bagus! Terima kasih, Coa Ki, terima kasih keponakan yang baik!" seru Hua Li yang kemudian menurunkan anak itu dan menoleh kepada Han Beng.
"Han Beng, kau benar, lanjutkan perjalanan dan pertahankan sikapmu yang tadi. Aku bangga menjadi gurumu." kata Hua Li yang mengulas senyumnya.
"Murid akan mentaati pesan guru." balas Han Beng dengan menundukkan kepalanya.
"Dan kalian, Coa Siang dan Cu Ming! kalian jaga baik-baik anak kalian ini, jangan biarkan dia menjadi hamba kekerasan seperti kita. Kalian benar anak ini tidak perlu diperkenalkan dengan ilmu silat dan kekerasan! Nah, selamat tinggal semua. Han Beng, kalau kau perlu bertemu denganku, aku berada di Kim-hong-san!" seru Hua Li yang setelah berkata demikian, perempuan itu berkelebat dan lenyap begitu saja.
"Kami harap adik Beng tinggal di sini bersama kami. Kami sungguh berterima kasih sekali, adik Beng. Ternyata kau seorang yang budiman, sampai rela hampir mengorbankan nyawa demi keselamatan kami. Entah bagaimana kami akan mampu membalas budimu." kata Coa Siang.
Sedangkan Cu Ming juga mengangguk-anggukkan kepala dan memandang kearah pemuda perkasa itu dengan sinar mata penuh kagum dan rasa syukur, sedangkan Coa Ki yang berada dalam pondongan ibunya, matanya kini nampak mengantuk karena beberapa kali tidurnya terganggu.
"Sudahlah, kakak berdua. Tidak perlu bersungkan-sungkan. Kalian sendiri tadi juga rela mengorbankan nyawa untuk menolongku. Malam ini biar aku berada di sini, untuk menjaga kalau-kalau pemuda bercaping itu datang kembali. Besok aku akan melanjutkan perjalanan dan sebaiknya, menurut pendapatku, kalau kalian pindah saja ke lain tempat. Aku khawatir kalau pemuda jahat itu muncul kembali untuk mengganggu kalian." kata sekaligus saran Han Beng.
__ADS_1
CoaSiang dan isterinya saling pandang.
"Kami tidak akan pindah, adik Beng.
Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa demi melindungi keluarga sendiri kami berdua harus selalu bersiap-siap. Kami akan diam-diam berlatih dan selalu waspada dan mempersiapkan senjata. Kalau kami maju berdua dengan senjata di tangan, kiraku penjahat bercaping itu belum tentu akan mampu mengalahkan kami." kata Coa Siang dan Isterinya kembali menganggukkan kepalanya.
"Apa perlunya pindah? Kalau memang hendak mengejar, tentu penjahat itu mampu mencari kami. Lebih baik tetap tinggal disitu akan tetapi berhati-hati." kata Cu Ming yang menambahi.
Han Beng mengangguk-anggukoqn kepalanya. Dia tadi juga sudah menyaksikan kelihaian mereka. Kalau mereka berlatih dan selalu mempersiapkan pedang, kiranya tidak akan mudah bagi penjahat bercaping tadi untuk mengalahkan suami isteri ini.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan meninggalkan semacam latihan tenaga dalam untuk kalian, karena dengan tenaga dalam yang agak lebih kuat, kiranya penjahat itu tidak akan mampu menandingi kalian berdua." kata Han Beng.
Tentu saja suami isteri itu menjadi girang bukan main. Setelah Coa Ki tidur kembali, Han Beng lalu malam itu juga mengajarkan cara melatih dan memperkuat tenaga sakti kepada suami isteri itu.
Dengan upacara yang sederhana mereka lakukan di depan meja sembahyang. Coa Ki yang masih kecil itu pun sebentar saja akrab dengan Han Beng dan menyebutnya paman.
Ketika Han Beng pergi, suami isteri itu menjadi sedemikian terharu sehingga keduanya mengantar sampai ke tepi dusun dan ketika pemuda itu pergi, mereka tak dapat menahan mengalirnya air mata keharuan.
Mereka yang sudah belasan tahun merasa terasing dan tidak pernah berhubungan dengan keluarga, seolah-olah ditinggal pergi adik sendiri yang amat berbudi dan berjasa, yang amat mereka kasihi.
...****...
Kita tinggalkan Han Beng dengan perjalanannya mengikuti jejak gurunya Hua Li si Pendekar Kecapi.
Di kota Siong-an hari itu nampak begitu ramai. Kota yang berada dekat tepi Sunga Kuning ini memang merupakan kota yang penting bagi para pedagang. Letaknya di daratan tinggi, lebih tinggi dari sungai sehingga di waktu Sungai Kuning itu meluap dengan banjirnya sekali pun, kota ini tidak pernah terendam air Karena itu, banyak orang kaya dari daerah pedusunan memiliki rumah di kota ini sebagai tempat pengungsian kala musim hujan tiba.
__ADS_1
Sebagai kota dagang yang banyak dikunjungi pedagang dari kota lain, yan terutama sekali membutuhkan bahan bangunan, kayu yang baik, dan juga rempah-rempah, kota Siong-an cepat berkembang dan di situ kini banyak terdapat rumah penginapan dan rumah makan.
Rumah makan Hotin merupakan rumah makan terbesar di kota Siong-an. Bukan hanya terbesar, melainkan juga terbaik dan terkenal dengan hidangan yang lengkap dan lezat, dari yang murah sampai yang termahal. Karena itu, hampir setiap hari, bahkan sampai jauh malam, restoran ini dikunjungi banyak orang dari segala golongan.
Para pedagang besar yang menjamu para tamunya, para pedagang dari lain kota, tentu mempergunakan restoran itu sebagai tempat pesta dan pertemuan. Juga mereka yang melancong ke kota Siong-an, untuk berperahu di Sungai Kuning atau hanya berbelanja di kota yang ramai dan penuh dengan toko itu, tidak lupa untuk makan pagi, makan siang, atau makan malam di restoran Hotin.
Ruangannya luas, ada lotengnya, dapat menampung tamu lebih dari seratus orang. Ada belasan orang pelayan yang sigap dan trampil, seorang kasir yang ramah dan juru-juru masak yang berpengalaman. Baru memasuki ruangan restoran itu saja, para tamu sudah disambut aroma masakan yang sedap dari dapur sehingga selera mereka segera timbul dan perut mendadak terasa semakin lapar.
Di restoran itu dijual arak yang amat terkenal manis, harum, dan daya mabuknya lembut.
Sejak pagi di restoran itu sudah kebanjiran tamu. Kurang lebih jam delapan pagi, seorang gadis memasuki restoran yang penuh tamu itu. Dengan kemunculan gadis ini tentu saja menarik perhatian bukan hanya karena ada seorang gadis muncul seorang diri di rumah makan umum, melainkan terutama sekali karena gadis itu bukan gadis sembarangan.
Wajahnya cantik jelita dan manis sekali, bibirnya yang merah basah tanpa gincu itu selalu tersenyum lucu, sikapnya lincah dan matanya kocak jenaka.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1