
Liu Ceng dan Hua tersenyum mendengar hal itu. Dua orang gadis bunga persik itu sama sekali tidak menyembunyikan rasa kagum dan sukanya kepada dua orang kakak beradik itu.
"Baiklah, dan terima kasih atas bantuan kalian," kata Liu Ceng.
"Saudara Ceng, pendekar Hua, dan ketua Thio Kong, kami mohon diri untuk melakukan penyelidikan." kata Sin Lan yang berpamitan dan juga mewakili adik serta dua orang gadis dari perguruan bunga persik.
"Iya, terima kasih dan selamat bekerja!" balas Liu Ceng dan yang lainnya menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamit kepada Liu Ceng dan Hua Li juga kepada Ketua Thio Kong, kemudian dua pasang sejoli itu meninggalkan perkampungan itu, melakukan perjalanan berempat untuk menyelidiki harta karun yang masih belum diketahui di mana tempatnya dan siapa pula pencurinya.
Seperti dengan sendirinya, tanpa berunding dan bersepakat, Hua Li dan Liu Ceng juga berpamit kepada tuan rumah untuk melanjutkan penyelidikan mereka.
"Mudah-mudahan kalian berdua memperoleh hasil yang baik, Pendekar Hua dan saudara Ceng. Saya juga akan menyebar murid perguruan ular kobra untuk melakukan penyelidikan lagi," kata Ketua Thio Kong.
"Terima kasih ketua, kami mohon diri!" seru Liu Ceng dan Hua Li yang bersamaan dan mereka memberi hormat pada ketua Thio Kong.
Hua Li dan Liu Ceng melakukan perjalanan berdua, keluar dari perguruan ular kobra tanpa mengeluarkan suara. Padahal, seribu satu macam ucapan yang memenuhi hati mereka, akan tetapi entah mengapa, sukar rasanya untuk bicara setelah mereka kini berdua saja. Karena merasa seperti terjebak ke dalam suasana hening.
Sebagai seorang wanita, Hua Li merasa sukar dan malu untuk membuka pembicaraan. Akan tetapi keadaan seperti itu sungguh tidak nyaman rasanya di hati sehingga ia menarik napas panjang dua kali. Tarikan napas panjang yang halus ini tidak terlewatkan oleh pendengaran Liu Ceng.
Dia tiba-tiba merasa betapa canggung dan tidak enaknya suasana itu dan dia merasa telah membuat gadis yang dikasihinya ini menderita yang dinyatakan dengan helaan napas panjang dua kali tadi.
"Adik Hua......" panggil Liu Ceng.
"Kakak Ceng...!" panggil Hua Li
Entah siapa yang mendahului, akan tetapi keduanya berhenti melangkah dan saling pandang. Agaknya, hanya dengan menyebut nama itu saja sudah mewakili segenap perasaan yang menekan menyatakan diri mereka.
"Adik Hua, mari kita beristirahat sebentar." kata Liu Ceng sambil menatap gadis cantik yang membawa kecapi di punggungnya.
__ADS_1
"Baiklah!" balas Hua Li seraya mengulas senyumnya.
"Ayo kita duduk disana!" seru Liu Ceng seraya mengarahkan tangannya menunjuk ke arah bebatuan yang cukup besar.
Hua Li menganggukkan kepalanya dan mereka melangkahkan kaki menghampiri sekumpulan batu yang cukup besar dan mereka dapat duduk di atas batu itu.
Setelah mereka duduk, Liu Ceng mendapatkan ketenangan hatinya sehingga tanpa ketegangan seperti yang dia rasakan tadi.
"Adik Hua, cukup lama kita saling berpisah. Bagaimana keadaanmu selama ini?" tanya Liu Ceng seraya menatap raut wajah Hua Li yang makin cantik pada saat angin menerpa wajah pujaan hatinya itu.
"Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan kakak Ceng?" jawab sekaligus tanya Hua Li yang membalas tatapan kedua mata pemuda tampan dihadapannya itu.
"Aku juga baik-baik saja, Adik Hua." jawab Liu Ceng yang mengulas senyumnya dan tanpa sadar Hua Li mengalihkan pandangannya ke sekitarnya untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedang berubah memerah merona.
Demikian pula dengan Liu Ceng yang juga mengalihkan pandangannya, raut wajahnya saat ini juga seperti kepiting rebus.
"Kakak Ceng, kenapa kakak hanya seorang diri saja? Kenapa kakak Hong tidak bersamamu?" tanya Hua Li yang mengalihkan situasi dan pembicaraan.
"Adikku yang bengal itu. Entah kenapa ia menghilang dan tidak kembali padaku. Akan tetapi aku tidak khawatir adik Hua, karena ada adik Yauw yang mengejarnya dan sekarang tentu mereka sudah bersama-sama." jawab Liu Ceng yang masih mengulas senyumnya.
"Adik Yauw? Siapa dia kakak Ceng?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Panjang ceritanya Adik Hua. Akan tetapi yang lain itu nanti kuceritakan, sekarang berita yang amat menggembirakan dulu untukmu." jawab Liu Ceng.
"Eh? Berita baik untukku? Apa itu, kakak Ceng?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Ketahuilah bahwa Adik Hong itu adalah adik Misan kamu!" jawab Liu Ceng dengan semangat.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Hua Li yang semakin penasaran.
__ADS_1
"Tentu bisa karena Ayah dari Liu Hong adalah kakak dari mendiang ibumu yang bernama Siauw Yan." jawab Liu Ceng seraya menatap Hua Li.
"Ah, benarkah itu? Liu Hong yang nakal, dan galak itu kakakku Misanku? Ya, aku ingat kalau sahabat ibuku pernah bilang Ibu mempunyai seorang kakak berada di dekat kota Nan king, akan tetapi karena tak pernah bertemu, aku lupa lagi. Kiranya kakak Ibuku itu ayah kakak Liu Hong! Tapi bagaimana kakak Ceng dapat mengetahui hal itu,?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Aku ikut Adik Hong ke Pulau Ular untuk bertemu dengan ibunya yang sudah kita kenal. Ingat waktu kita berdua berkunjung ke pulau berbahaya itu?" jawab Liu Ceng seraya membuat Hua Li mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Tentu saja aku ingat. Ibu Liu Hong adalah Ban tok!" seru Hua Li seraya mengernyitkan kedua alisnya.
"Bukan, adik Hua. Ketika kita berkunjung ke sana, Ban Tok adalah gurunya, bukan ibunya." jawab Liu Ceng.
"Aku tidak mengerti. Kaubilang tadi Liu Hong itu puteri pamanku?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Benar. Paman Siauw Yan itu dahulu sebelum menikah dengan ibu kandung adik Hong adalah pacar guru Ban Tok. Nah, ketika Paman Siauw Yan menikah dengan gadis lain, guru Ban Tok menjadi marah. Ia mendendam dan menculik adik Liu Hong ke Pulau Ular dan diambil murid." jelas Liu Ceng.
"Ah, kasihan sekali kakak Hong!" gumam Hua Li.
"Tapi setelah dewasa guru Ban Tok menceritakan semua itu dan membiarkan Liu Hong berkelana bersamanya mencari kedua orang tua adik Hong dan tanpa sengaja mereka bertemu dengan ayahku, Liu Bok. Karena kedekatan adik Hong dengan ayahku, ayah telah mengangkat adik Hong sebagai anak yang berarti adikku dan diberi nama keluarga Liu. Kemudian mereka bertiga berusaha menyelamatkan Paman Siauw Yan dan isterinya yang ditawan Lim Bao. Akhirnya Paman Siauw Yan dan isterinya tinggal di Pulau Ular dan Ban tok menjadi isteri Paman Siauw Yan. Mereka menjadi satu keluarga yang bahagia dan tidak terdapat permusuhan lagi di antara mereka. Nah, ketika aku berkunjung ke Pulau Ular bersama adik Hong, Paman Siauw Yan yang mendengar cerita aku dan adik Hong tentang kamu, dan mendiang ibumu. Paman Siauw Yang begitu terkejut dan kemudian beliau menceritakan semuanya kepada kami. Adik Hong merasa terharu dan gembira bukan main ketika mendengar bahwa kau adalah kakak misannya dan ia ingin sekali segera bertemu dengan kakak misannya!" ucap Liu Ceng yang menjelaskan dengan panjang.
"Ha...ha.....! anak nakal itu kiranya adikku misanku sendiri! Akan tetapi, di mana ia sekarang dan siapa orang yang kau sebut Adik Yauw itu kakak Ceng?" tanya Hua Li yang mengernyitkan kedua alisnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...